Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Sore semakin mendekati malam, rumah Nurmala sudah sepi, karyawan sudah tak lagi tampak di ruang produksi.


Kring...kring..kring. Aldi segera berdiri dari duduknya saat mendengar dering telepon rumahnya berbunyi.


"Assalamualaikum, di sini rumah Aldiansyah?''


"Saya dari rumah sakit Setulus Hati, apakah bapak teman dari Bapak Rasya? suara seorang wanita di seberang telepon.


"Iya betul, dia pelanggan saya! ada apa ya?"


"Teman Bapak sedang di rawat di rumah sakit Pak, beliau meminta agar kami menghubungi Anda, keluarganya masih dalam perjalanan menuju Bandung" papar perawat di telepon. Sejenak Aldi terdiam mendengar kabar itu.Tapi kemudian bergegas mengambil kunci motornya.


"Aku ke rumah sakit dulu Nur!" katanya sambil melangkah menuju motor yang terparkir di teras.


"Aku ikut Kang!" teriak Nurmala.


"Nggak usah! tunggu di sini saja!" sahut Aldi yang sudah berada diatas motor, lalu melaju menuju tempat dimana Rasya dirawat. Nurmala hanya bisa terpaku memandangi kepergian Aldi bersama motornya. Rasa hati ingin berlari mengejar, tapi perintah suami dia harus tetap menjaga rumahnya.


"Semoga Kang Rasya baik-baik saja!" gumam Nurmala.


Aldi bergegas menuju bagian informasi, lalu berjalan cepat menuju ruang perawatan Rasya. Pelan-pelan dia membuka pintu, tampak tubuh Rasya tergolek lemas diatas dipan dengan selang infus tergantung di atasnya.


"Bagaimana kondisimu Mas?" tanya Aldi, Rasya tersenyum. Matanya mencari seseorang selain Aldi.


"Terima Kasih sudah datang Al, sendirian saja?" tanyanya lirih, Aldi mengangguk.


"Iya Nurmala jaga rumah. Bagaimana kondisi Mas, apa kata dokter?"


"Aku memang sudah lama menderita liver, dan lambung Al, sudah beberapa kali dirawat" suara Rasya terdengar sangat lemah.


"Seharusnya Mas tidak usah melakukan perjalanan bisnis, tinggal saja di rumah bersama keluarga!"


Rasya hanya tersenyum tipis, dalam hati dia tak ingin berlama-lama tinggal di rumah, menurutnya sudah berubah menjadi neraka, Aldi hanya bisa memandangi Rasya yang terdiam, dia tak ingin mengetahui rahasia pribadinya meskipun banyak pertanyaan.

__ADS_1


"Besok aku operasi Al?"


"Operasi?? operasi apa itu Mas? apakah keluarga mengetahuinya?"


"Diagnosa usus buntu dan harus dibersihkan agar tidak menginfeksi lainnya. Keluargaku baru akan datang besok" ucap Rasya sambil meringis menahan sakit di bagian perutnya. Aldi hanya bisa geleng kepala dan mengucap istighfar, orang yang selama ini dia kagumi karena kesuksesan bisnisnya ternyata memiliki banyak sekali masalah.


Sejenak mereka saling diam.


"Orang tua Mas Rasya masih lengkap?" tanya Aldi kemudian. Rasya menggeleng.


"Hanya ibu, Uuuh sakit sekali Al" Rasya meringis kesakitan.


"Astaghfirullah, aaakh....aakh!" keluh Rasya, Aldi bergegas ke ruang dokter jaga dan melaporkan kondisi Rasya. Dua orang bergegas masuk dalam ruangan tempat Rasya berbaring.


"Kondisi pasien mengharuskan segera operasi, apakah Bapak keluarganya?" tanya dokter kepada Aldi.


"Saya temannya Dok, keluarganya baru akan datang besok, karena jaraknya yang jauh, paling cepat tengah malam!" papar Aldi, Rasya hanya bisa meringis menahan sakitnya.


"Baiklah, untuk sementara hanya diberikan obat penahan nyeri dan anti infeksi, besok Kami jadwalkan operasi! Tenangkan diri dulu Pak Rasya sambil menunggu keluarga Anda!" papar asisten dokter.


"Bisa Pak, tapi harus ada pernyataan dari Anda sebagai pasiennya, kami tidak ingin disalahkan jika terjadi sesuatu dengan Bapak, meskipun itu juga bukan yang kami inginkan" papar Dokter. Aldi hanya berdiri di pinggir sambil menyimak perbincangan mereka.


Dalam hatinya merasa iba, dari pembicaraan Rasya seperti tidak bisa memastikan bahwa keluarganya akan datang esok hari. Setelah Dokter dan perawat keluar, Aldi mendekati ranjang Rasya.


"Apakah Mas Rasya tidak yakin keluarga Mas akan datang?" tanya Aldi kemudian, Rasya tersenyum mendengar pertanyaan Aldi.


"Aku tidak mengabari ibuku Al, aku hanya mengabari istriku, jika ada sisa cinta untukku mungkin dia akan datang tapi aku tidak ingin terlalu berharap. Uangku banyak, bisnisku sukses, tapi tidak dengan rumah tanggaku" Rasya tersenyum getir, Aldi tertegun mendengar cerita Rasya. Aldi tak menyangka jika kehidupan orang yang selama ini dia kagumi karena bisnisnya yang sukses ternyata menyimpan kepahitan.


"Minum obatnya dulu Mas!" pinta Aldi sambil menyodorkan air dan obat. Rasya mencoba untuk bangkit sambil menahan sakit. Aldi segera menopang punggungnya Rasya, dan membantunya kembali berbaring.


"Istirahatlah Mas, aku pulang dulu, nanti balik kembali!"


"Ajaklah Nurmala, biar ada teman!" Aldi hanya tersenyum kemudian melangkah pergi meninggalkannya Rasya terbaring sendirian. Suasana rumah sakit lengang, hanya ada beberapa perawat lalu lalang berjalan cepat dengan berbagai urusan. Tiba-tiba dari arah berlawanan beberapa perawat tergopoh-gopoh mendorong dipan dengan seorang pasien diatasnya. Aldi segera minggir memberi jalan.

__ADS_1


"Anisa??" sekilas Aldi melihat wajah pasien yang terbaring dengan luka berdarah di bagian kepala, tangan dan kakinya. Perawat mendorong cepat memasuki ruang ICU, Aldi masih terpaku dan tak percaya dengan penglihatannya.


"Benarkah itu Anisa??" dengan rasa penasaran Aldi menuju ruang ICU, tapi ruangan masih terisolasi, tak bisa melihat jelas. Sejenak Aldi menunggu, akhirnya seorang perawat keluar.


"Suster, apakah pasien itu bernama Anisa?" tanya Aldi.


"Kami belum tahu Pak, pasien tabrak lari, saya belum tahu identitasnya! permisi Pak!" perawat itu segera pergi, Aldi tak ingin lagi memburunya dengan pertanyaan, hawatir mengganggu pekerjaannya melakukan penyelamatan. Aldi melangkah pergi meninggalkan ruang ICU menuju parkiran, kemudian bergegas pulang.


Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang pasien yang baru saja dia lihat.


"Benarkah dia Anisa? Jika itu Anisa, mengapa dia sampai tertabrak di kota ini? Dia terlihat sendirian, lalu dimana suaminya?" batin Aldi terus berkecamuk sambil mengendarai motor.


Sesampainya di rumah,


"Assalamualaikum!" Aldi langsung menuju ruang belakang mencari sosok istrinya, tapi rumahnya tampak sepi.


"Nur, Nur!" Aldi memanggil.


"Iya Kang!" suara Nurmala terdengar dari kamar mandi. Aldi menunggu duduk di ruang tengah, tak lama kemudian Nurmala keluar menemui suaminya. "Sudah pulang? bagaimana kabar Kang Rasya?" tanya Nurmala.


"Haaah, parah! besok dia harus dioperasi!" Aldi menghembuskan nafas beratnya.


"Operasi??" Nurmala terkejut, karena kemarin dia masih melihat Rasya baik-baik saja seperti tak menderita sakit apapun. Aldi juga bercerita tentang keluarga Rasya, yang sebenarnya sudah Nurmala dengar dari cerita Rasya.


"Kasihan sekali nasib Rasya Kang!"


"Selesai sholat Maghrib bersiaplah untuk sementara kita menginap di rumah sakit, demi kemanusiaan Nur!" ucap Aldi. Nurmala menyetujui niat baik suaminya.


Mereka berjamaah sholat Maghrib, setelah itu Nurmala mempersiapkan berbagai kebutuhan dan memasukkannya dalam mobil. Setengah jam kemudian, mobil Aldi sudah terparkir di halaman rumah sakit Setulus Hati.


Aldi bergegas membawa peralatan menuju ruang perawatan Rasya, Nurmala mengikuti langkah suaminya.


"Assalamualaikum!" sapa Aldi. Rasya menoleh menjawab lirih salam Aldi, dia tersenyum bahagia dengan kehadiran Nurmala.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau datang Nurmala!" ucap Rasya dengan senyuman dari wajahnya yang tampak lebih pucat dari terakhir Nurmala lihat.


"Aku ke belakang dulu Nur!" Aldi pamit keluar kamar Rasya. Kemudian berjalan pelan, pandangannya tertuju pada ruang ICU. Pintunya terbuka, dua orang perawat mendorong pasien keluar ruangan. Hati Aldi terkesiap dengan penuh rasa penasaran. Dia segera mendekat.


__ADS_2