
Rasa lelah masih mendera tubuh Aldi dan Nurmala, tapi pelanggan sudah menelepon mempertahankan pesanan mereka. Aldi segera memberi kabar kepada teman-teman karyawan bahwa pagi itu mereka sudah harus kembali bekerja. Aldi selalu bersemangat dengan pekerjaannya.
Aldi mengantar Nurmala ke toko, dan segera kembali ke ruang produksi.
Ting..tung..tung, belum selesai membuka seluruh bedak, handphone Nurmala berbunyi.
"Assalamualaikum, iya Kang Rasya aku sudah kembali, ini lagi buka toko!" kata Nurmala.
"Aku lagi di Bandung, ada oleh-oleh buat aku nggak Nur? aku mau mampir ke tempatmu" goda Rasya. Nurmala tertawa mendengarnya. Dia bercerita jika oleh-olehnya telah habis terbagi untuk saudara dan tetangga.
"Nur mau lanjut bersih-bersih dulu Kang, nanti keburu ada pembeli!" Nurmala mengakhiri pembicaraan kemudian kembali kepada aktifitasnya. Beberapa orang pembeli mulai melihat-lihat pajangan ada yang cocok lalu membayar ada juga yang ngeloyor begitu saja.
Hari semakin siang, sebuah mobil box berhenti di depan toko. Nurmala berdiri dari duduknya melongok arah pintu mobil.
"Hallo Nur?" Rasya turun dengan senyumnya yang mengembang.
"Aku pikir cuma bergurau ketika Akang bilang mau mampir ke sini!" sambut Nurmala.
"ini untukmu!" Rasya memberikan sebuah bungkusan.
"Kok terbalik, malah aku yang mendapatkan oleh-oleh?" Nurmala tersipu menerima bingkisan, Rasya berjalan santai dalam toko diikuti Nurmala.
"Silahkan duduk Kang!" Nurmala mempersilahkan Rasya duduk di depannya. Nurmala berada di belakang meja.
"Sudah satu Minggu aku tak pulang!" Kata Rasya sambil menghembuskan nafasnya bersama beban jiwanya. Nurmala mendengarkan keluh kesah Rasya tentang keluarganya.
"Sabar Kang, namanya orang hidup pasti banyak cobaannya, kalau lempeng saja nggak seru Kang!"
"Hahaha, bisa saja kamu Nur, andai saja aku lebih dulu menemukanmu Nur!"
"Maksudnya?" Nurmala ingin memperjelas perkataan Rasya.
"Nggak perlu dijelaskan maksudnya, lupakan kata-kata ku tadi!" ucap Rasya sambil memainkan ponselnya. Sejenak mereka saling diam tenggelam dalam berbagai macam aplikasi. Sebuah motor berhenti di depan toko. Mereka berdua melongok ke arah suara. Nihaya naik motor bersama Asti dalam gendongan. Nurmala segera berdiri menyambutnya.
"Hallo, assalamualaikum Asti?" sapa Nurmala. Asti langsung menoleh ke arah suara. Mulut kecilnya mulai naik, Nurmala semakin bersemangat mengajaknya bergurau.
__ADS_1
"Ikut Bude Yuk!" Nurmala mengulurkan tangan mengambil Asti dari gendongan ibunya.
"Mau cari apa Niha, tumben datang kemari?"
"Nggak ada, Aku cuma main-main saja, bosan di rumah!" kata Nihaya sambil mengangguk ke arah Rasya yang masih duduk sendirian di tempatnya. Nurmala bergerak kesana-kemari menghibur Asti, mengayunkan tubuh kecil itu, sehingga tawanya terkekeh.
Rasya tersenyum memandang Nurmala.
Nihaya berdiri sambil melihat produk-produk tas di etalase. Rasya masih duduk sambil memainkan ponselnya.
"Nurmala, aku pergi dulu ya?!' Rasya pamit pergi meninggalkan Nurmala dan sepupunya. Mobilnya sudah tak lagi terdengar derunya.
Nihaya bisa santai, ketika anaknya ada yang mengajak, Dia melihat sebuah kotak diatas meja.
"Kamu beli makanan banyak banget Nur?" kata Niha sambil membuka bungkusan yang ada di meja kerja Nurmala.
"Ambil saja, tapi jangan semua, itu tadi Kang Rasya bawa oleh-oleh untuk aku!"
"Wow, oleh-oleh dari pelanggan, Dia baik sekali ya? Sampai membawakan makanan segala, apakah tidak takut dimarahi istrinya?" Tanya Niha sambil melahap makanannya.
"Hati-hati kamu Nur tidak usah ikut campur, jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain, jangan main api, kebakar baru tahu rasa! kamu sudah punya Aldi!"
"Iya aku mengerti, kami cuma berteman saja kok, aku kasihan saja dengan kehidupan dia Niha!"
"Tidak usah kasihan sama laki orang, Aldi bisa cemburu, dia sudah berjuang mati-matian menikahi kamu Nur, ingat itu!" Niha mempertegas kata-katanya, dia melihat ada gejala mencurigakan dari sikap dan pandangan Rasya terhadap Nurmala.
"Iya, aku tahu!" ucap Nurmala sambil memainkan tangan Asti. Pandangan matanya tertunduk sambil merenungi kata-kata Nihaya.
"Benarkah Kang Rasya punya perasaan berbeda pada diriku, bukankah dia menganggapku sebagai teman ngobrol saja?" batin Nurmala bertanya. Ada rasa kasihan, penasaran dan rasa takut berkecamuk dalam pikirannya.
"Aaa...Huaaa...mama..mama!" rengekan Asti menyadarkan lamunan Nurmala.
"Uuus...cup..cup sayang!" ucap Nurmala.
"Ups, Sayaang!" Nihaya meraih tubuh Asti dari gendongan Nurmala lalu memberikannya ASI. Balita lucu itu tampak semakin menggemaskan ketika kaki dan tangan mungilnya terus bergerak, tapi mulutnya menyusu.
__ADS_1
"Nur, ingat pesanku! jangan main-main api!" Nihaya kembali menegaskan.
"Iya, iya...kamu sekarang semakin cerewet seperti ibukku sih Niha!" Nurmala sewot, Nihaya terkekeh ketika dibandingkan dengan Mak Samira.
Asti tertidur di pangkuan ibunya. Nihaya memilih untuk membawanya pulang. Asti tergendong kuat, pelan-pelan Nihaya menuntun sepeda, dengan lincah dia kemudikan motornya menyusuri jalanan. Nurmala memandang sepupunya dari kejauhan.
Nurmala berjalan kembali masuk dalam toko, mendekati cermin yang tergantung di salah satu sudut dinding. Dia tatap wajahnya lekat-lekat, "Ingat Nur Jangan main api!!" pesan Nihaya terngiang di benaknya.
Nurmala kembali duduk, suasana jalanan terlihat sepi dan lengang, dia kembali bermain dengan ponsel. Mengecek pesan, ada nama Rasya, Nurmala segera membukanya.
"Badanku demam" bunyi pesan itu. Nurmala tercenung, dia ingat pesan Nihaya, tapi hatinya merasa iba.
"Hallo, dimana posisi Kang Rasya sekarang?" Nurmala menelepon.
"Aku di hotel Nur!" suara Rasya lemah. Nurmala mengusap wajahnya bingung. Ingin menolong tapi tak mungkin kalau dia harus sendirian, apalagi tak ada sepeda.
"Dibuat istirahat saja Kang, mungkin hanya kecapekan!"
"Hehehe, iya Nur!" Nurmala menutup teleponnya, pikirannya berkecamuk, antara rasa kasihan dan larangan untuk mendekat dengan laki-laki selain suaminya.
"Hemmh, ada-ada saja!" Nurmala menghembuskan nafasnya berat. Bayangan tubuh Rasya tergolek sendirian di kamar hotel tanpa ada sanak saudara terpampang jelas di matanya. Bayangan Aldi yang bekerja keras ingin membahagiakan hidup Nurmala melekat di benaknya.
Nurmala duduk termenung sendirian dalam toko. "Mbak ini berapa harga, kok nggak ada tulisannya?" tanya seorang pembeli mengagetkan lamunannya. Dia segera bangkit dan melayani pembeli dengan sebaik-baiknya.
Siang semakin merambat sore, Aldi datang menjemput. "Assalamualaikum, Mbak mau beli tas untuk pacar saya yang mana ya?" goda Aldi.
"Apa sih, Akang punya pacar ya?"
"Punya, ini dia lagi menutup toko!" Nurmala tertawa mendengar gurauan suaminya. Tak lama kemudian Nurmala sudah berada di atas motor menggelayut di pinggang Aldi.
"Kang Aldi, Kang Rasya bilang dia sakit di hotel sendirian, maukah Akang menjenguknya?" ucap Nurmala, suaranya sedikit pias tenggelam dalam deru motor.
"Siapa yang sakit Nur?" Aldi meyakinkan pendengarannya.
"Kang Rasya!"
__ADS_1
"Rasya, dia laki-laki bisa urus dirinya sendiri!" kata Aldi, Nurmala terdiam menyetujui dan membenarkan pendapat suaminya.