
Samsudin dan keluarganya bergerak keluar masjid bersama dengan sanak saudara dan tetangga satu kampung setelah selesai melaksanakan sholat Ied. Mereka bersalaman saling anjangsana ke rumah warga.
"Ini anak sulungmu Kang Samsudin?gelis pisan! ayo Neng dimakan kuenya!" kata seorang tetangga saat Samsudin bertandang.
"Ini Nurmala? pakai jilbab makin gelis atuh Neng!" kata guru ngaji Nurmala.
Seperti biasa tak banyak kata yang keluar dari mulut gadis pendiam itu, dia hanya tersenyum ataupun tertawa sambil mengucapkan terima kasih.
Menjelang siang mereka sudah kembali ke rumah dengan kaki leleh setelah keliling kampung. Mereka duduk berbincang sambil kipas-kipas badan mereka yang gerah. Belum habis lelah mereka, sebuah mobil Suzuki carry masuk di halaman rumah Samsudin.
"Assalamualaikum" Terdengar suara di depan pintu.
"Waalikum salam! Eee Kang Kodir! mari-mari silahkan masuk!" Samsudin mempersilahkan juragan ayam itu duduk di ruang tamu. Tampak bersamanya istri, anak bujang Kodir, dan seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas 5 SD.
"Buk, ada kang Kodir!" Samsudin memanggil Istrinya, Samira juga mengajak anaknya untuk bersalaman.
Pemuda itu memandang tajam ke arah Nurmala saat bersalaman. "Ini Deni, anak perjakaku Kang, sekarang sudah mandiri punya stand sendiri di pasar!" Kodir memperkenalkan anaknya. Samsudin manggut-manggut mendengar cerita Kodir.
"Anakmu sudah punya calon Kang?" pertanyaan Kodir membuat Samsudin tergagap.
"Maksudnya Nurmala? Dia masih ingin mencari pengalaman Kang, masih kerja di Bandung!" Samsudin tidak ingin berterus terang, karena semua belum jelas tentang calon menantunya.
Bagi Kodir jawaban itu menunjukkan Samsudin belum ingin segera memiliki menantu. Setelah berbasa-basi, dia pamit meninggalkan rumah Samsudin.
"Lihatlah Deni Nur! ganteng, dia juga sudah punya usaha sendiri!" kata Samira sepeninggal keluarga Kodir dari rumahnya. Nurmala hanya meringis mendengar kata-kata ibunya.
"Nur! kamu ini dibilangi malah tertawa!" Samira kesal dengan sikap cuek Nurmala.
"Ah sudahlah Bu! nggak perlu maksa-maksa Nurmala, nanti kalau sudah datang jodohnya dia pasti juga menikah!" Bela Samsudin yang disambut dengan pelukan sayang dari putrinya.
"Hemmmh, manjakan terus anakmu itu Pak!!" Samira sewot. Samsudin hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar omelan istrinya. Nurmala tersenyum melihat bapaknya yang kena sekak ibunya.
"Assalamualaikum!" seorang tamu mengucap salam di teras rumah.
"Waalikum salam, Nurmala, bukakan pintunya!" perintah Samira yang sedang menyantap makanan. Nurmala bergegas ke ruang depan.
Ceklek.
__ADS_1
"Kang Aldi??!!" Nurmala merasa excited dengan kehadiran Aldi di hari pertama lebaran, dia membayangkan Aldi akan datang di hari ke-tiga atau ke-empat, ini lebih cepat dari yang dia bayangkan.
Senyum Aldi mengembang saat Nurmala sendiri yang membukakan pintu untuknya.
"Mari masuk Kang!" Nurmala mempersilahkan Aldi duduk, kemudian bergegas kembali ke ruang belakang mengabari bapak ibunya kalau Aldi datang.
Samsudin yang sejak kemarin penasaran dengan Aldi rela meninggalkan nasi ayamnya di meja makan, sementara Samira masih menghabiskan sisa lauknya.
"Assalamualaikum Pak!" sapa Aldi sambil bersalaman saat Samsudin mendekat. Pandangan Samsudin menyapu tubuh Aldi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aldi tertunduk, dia merasa Nurmala sudah bercerita tentang dirinya.
"Tidak pulang kampung Kang Aldi?" tanya Samsudin kemudian.
"Tidak Pak, belum waktunya" jawab Aldi sopan.
Samsudin tersenyum, dia sekarang tak lagi heran mengapa Nurmala resah dan gelisah karena teringat kekasihnya. Dia memang tampan dan memiliki aura penuh cinta.
"Assalamualaikum Buk!" Aldi bersalaman dengan mencium punggung tangan saat Samira masuk ke ruang tamu. Ekspresi datarnya membuat Aldi sedikit gugup.
"Silahkan Kang!" pinta Nurmala setelah meletakkan teh hangat di meja depan Aldi.
"Naik apa kemari Kang?" tanya Samira.
Samira terdiam mendengar jawaban Aldi. Dalam bayangan Samira, Nurmala bisa memiliki suami yang kaya dan punya mobil sendiri, bukan naik bis terus ngojek.
"Saya tinggal dulu ke belakang Kang Aldi, silahkan mengobrol sambil dinikmati kue-kue buatan Nurmala!" Samsudin ingin memberi kesempatan anaknya melepas rindu.
"Aku juga ke belakang dulu ya, masih lama di sini kan? sebab bus ke Bandung baru ada esok pagi" papar Samira.
"Oh begitu ya buk! jika demikian saya harus mencari penginapan atau losmen untuk menginap malam ini!" kata Aldi, tapi hatinya berharap ditawari menginap di rumah Nurmala.
"Kita lihat nanti sajalah, silahkan dinikmati, saya mau istirahat dulu" Samira pamit, berjalan ke ruang belakang meninggalkan Nurmala dan Aldi.
"Jam berapa berangkat dari Bandung Kang?" tanya Nurmala setelah sesaat mereka terdiam.
"Pagi, seperti kamu berangkat kemarin!"
"Diminum tehnya Kang!" pinta Nurmala.
__ADS_1
"Oh iya!" Aldi mengangkat cangkir lalu menyeruputnya dengan tenang.
"Kurang manis ya Kang?"
"Sudah cukup, kalau kurang kan ada Kamu!"
Aldi mulai mengeluarkan rayuannya.
"Kok ada Aku?" Nurmala bingung.
"Iya, kalau tehnya kurang manis memandangmu saja, semua yang pahit di dunia ini akan menjadi manis Nur!"
"Aaaah..gombal Kamu Kang!"
Nurmala tersipu malu, Aldi hanya senyum-senyum melirik Nurmala dengan penuh kemenangan. Saat mereka asik mengobrol Samsudin kembali masuk ke ruang tamu.
"Ayo Kang Aldi mari dimakan kuenya, jangan didiemin aja atuh!" kata Samsudin sambil mengeruk kacang yang ada di toples.
"Ini buatan Nurmala Kang Aldi!" ungkap Samsudin sambil mengunyah kacang.
"Aku cuma menggoreng Pak, yang membuat Ibuk, nanti kalau ibuk dengar bisa dimarahi lho Pak!" kata Nurmala, yang disambut dengan tawa Aldi dan Samsudin.
Setelah bapaknya datang Nurmala pamit ke ruang belakang, dia ingin menyiapkan makan untuk Aldi. Nurmala membiarkan Aldi mengobrol dengan bapaknya.
Dua pria beda usia itu berbincang, saling mengenal lebih dekat dengan asal usul daerah, jumlah keluarga, pekerjaan dan cerita tentang pengalaman mereka dalam dunia mencari nafkah keluarga. Mereka merasa cocok antara satu sama lain. Samsudin menilai, Aldi sudah memiliki kriteria prinsip calon suami Nurmala.
"Mari Kang, kita makan dulu!" pinta Nurmala setelah semua dia siapkan.
"Silahkan Kang Aldi, seadanya sedayanya!" kata Samsudin mempersilahkan.
Aldi pun berdiri mengikuti Nurmala berjalan ke ruang belakang. Dia merasakan suasana rumah itu, sederhana tapi tampak bersih dan sejuk. Sayuran dan buah-buahan terawat dengan baik di halaman belakang rumah Nurmala. Aldi bisa menilai bapak Samsudin orang yang rajin bekerja.
"Ibuk kerja apa Nur?" tanya Aldi saat mereka selesai makan.
"Ibu rumah tangga saja Kang, merawat adik-adik!" jawab Nurmala. Mereka kembali ke ruang tamu. Samsudin masih terlihat duduk bersandar di sana.
"Pak, Pak! kalau mengantuk pindah saja ke kamar!" Nurmala membangunkan bapaknya yang terlelap di kursi.
__ADS_1
"Ehmm, ya ya!" jawab Samsudin setengah sadar. Kemudian beliau berdiri terhuyung menuju ruang tengah, dan menghempaskan tubuhnya diatas dipan.