Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Resign


__ADS_3

Malam itu Aldi bisa tidur lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya. Perutnya yang biasanya panas seperti sudah lebih adem, Aldi menghentikan obat-obatan dari dokter dan memilih ramuan dari Rizal.


Nurmala bisa sedikit lega karena Aldi sudah bisa makan lebih banyak dari biasanya. Wajahnya juga sudah lebih segar, senyumnya juga lebih manis dibandingkan hari kemarin.


Siang hari Rizal kembali datang dengan ramuannya, dan meminta Aldi untuk menghabiskan satu gelas dari botolnya.


"Ini terbuat dari apa sih Zal, aku merasa lebih sehat setelah minum ini!" tanya Aldi penasaran.


"Itu ramuan rahasia, tidak boleh diberitahukan sebelum pasien benar-benar sembuh" Rizal menyembunyikan komposisi obatnya, dia takut Aldi tidak akan mau lagi meminumnya.


"Sudah ya, aku pulang dulu, banyak pesanan yang harus segera aku bereskan!" kata Rizal yang sudah bersiap pergi.


"Apakah besok kamu akan kembali kesini dengan ramuan itu lagi?"


"Emm, sepertinya satu gelas lagi sudah cukup!" Rizal mengelus kaki Aldi yang duduk bersandar di dipan.


"Terima Kasih Zal!" kata Aldi mengiringi langkah Rizal keluar kontrakan. Dia membalasnya dengan lambaian tangan.


Aldi berdiri, lalu menatap cermin. Satu Minggu lebih terbaring sakit membuat rambut yang tumbuh di kepala dan di wajahnya tak terurus. Aldi menyisir rapi rambutnya yang semakin gondrong, kemudian mengambil foam krim cukur. Pelan-pelan Aldi membabat habis jambang, jenggot dan merapikan kumis tipisnya. Senyum percaya dirinya mulai mengembang.


"Aku pasti datang ke rumahmu lagi Nurmala!" bisiknya lirih di depan cermin. Aldi merapikan kamarnya, merendam baju kotor lalu mencucinya.


"Alhamdulillah, kamu sudah sehat Al?" Rudi sangat senang melihat Aldi yang duduk di ruang tamu dengan wajahnya yang bersih dan rapi. "Alhamdulillah Rud!" Aldi tersenyum.


"Ini makanlah!" Rudi menyodorkan bungkusan yang berisi lontong dengan kuah soto dalam kantong plastik. Aldi berdiri dengan membawa makanannya.


"Aku kembali ke kantor Al!" Rudi keluar kontrakan sambil bersiul gembira. Hatinya lega. Aldi tersenyum mendengar siulan Rudi yang sudah seminggu lebih tidak pernah dia dengar.


Pelan-pelan Aldi menuang kuah soto hangat itu dalam mangkuk, kemudian memotong lontongnya kecil-kecil. Aldi duduk dengan semangkuk soto hangat. Dia sangat bersyukur dikelilingi orang-orang baik. Inilah rezeki terbaiknya.


Matahari terus merambat mendekati sore, Nurmala kembali mengunjungi Aldi sepulang dari pabrik.


"Kang Aldi?? Alhamdulillah ya Allah, engkau kembalikan wajah tampannya!" Seru Nurmala sangat gembira melihat wajah Aldi yang bersih, rambutnya tersisir rapi duduk di depan kontrakan. Nurmala merasa seperti menemukan oase di padang pasir tanpa batas.


"Selamat sore Nur, Niha!" senyum Aldi menyapa Nurmala dan Nihaya yang datang menjenguk.

__ADS_1


"Aku bawakan bakso Kang! makan yuk!" mereka masuk, Nurmala mengambilkan mangkuk dan sendok, kemudian menuangkan baksonya.


"Silahkan Kang!" Nurmala menyodorkan mangkuknya di depan Aldi.


"Cuma satu mangkok? kalian bagaimana?"


"Nggak apa-apa Al, makan saja! Kami sudah makan kok!" Nihaya meminta Aldi menyantap makanannya sendirian.


"Nggak disuapi Nur?" tanya Aldi melirik.


"Idiih, manja!" Nurmala tertawa.


"Bagaimana kondisi pabrik?" tanya Aldi kepada kedua gadis yang duduk di hadapannya sambil menyantap bakso di mangkoknya.


"Yah, biasa Kang, karyawan banyak mengeluhkan tentang kenaikan gaji, tapi tetap tidak di dengar" papar Nurmala.


"Kapan kamu mulai masuk kerja Al?" tanya Niha


"Mungkin besok!" Aldi merasa tubuhnya sudah sehat, Dia ingin segera bekerja dan mengumpulkan uang lagi. Beberapa lama berbincang Nurmala dan Nihaya pamit pulang.


Motornya terus melaju menuju pabrik.


"Hai Mas Aldi, sudah sehat?" tanya satpam penjaga pintu gerbang. Aldi tersenyum, menjawabnya dengan anggukan. Motor dia parkir kemudian menuju ruang administrasi keuangan.


"Mas Aldi, sudah sehat?" tanya Mirna bagian administrasi keuangan.


"Alhamdulillah, Mirna aku mau ambil gajiku!" pinta Aldi. Mirna mengambilkan amplop dan buku tanda tangan penerimaan.


"Kok cuma segini Mirna, nggak salah itung?" Aldi terkejut melihat amplopnya yang tinggal setengah dari gaji seharusnya.


"Mas Aldi kan tidak masuk dua Minggu, jadi ya begitu aturannya Mas, harus dipotong!" papar Mirna.


"Mirna, aku tidak masuk bukan karena bolos kerja, tapi karena sakit yang tidak aku inginkan, kok tega-teganya gajiku dipotong!?" keluh Aldi dengan raut muka memerah.


"Aku nggak ngerti mas, aku cuma melaksanakan tugas dari manager, kalau Mas Aldi mau protes jangan ke Saya, salah tempat!" Mirna ikut emosi menanggapi sikap Aldi. Mendengar argumentasi Mirna Aldi berdiri sambil menarik amplopnya, lalu pergi meninggalkan Mirna di ruangannya.

__ADS_1


Aldi melangkah cepat melewati koridor pabrik menuju ruang manager.


Tok..tok..tok! "Masuk!" suara perintah dari dalam ruangan. Aldi membuka pintu pelan kemudian duduk di depan manager.


"Ada apa Aldi, Kamu sudah sehat, aku dengar sedang sakit?" Tanya manager dengan nada dingin sambil memainkan pena.


"Saya ingin mempertanyakan gaji saya Pak, mengapa tinggal separoh, sakit bukan keinginan saya, seharusnya perusahaan ini memberi kompensasi, tapi malah memangkas gaji karyawan begitu saja!" Kata Aldi dengan matanya yang penuh emosi.


"Saudara Aldi, ini keputusan pemilik perusahaan, kalau anda tidak suka silahkan keluar!" manager menatap tajam.


"Baik, mulai hari ini saya keluar dari perusahaan ini! Terima kasih atas kerja sama selama ini!" Aldi berdiri mengalami manager yang terpaku dengan keputusan tegas Aldi. Selama ini Aldi memiliki reputasi dan kinerja yang sangat baik, kini perusahaan akan kesulitan mencari orang seperti dia.


Aldi melangkah pasti meninggalkan pabrik, dia hanya melambaikan tangan dengan panggilan beberapa orang yang menyapanya dari kejauhan. Aldi menuju parkiran, menggeber motornya melaju di jalanan menuju rumah Rizal.


"Hai Al, Alhamdulillah kamu sudah sehat!" sapa Rizal. "Ngapain muka Lo, sudah ganteng tapi muka ditekuk begitu?!"


"Aku ikut kerja kamu saja Zal, aku keluar dari pabrik!" jawab Aldi lesu.


"Mengapa keluar? Bukankah prestasimu bagus dan bisa dipromosikan?"


"Dipromosikan apa, enam tahun kerjaku terus menerus tanpa bolos sekalipun sama sekali tidak dihargai! Ada orang sakit tidak ada yang jenguk, gaji dipotong tinggal separuh, dasar kapitalis!" gerutu Aldi.


"Hemmmh, tenangkan dirimu Al, tidak usah terlalu dipikirkan, nanti typusmu kambuh lagi!, kerja saja di sini, aku kekurangan tenaga" Rizal menepuk bahu Aldi.


"Terima kasih Zal, aku juga ingin belajar berbisnis darimu, bisa?" tanya Aldi, Rizal tersenyum, mengangguk memberi harapan. Semenjak saat itu Aldi tidak lagi bekerja di PT KLAMBIKU, tapi ikut kerja borongan di home industri tas milik Rizal.


"Rizal, aku penasaran dengan komposisi ramuan obat yang kamu berikan kemarin, enak di badan!"


"Beneran mau tahu?" Aldi mengangguk.


"Labu, kunyit diparut halus, disaring dengan cacahan cacing tanah."


"Cacing tanah???" Aldi melongo, bulu kuduknya berdiri membayangkan geliat cacing dalam perutnya. Aldi menelan ludahnya sendiri.


"Tidak usah dibayangkan, yang penting manjur berkhasiat! Sudah-sudah kerja yuk!"

__ADS_1


"Siap Bos!" Aldi mengangkat tangannya, kemudian berdiri mendekati mesin yang biasa dia gunakan.


__ADS_2