
Hingga pagi tiba Nurmala belum terbangun dari tidurnya, dia merasakan kepalanya pusing, matanya bekunang-kunang.
"Niha..Niha!' suara lemah Nurmala memanggil Nihaya yang berada di ruang produksi, jelas takkan mendengar karena deru mesin dan tembok yang menghalanginya lebih kuat.
Nurmala terdiam, menyadari dirinya berada di sebuah tempat sempit di ruang pengawas milik Aldi. Dia hanya bisa memandang tembok dan plafon putih, tergantung sebuah jaket hitam dari kulit milik Aldi.
Nurmala mencoba bangkit, terhuyung bangun dari kasur, "Niha.. Niha!" Nurmala terus memanggil tapi tak ada jawaban. Nurmala melangkah mendekati pintu lalu membukanya.
Gubrakk!!
Nurmala kembali terjatuh. Aldi yang baru saja keluar dari ruang produksi bergegas menghampiri tubuh Nurmala yang tergeletak di depan pintu ruangannya. "Nihaya, Nihaya!" teriak Aldi di ruang produksi. Aldi kembali membopong tubuh Nurmala.
"Nurmala... Nur!" panggil Nihaya sambil menepuk-nepuk pipinya, tapi tak ada reaksi.
"Dia pingsan Mas!"
"Waduuh, tunggu disini ya, kita bawa Nurmala ke rumah sakit!" kata Aldi, dan dijawab dengan anggukan Nihaya.
Aldi keluar ruangan, suasana masih sepi meskipun sudah banyak lalu lalang kendaraan bermotor. Aldi berdiri di trotoar menunggu angkot. "Bang.. Bang... berhenti Bang, tolong saya!" sebuah angkot yang membawa pedagang pasar berhenti.
"Tunggu sebentar Bang!" Aldi meminta angkot menunggu, dia berlari ke ruangannya untuk menjemput Nurmala. Aldi tergopoh-gopoh berjalan cepat menuju angkot bersama Nurmala dalam gendongan diikuti Nihaya di belakangnya.
"Ke rumah sakit Bang!"
Sopir menekan gasnya kuat-kuat menuju rumah sakit. "Sakit apa dia Neng!" tanya seorang wanita penumpang angkot.
"Nggak tahu Mpok, dia panas dan pingsan!" jawab Nihaya sambil memeluk tubuh Nurmala, kepala Nurmala berada di pangkuannya.
Angkot terus melaju, kemudian berbelok ke halaman rumah sakit. Aldi kembali menggendong tubuh Nurmala masuk ke UGD.
"Sakit apa Kang?" tanya perawat.
"Tau Neng, periksa saja, dia pingsan!" jawab Andi sambil menata nafasnya yang tersengal karena berlari menggendong Nurmala.
Beberapa lama menunggu pemeriksaan, Aldi dan Nihaya duduk di luar ruangan.
"Apakah dia pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Aldi kepada Nihaya yang duduk di sampingnya.
"Nggak tahu Mas, meskipun saudara tapi nggak terlalu tahu kepribadian Nurmala.
"Nihaya!?" Panggil perawat, Nihaya segera mendekat, diikuti Aldi.
"Teman anda ini harus dirawat, tubuhnya dehidrasi, tekanan darahnya rendah, suhu badannya juga tinggi" kata dokter yang memeriksa Nurmala.
__ADS_1
Nihaya menoleh ke Aldi.
"Baik dokter, rawat hingga sembuh kami dari PT KLAMBIKU, ada asuransi kesehatan untuk pekerja" papar Aldi.
"Kamu tunggu di sini Niha, aku kembali dulu ke kantor!" Aldi pamit, lalu keluar ruang perawatan.
Matahari mulai bersinar terang saat Aldi kembali ke Rumah Sakit dengan membawa sebuah motor pinjaman teman.
"Kamu bisa naik motor kan Niha, ambil peralatan Nurmala di kontrakan, untuk sementara aku yang menjaga Nurmala" Aldi menyerahkan kunci motor. Nihaya bergegas keluar ruang perawatan menuju parkiran.
Sepeninggal Nihaya, Aldi duduk di kursi dalam ruang perawatan Nurmala, dia pandangi wajah Nurmala yang pucat dengan selang infus menjulur ke atas dari tangan kirinya. Alis tebal, bulu mata lentik itu hanya diam tak bergerak. Bibir mungilnya tertutup rapat.
Aldi hanya duduk terdiam, matanya mulai mengantuk karena lelah terjaga sepanjang malam. Aldi memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya di tembok. Sesaat dia terlelap.
"Niha..Niha!!" suara lemah Nurmala memanggil. Aldi tergagap, dan langsung berdiri mendekat.
"Pak Aldi??" Nurmala terkejut karena bukan Nihaya yang mendekat.
"Iya, Nihaya masih pulang ambil peralatan perawatanmu menginap di sini" papar Aldi. Nurmala hanya mengangguk.
"Pak, bisa panggilkan perawat?" pinta Nurmala.
"Oh iya, tentu saja!" Aldi melangkah keluar, kemudian masuk kembali bersama seorang perawat.
"Ada apa Kak?" tanya perawat.
"Aku butuh pembalut!" bisik Nurma ke perawat,
"Oh iya, tunggu ya!" jawab perawat, yang kemudian keluar ruang perawatan.
Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa satu bungkus pembalut wanita.
"Terima kasih Neng!" seru Nurmala yang segera menyembunyikan pesanannya.
Aldi hanya terdiam memandangi dua orang wanita itu tanpa kata, dia mengerti jika Nurmala sedang datang bulan dan malu untuk mengatakan pada dirinya.
Nurmala bangkit dari kasur, kemudian mencoba turun. "Mau kemana Nur?" tanya Aldi.
"Aku mau ke kamar mandi!" Nurmala turun, Aldi memegang tubuhnya.
"Nggak apa-apa Pak, aku bisa!"
"Iya, aku pegangi infusnya saja" Aldi berjalan mengikuti Nurmala yang berpegangan tembok menuju kamar mandi. Tangannya mengepal satu pembalut.
__ADS_1
Aldi menggantung infus di atas paku, kemudian menutup pintu kamar mandi. Tampak dari kejauhan Nihaya membawa tas berupa pakaian, bantal dan selimut Nurmala.
"Nur??" Niha mencari Nurmala
"Dia masih di kamar mandi!"
"Niha!!" teriak Nurmala dari dalam kamar mandi. "Iya Nur!" Nihaya mendekati pintu.
Nurmala membuka pintu, Niha masuk. Aldi menunggu di luar ruangan.
"Aku cari sarapan dulu!" Aldi keluar ruangan
"Mengapa aku sampai sini Niha?" tanya Nurmala setelah Aldi pergi. Nihaya menceritakan kejadian yang telah dialami Nurmala.
"Kamu harus berterima kasih sama Mas Aldi" Nihaya menasehati.
"Kenapa harus Pak Aldi sih yang menolongku?"
"Memangnya kenapa?, dia orang baik Nur!" Nihaya menyanjung Aldi. Nurmala hanya terdiam menyembunyikan perasaannya. Perasaannya bergejolak antara ingin menghindar dan balas budi baik, karena sudah susah payah menyelamatkan dan membawanya ke rumah sakit.
Tak lama kemudian Aldi datang membawa bungkusan berisi nasi dan air mineral.
"Niha, ini sarapanmu!, Nurmala ada jatah dari rumah sakit." kata Aldi sambil menyerahkan kantong plastik di tangannya.
"Kamu mau roti Nur?" kata Aldi, tapi Nurmala menggeleng pelan.
"Ya sudah, kami sarapan dulu ya!?" Aldi membuka bungkusannya bersama Niha. Nurmala melirik mereka berdua makan, sebenarnya perutnya lapar, tapi mulutnya terasa pahit.
Selesai makan Aldi pamit. "Aku ke pabrik dulu, ada urusan sama manager, semoga cepat sehat Nurmala!" Aldi tersenyum, Nurmala hanya diam terpaku memandangi Aldi yang keluar ruang perawatan.
"Lihatlah Nur, Mas Aldi itu sangat baik, nggak salah kan kalau dari dulu aku menyukainya?"
Ungkap Nihaya. Nurmala hanya terdiam memandangi langit-langit kamar.
Pikirannya menerawang, ada rasa sedih dalam kondisi sakit tapi tidak bersama orang tuanya.
"Permisi Mbak" seorang perawat masuk mengantarkan sarapan untuk pasien.
"Makan Nur?" tanya Niha, Nurmala menggeleng
"Nanti saja!" jawab Nurmala lemah. Dia masih tetap berbaring diatas dipan dengan wajahnya yang kuyu.
"Selamat Pagi Mbak?" dua orang perawat dan satu orang dokter datang, mereka akan memeriksa kondisi Nurmala.
__ADS_1
"Bagaimana, ada keluhan?" tanya dokter kepada Nurmala. "Lemes dan pusing Dok!"
"Emm, yaya.., darahnya rendah, perutmu juga kosong, jadi makan yang bergizi dan minum obatnya ya!" perintah dokter. Kemudian berpindah ke pasien lain.