Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Sintya


__ADS_3

Keesokan paginya mereka berangkat ke Jakarta, sepanjang perjalanan Nurmala dan Aldi lebih banyak mendengarkan nasihat dari Pakde Jarno, meskipun banyak perbedaan pemikiran tapi mereka lebih memilih untuk mengalah daripada ribut.


Menjelang tengah hari mereka tiba di tujuan. Aldi bergegas turun dari mobil untuk membuka pintu untuk Pakde Jarno, "Sepi?" gumam Nurmala ketika turun dari mobil.


"Assalamualaikum!" seru Pakde Jarno, tapi belum juga ada jawaban yang terdengar. Nurmala mengulangi ucapan salam, baru kemudian pintu rumah itu terbuka.


Seorang wanita muda muncul dari balik pintu, dan mengenali Pakde Jarno dan mempersilahkan mereka masuk.


"Oek...oek...!" suara bayi terdengar dari sebuah kamar.


"Kamu sendirian di rumah Tini?"


"Ada Ibu Pakde, masih keluar sebentar" Tini masuk kamar untuk mengambil bayinya dan dibawa ke ruang tamu. Nurmala tampak bersemangat dan ingin menggendong bayi itu, tapi anak itu belum mau berhenti menangis.


"Eeh, ada Kang Jarno!" wanita setengah baya muncul dari ruang belakang sambil menggendong anak balita berusia 1 tahun. Nurmala terdiam memandangi anak itu. "Inikah anak yang Pakde maksud?" batin Aldi dan Nurmala.


"Ayo nak salim dulu Sintya" bujuk neneknya, tapi anak itu tetap menyembunyikan tangannya dan tak ingin bersalaman. Cantik, sangat cantik tapi ada kekurangan di jumlah jarinya. "Adik-adik!" Sintya minta turun untuk pergi ke adiknya. Anak kecil itu tertatih menuju ruangan dimana ibunya berada.


"Ini keponakanku, Aldi dan Nurmala" Pakde mengenalkan. "Mereka aku ajak melihat Sintya, mereka sudah lama menikah tapi belum juga memiliki anak jadi ..."

__ADS_1


Belum selesai pakde Jarno mengatakan maksud kedatangan mereka bertiga, ada seseorang mengendarai motor berhenti di depan rumah, dan dia terburu-buru masuk dalam rumah.


"Dimana anakku?!" ucap pria itu mengagetkan Aldi dan Nurmala.


"Dia bukan anakmu!" kata Tini yang keluar dari dalam kamar.


"Haaah! aku tak peduli, Sintya...sini sayang!" pria itu membujuk anak kecil yang ketakutan melihat orang-orang dewasa bersuara keras seperti orang bertengkar.


"Pergi dari sini! kamu selalu membuat kekacauan di rumah ini!" Pria itu seperti tak peduli, malahan berusaha merebut Sintya. Aldi, Nurmala berdiri.


"Heh, kamu bisa dengar tidak kalau disuruh pergi geblek?! Suara lantang Pakde menghentikan pertengkaran. Aldi menarik tangan pria itu, dan memintanya duduk, tapi pria itu menepis tangan Aldi.


"Apa harus aku telepon polisi lagi, kamu ingin masuk bui lagi?!!" Tini melawan.


Nurmala dan Aldi hanya terbengong melihat kejadian di depan mereka. Pria itu mereda saat mendengar kata polisi, tanpa banyak bicara dia ngeloyor keluar dan memacu sembarangan sepeda motornya.


Beberapa saat mereka terdiam, hanya tangisan bayi dan Sintya yang sedih dan ketakutan.


"Maaf atas kejadian yang tak terduga ini Kang, Mas, Mbak!" Emak Tini menceritakan mantan anaknya, ayah Sintya.

__ADS_1


Menjelang sore mereka pamit pulang.


"Bagaimana keputusan kalian setelah melihat anak itu, cantik bukan?" tanya pakde Jarno. Aldi terdiam, begitu juga Nurmala, mereka saling pandang.


"Eh..iya Pakde, akan Kami pikirkan dulu!" Aldi melirik ke arah Nurmala yang diam dengan pikirannya.


"Baiklah, terserah kalian!"


*****


"Aku nggak mau ribet dengan latar belakang anak itu Kang, bagaimana kalau anak itu diculik bapaknya itu, aku takut Kang!" Nurmala ragu dan takut untuk mengadopsi Sintya.


"Anak itu kan tidak tahu apa-apa Nur, anak itu cantik dan menggemaskan, rumah ini akan hidup dengan adanya seorang anak" bujuk Aldi.


"Nggak!"


"Pikirkan lagi Nur!"


"Enggak!! aku sudah ambil keputusan, titik! Aku masih bisa memiliki anak Kang, usaha lagi, aku dengar di kabupaten sebelah ada tukang pijat hebat, banyak yang sudah berhasil memiliki anak setelah dari sana"

__ADS_1


Aldi terdiam tak berani membahas lagi tentang Sintya, dia memilih keluar ngopi di luar bersama tukang ojek. Dia menyerah dengan keputusan Nurmala.


__ADS_2