
Sepuluh bulan berlalu, Aldi masih dengan kegiatannya mengumpulkan uang untuk meminang Nurmala. Ingin rasanya pindah kerja dengan gaji besar, tapi mencari kerja tidak semudah yang dibayangkan, kalaupun ada harus memulai dari nol dengan gaji rendah, dan akan menambah lamanya waktu terkumpul 5 juta.
Uang yang Aldi kumpulkan baru 3 juta, sementara Nurmala akan segera kembali untuk mudik. Aldi menargetkan, ketika Nurmala pulang kampung nanti, dia bisa datang meminang dengan membawa uang yang telah dia janjikan untuk ibunya.
Aldi semakin giat mencari kerja tambahan, kadang dia ikut kerja borongan menjahit tas di rumah Rizal saat libur kerja, kadang juga ngojek di pangkalan. Hidupnya semakin tidak teratur dan kurang istirahat.
"Kang Aldi, jaga kesehatanmu Kang!" tegur Nurmala yang melihat Aldi berwajah pucat dan sorot matanya terlihat cekung kurang istirahat.
Tak banyak kata yang keluar dari mulut Aldi, dia hanya tersenyum dan bilang tidak perlu hawatir.
Suatu sore setelah pulang dari pabrik, Aldi bermaksud pergi ke pangkalan, tapi dia urungkan niatnya, karena tiba-tiba tubuhnya menggigil padahal cuaca sedang gerah.
"Rudi, to-long ambilkan selimut Rud!" kata Aldi sambil membaringkan tubuhnya yang menggigil diatas kasur. Rudi yang baru datang dari tempat kerja bergegas mengambilkan selimut di almari.
"Badanmu panas Al!" Rudi menyentuh kulit tangan Aldi, tubuhnya bergetar di balik selimut.
Rudi keluar ke toko obat, kemudian kembali ke kamar dengan segelas air putih.
"Minum obat dulu Al!" Rudi membantu Aldi minum obat. Kemudian duduk di kursi dalam kamar, memandang wajah pucat Aldi dengan tubuhnya yang masih menggigil. Iba Rudi melihat kondisi teman satu kontrakannya itu.
Beberapa lama Rudi duduk disana menunggu Aldi, ketika tubuhnya sudah mulai tenang, Rudi keluar untuk mandi dan melakukan beberapa hal pribadi, kemudian keluar dengan motornya menuju kontrakan Nurmala.
Nurmala dan Nihaya menjenguk kondisi Aldi yang terbaring lemah. Nurmala menempelkan kompres di kening Aldi.
"Tunggu aku Nur!!" Aldi mengigau di suhu tubuhnya yang tinggi. Nurmala tak kuasa menahan air matanya yang meleleh perlahan di pipi. Dia terharu juga sedih.
Terharu karena cinta Aldi yang begitu besar, sedih melihat kondisinya yang harus susah payah mengumpulkan uang permintaan ibunya yang tak kunjung genap, dan sekarang dia tumbang karena tubuhnya menyerah jika dipaksa lagi untuk bekerja.
"Nurmala, tunggu aku Nur!!" igauan Aldi kembali terdengar. Nihaya juga menyeka air matanya. Nurmala terus mengganti kompresnya.
__ADS_1
Malam semakin larut.
"Antarkan kami pulang dulu Rud, sudah malam!" pinta Nihaya.
"Aku kira kamu akan tidur bersamaku!"
"Iiiih, genit!! sempat-sempatnya mau cari keuntungan dalam kondisi teman sakit!" Nihaya gemes dengan sikap Rudi. Sebuah cubitan mendarat di lengan Rudi, membuat dia meringis kesakitan.
"Aw,aw,aw sakit Niha! aku cuma becanda!" Rudi menyerah, Nurmala hanya bisa ikut meringis merasakan nyerinya cubitan Nihaya. Sambil mengelus lengannya, Rudi mengantarkan dua gadis itu pulang ke kontrakan.
"Aku titip Rudi, tolong jaga Kang Aldi!" pinta Nurmala sesaat sebelum masuk kontrakan. Rudi menyanggupi permintaan Nurmala, tak tega rasa hatinya membiarkan dua orang yang saling mencintai itu belum juga bisa bersama.
Rudi pulang ke kontrakan, menengok Aldi yang masih beristirahat, kemudian dia tinggal tidur di kamarnya. Sepanjang malam itu Aldi di kamar sendirian, sesekali Rudi menengok, membetulkan selimut yang menutupi tubuh Aldi.
"Jam berapa Rud?" gumam Aldi saat Rudi mendatanginya. Rudi mengecek suhu tubuh Aldi, masih tinggi.
"Minum!" pinta Aldi lirih. Rudi mengambilkan air dengan memakaikan sedotan. Beberapa teguk air terdengar masuk dalam kerongkongan Aldi membuatnya lebih tenang, Aldi memejamkan matanya, kemudian Rudi kembali ke kamarnya.
Pagi tiba,
"Al, bangunlah aku antar kamu ke dokter!" pinta Aldi. Tak ada suara dari mulut Aldi hanya tubuhnya saja yang berusaha untuk bangkit.
"Kuat?" tanya Rudi memastikan jika Aldi kuat untuk dibonceng motor. Aldi hanya mengangguk. Dengan satu tangan menggelayut di pundak Rudi, Aldi tertatih berjalan menuju motor. Tubuh panas Aldi menempel di punggung Rudi yang mengemudi menuju ke rumah Dokter.
Dokter memeriksa tekanan darah, detak jantung, lambung dan Aldi juga diminta membuka mulutnya. Dokter manggut-manggut memperhatikan gejala yang dimiliki Aldi.
"Temanmu kena typus Mas, tolong jaga pola makan, istirahat yang cukup dan jangan setres!" kata dokter kepada Rudi. Tak ada yang bisa Rudi katakan, selama ini semua yang dinasehatkan dokter benar adanya.
Setelah menerima obat dan membayar jasa pengobatan, Rudi kembali membawa Aldi pulang. Sesampainya di sana ternyata Nurmala dan Nihaya sudah menunggu di emper kontrakan.
__ADS_1
"Bagaimana kata Dokter Rud?" tanya Nurmala.
"Thypus!"
"Astaghfirullah, benar dugaanku, ini aku bawakan bubur, biar bisa cepat minum obat!" Nurmala mengantarkan Aldi kembali ke kamar, kemudian menyuapinya dengan bubur dan meminumkan obat.
"Izinkan ke pabrik kalau aku sedang sakit Nur!" pinta Aldi lirih.
"Iya Kang, Istirahatlah! tidak usah memikirkan kerja ataupun cari uang, yang penting Akang bisa cepat sehat!, Nur sedih melihat kondisi Kang Aldi seperti ini" Nurmala memelas, air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Kamu akan sabar menungguku kan Nur?" ucap Aldi lirih dengan pandangan mata sayu.
"Iya Kang, Nur Janji akan menunggu!" kata Nurmala sambil menyeka air matanya. Tangan Aldi menggapai tangan Nurmala dan menggenggamnya dengan erat.
"Terima kasih Nurmala, pergilah! nanti kamu telat!" pinta Aldi agar Nurmala segera berangkat ke pabrik. Nurmala mengangguk, dia melangkah pergi setelah Aldi melepaskan genggaman tangannya.
Di luar kamar Nihaya sedang berbincang dengan Rudi, kemudian mereka berdua diantarkan langsung menuju pabrik. Rudi juga langsung menuju tempat kerjanya.
Saat jam istirahat siang, Rudi menyempatkan diri menengok Aldi yang masih terbaring di kamar. "Aldi, makanlah terus minum obat!"
Rudi meletakkan lontong di meja, kemudian kembali lagi ke kantor.
Meski terhuyung, Aldi bangkit dari tidurnya, mengambil lontong, mengunyah dua potong, minum obat lalu kembali tenggelam dalam selimutnya. Inilah saat paling menyedihkan bagi seorang perantau, sakit dalam kondisi sendirian.
"Mak, Pak, maafkan Aku!" ucapnya dalam kondisi mata terpejam. Ingatannya terbayang ibu yang merawat dan menjaga dirinya saat sakit. Tak terasa air mata meleleh di pipinya. Sungguh selama ini Aldi merasa telah mengabaikan mereka dengan tanpa memberi kabar keberadaanya sekarang.
Minggat dari rumah dengan membawa cincin emaknya adalah kesalahan terbesarnya. Aldi berjanji pada dirinya sendiri tak akan kembali pulang sebelum bisa melipat gandakan cincin itu, meski tanpa diminta. Tapi kondisinya kini semakin rumit untuk bisa pulang, karena dia punya janji dengan keluarga Nurmala.
"Tuhaan, ampunilah hambaMu ini!" bisik lirih dari mulut Aldi.
__ADS_1