Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Sinar Mata Berbeda.


__ADS_3

Matahari semakin terik saat Aldi pulang ke kontrakan, matanya sangat mengantuk. Rasanya ingin menengok Nurmala di rumah sakit tapi nanti malam dia harus kembali bertugas.Setelah masuk kamar Aldi langsung merebahkan tubuhnya di kasur, dan terlelap.


Sementara itu Nurmala dan Nihaya masih berada di ruang perawatan. Mata Nurmala tampak terpejam, selang infus masih terpasang di tangan kirinya. Nihaya terlelap di atas tikar yang dia bawa dari kontrakan.


Hingga matahari condong ke barat, mereka belum juga terbangun. Sinar matahari sore yang menyilaukan masuk ke kamar, membuat Nurmala terjaga. Fisiknya masih lemah.


"Niha..Niha!" Nurmala mencari Nihaya, tapi Nihaya sangat nyenyak di tidurnya yang lelah. Akhirnya Nurmala turun sendiri dari tempatnya berbaring. Pelan-pelan dia berjalan sambil memegang infus yang tinggal setengah.


Tok..tok..tok.., Aldi muncul dari pintu. meletakkan bungkusan, lalu mendekati Nurmala yang susah payah turun dari ranjang.


"Mau kemana Nur?"


"Ke kamar mandi" jawab Nurmala sambil berjalan terhuyung, Aldi segera membantunya agar tidak terjatuh.


"Aku bisa kok!" Nurmala menolak bantuan Aldi.


"Iya, aku bantu pegang infusnya" kata Aldi.


Aldi meletakkan infus di sebuah paku dinding kamar mandi, kemudian kembali keluar.


Beberapa lama Nurmala di kamar mandi.


"Nurmala??" Niha terbangun dari tidurnya.


"Dia ke kamar mandi, jaga kok tidur terus kamu Nihaya?!" tegur Aldi.


"Mas Aldi??, kok tiba-tiba di sini??"


"Sudah tadi, kamu tidurnya kelamaan!"


"Hehe, ngantuk sekali Mas, semalam kan nggak tidur!" kata Nihaya cengengesan.


Greek..! Nurmala keluar dari kamar mandi, Niha bergegas membantunya kembali ke ranjang. Aldi merasa lega melihat wajah Nurmala sudah lebih segar dibandingkan pagi tadi.


"Kata dokter besok sudah boleh pulang jika tidak ada gejala lain" papar Nihaya.


"Alhamdulillah jika begitu" senyum lega Aldi mengembang, Nurmala hanya terdiam memandang keluar jendela.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja Nur, jangan banyak melamun, nanti kesambet Nur!" Aldi menggoda. Nurmala hanya memberikan sedikit senyumnya lalu kembali terdiam.


"Ya sudah aku ke pabrik dulu ya?" Aldi pamit.


"Iya Mas, Terima Kasih" kata Nihaya, Nurmala hanya mengangguk dengan senyum tipisnya. Aldi melangkah pergi, bayangannya menghilang di balik bangunan, menapaki trotoar di suasana sore kota Bandung yang ramai, sambil menunggu angkot yang bisa mengantarnya kembali ke pabrik.


Nihaya mengambil bungkusan yang Aldi bawa.


"Waah, apel!" seru Nihaya "Kamu mau Nur?" Nurmala mengangguk, Nihaya mengambilkan satu buah, kemudian memotongnya menjadi empat bagian dan ditaruhnya dalam mangkuk.


Nihaya begitu gembira dengan perhatian Aldi. Tapi hatinya sedikit kecut karena perhatian itu bukanlah untuknya tapi untuk Nurmala.


Keesokkan paginya, sebelum pulang ke kontrakan, Aldi menyempatkan diri menjenguk Nurmala. Dia sedang duduk sendiri diatas ranjang.


Tok..tok..tok..."Pagi Nurmala?" Aldi menyapa, kepalanya muncul dari balik pintu.


Nurmala terkesiap, "Ehh, pagi Pak Aldi!"


Aldi tersenyum memandang Nurmala,


"Mungkin jalan-jalan Pak, kata dia badannya sakit semua karena tidur di lantai."


Mereka pun berbincang, Nurmala menanyakan beberapa hal tentang kondisi pabrik dan juga tentang daerahnya.


Aldi merasa gembira karena Nurmala sudah mau banyak bicara, tidak seperti sebelumnya.


Wajah Nurmala sudah mulai terlihat memerah, pucat yang kemarin Aldi lihat sudah berganti dengan kecantikan yang semakin nyata.


"Selamat pagi Mas, baru pulang dari pabrik ya langsung mampir kesini untuk jenguk Nurmala?" Nihaya muncul dari balik pintu langsung nyerocos dengan pertanyaan dan dugaan. Dia masih menggerakkan pinggangnya ke kanan ke kiri seperti orang berolahraga.


"Iya, aku mampir dulu, memastikan kalian nanti sudah bisa pulang!" jawab Aldi.


"Uluh..uluh...perhatian pisan!" mata Nihaya melirik ke arah Nurmala yang tenang duduk diatas ranjang.


"Hemmm, aku ngantuk mau pulang dulu!, seminggu ini aku masih di sif malam." Aldi tersipu dengan pujian Nihaya, kemudian pamit pulang.


Sepeninggal Aldi, Nihaya bercerita banyak hal yang dia lihat selama berada di luar saat berolahraga. "Nur, kamu merasa tidak kalau Mas Aldi itu suka padamu?" pertanyaan Nihaya membuat Nurmala kaget.

__ADS_1


"Iiih, ngacok kamu Niha, Pak Aldi itu hanya merasa punya tanggung jawab karena aku anak buahnya!" sanggah Nurmala.


"Tapi Nur, aku melihat pandangan mata Mas Aldi itu berbeda saat melihatmu, ada sebuah rasa yang ingin dia katakan dari sorot matanya"


"Aduuuh Niha, jangan berhalusinasi nanti kesambet beneran!" Nurmala menyangkal meskipun hatinya ikut penasaran. "Benarkah yang dikatakan Niha?"


Nihaya hanya tertawa mendengar kata-kata Nurmala, tapi dia senang melihat sepupunya itu sudah jauh lebih sehat, dan sudah bisa diajak berdebat. Dengan demikian nanti bisa pulang dan tidur di kasur kontrakan yang lebih nyaman.


Sejak pagi Cleaning servis membersihkan kamar dan seluruh lingkungan rumah sakit, setelah itu perawat dan dokter mengontrol kondisi pasien.


"Kondisi Nurmala sudah sehat, nanti bisa pulang!" kata dokter yang memeriksa. Dan itulah kabar yang ingin Nurmala dengar. Duduk dan berbaring dengan jarum infus di tangan sungguh sakit dan membosankan.


Perawat melepas jarum infus dari tangan Nurmala, Nihaya melipat tikar dan membereskan peralatannya bersiap untuk pulang. "Semoga tetap sehat, selamat beristirahat di rumah Mbak!" kata perawat sebelum keluar ruangan.


Menjelang siang mereka sudah sampai di kontrakan. Nihaya langsung melompat ke kasur. "Aku merindukanmu!" teriak Nihaya sambil memeluk bantal.


"Hahaha, baru semalam saja kamu sudah segitu rindunya pada bantalmu!" olok Nurmala, sambil berbaring di sampingnya.


"Kamu nanti masuk kerja Niha?"


"Iya Nur, bisa dipecat aku tidak masuk kerja terus!"


"Maaf ya, karena nungguin aku kamu jadi tidak masuk kerja!?"


"Iya, nggak apa-apa, aku baik kok!" Nihaya mengelus pundak sepupunya itu dengan lembut. Nurmala tersenyum, kemudian membiarkan Nihaya beristirahat.


Suasana menjadi sepi, di kamar lain juga masih tertutup karena penghuninya masih seluruhnya bekerja. Mes kontrakan ini hanya sebagai transit dan penyimpan barang saat mereka pulang kerja, selebihnya sering kosong.


Nurmala bangkit, dia sudah merasa bosan tidur ketika di rumah sakit. Nurmala mengeluarkan barang-barang dari dalam tas. Masih ada beberapa buah apel sisa. Ingatannya melayang pada Aldi si pemberi apel. Memikirkan perkataan Nihaya "Aldi punya pandangan berbeda!"


Nurmala mengingat kejadian saat pemadaman di pabrik, dia tersipu sendiri karena memeluk Aldi begitu erat. "Duuuh malu-maluin!" batinnya,


Puk..puk..puk..Dia tepuk dahinya sendiri.


Nurmala kembali mengeluarkan barang-barang dari dalam tas, "Jaket Pak Aldi?, kok disini?, mungkinkah aku yang memakainya?" Gumam Nurmala, sambil mengingat kejadian kemarin. Dia tahu, itu jaket Aldi yang tergantung di dinding ruangan saat Nurmala terbaring disana.


Sebelum ke rumah sakit, Nihaya membalut kan jaket itu ke tubuh Nurmala yang pingsan atas permintaan Aldi agar tidak terkena angin dingin saat dibawa angkot.

__ADS_1


__ADS_2