
Mereka bertiga pamit kembali ke Bandung. Nihaya dan keluarganya melepas mobil Rizal dari teras rumahnya.
"YESS? YESS!" seru Rudi melampiaskan emosi gembira kelancaran misi minta restu calon mertuanya yang mudah, tidak seperti Aldi.
"Setelah ini apa yang akan kalian lakukan?" tanya Rizal kepada kedua temannya itu.
"Kamu dulu ngapain setelah begini ini Zal?" Aldi balik bertanya.
"Apa ya? oh iya menyiapkan surat-surat untuk pendaftaran ke KUA!" jawab Rizal sambil mengingat pengalaman menyongsong hari pernikahan yang sudah dia alami.
"Tapi, kita nunggu setelah lebaran dulu Al, pegawainya juga butuh merayakan hari raya!" cletuk Rudi dari kursi belakang. Aldi tertawa karena saking senengnya dia lupa kalau hari itu menjelang lebaran Idul Fitri.
"Berarti kita santai dulu nih!, hemm.. rasanya ingin aku putar waktunya biar bergerak cepat" ucap Aldi sambil menyandarkan tubuhnya di jok mobil.
Mobil yang dikemudikan Rizal terus melaju. Menjelang petang mereka sampai kembali di Bandung. Nurmala tampak berdiri di teras saat mobil Rizal memasuki halaman. Wajahnya tampak penasaran ingin tahu kabar yang mereka bawa dari rumahnya.
Aldi segera turun menemuinya.
"Bagaimana Kang?" tanyanya
"Alhamdulillah Nur, lancar termasuk rencana Rudi!" ungkap Aldi. Nurmala heran dengan keterangan rencana Rudi, akhirnya Aldi menjelaskan restu orang tua Nihaya untuk Rudi. Nurmala sangat gembira mendengarnya.
'Kapan rencana mereka menikah Kang?"
"Mungkin hampir bersamaan dengan kita, tapi kita harus yang duluan Nur, aku nggak mau disalip sama Rudi!" kata Aldi melirik ke arah Rudi yang sedang senyum-senyum duduk teras.
"Kamu yakin nggak ingin mudik Nurmala?" kembali Aldi tentang kenyamanan perasaan kekasihnya tidak berlebaran bersama keluarga.
"Yakin Kang, nanggung kalau pulang sekarang, sekalian besok habis lebaran!"
"Ya sudah, besok pulangnya sambil membawa surat-surat Akang pindah nikah disana" kata Aldi, Nurmala tersenyum membayangkan bahagianya bisa menikah dengan pria yang dia cintai.
"Pulang yuk!" ajak Rudi. Aldi mengangguk setuju. Setelah berpamitan dan ucapan terima kasih pada Rizal, mereka kembali ke kontrakan. Keesokan paginya Rudi pulang kampung dan mengabarkan rencana pernikahannya. Sedangkan Aldi tetap tinggal.
__ADS_1
Dua hari kemudian takbir berkumandang di masjid dan musholla. Warga kota berkalung surban atau sajadah berbondong-bondong menuju masjid atau lapangan untuk menunaikan sholat Idul Fitri. Nurmala bersama keluarga Rizal berjalan menuju masjid terdekat, sementara Aldi memilih di lapangan tempat terdekat dengan kontrakannya.
Aldi tampak khusuk, dia memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya, "Maaf Pak, Mak alfi belum bisa pulang menjenguk" ungkap hatinya.
Selesai sholat Ied Aldi menuju rumah Rizal, menemui Nurmala.
"Zal, aku pinjam Nurmala dulu ya?!" kata Aldi.
"Mau dibawa kemana Aldi?" tanya Leha
"Jalan-jalan saja Kak Leha, mumpung jalanan lagi sepi!" Leha dan Rizal mengiyakan keinginan Aldi, mereka yakin yang sudah dewasa dan bisa menjaga diri.
Aldi mengajak Nurmala berkeliling kampung, mendatangi orang-orang yang dia kenal kemudikan duduk-duduk di taman kota.
"Nurmala, kalau kita menikah nanti kamu minta mas kawin apa?" tanya Aldi kepada Nurmala yang duduk di sampingnya.
"Emmm, aku nggak ingin macam-macam Kang, seperangkat alat sholat saja sudah cukup!"
Aldi tersenyum mendengar perkataan lugu dari Nurmala, dia merasa beruntung kekasihnya tidak mewarisi sifat ibunya yang doyan duit.
"Ada apa Kang, kok melamun? kebanyakan ya permintaan Aku?" pertanyaan Nurmala membuyarkan lamunan Aldi.
"Eh, enggak, enggak! permintaanmu terlalu sederhana Nurmala, aku beruntung sekali menemukan wanita seperti kamu Nur!" tangan Aldi meraba jemari Nurmala. Sejenak mata mereka saling bertemu.
"Nur, kalau kita sudah nikah kamu pingin punya anak berapa?" pertanyaan Aldi membuat Nurmala tersipu.
"Iih, Kang Aldi kok sudah membicarakan bikin anak sih Kang, Neng jadi malu pisan atuh, pergi dari sini saja yuk, terlalu sepi banyak setan!" sambil tersipu Nurmala berdiri mengajak untuk pindah lokasi.
"Dimana-mana sepi Nur, kemana lagi?"
"Ke tempat wisata pasti ramai!"
Akhirnya Aldi mengajak Nurmala berpindah ke tempat wisata kota Bandung, dan memang benar disana ramai dengan penduduk kota asli yang domisili di kota, atau mereka yang tidak pergi mudik. Aldi dan Nurmala mencoba menikmati suasana berbeda dari lebaran biasanya.
__ADS_1
Satu Minggu kemudian.
Kantor dan perusahaan sudah mulai buka dan kembali pada aktivitas semula. Nihaya dan Nurmala kembali ke PT KLAMBIKU.
Aldi mulai mengurus surat-suratnya.
"Zal, aku mau merepotkan lagi boleh?" tanya Aldi dengan membawa map berisi beberapa berkas.
"Apa Al??" Rizal heran melihat rasa sungkan dari wajah Aldi.
"Aku nggak punya KK, masukin aku dalam keluar kamu ya, rumahku jauh sekali dan aku tidak bisa pulang sekarang, bisa ya?" pinta Aldi memelas. Rizal tak bisa menolak permintaan teman yang sudah dia anggap saudaranya itu.
"Hemm, iya bisa, tapi aku belum bisa urus sekarang masih banyak pekerjaan!" kata Rizal sambil menumpuk beberapa nota belanja.
"Aldi, sebaiknya kamu pulang dan minta restu orang tuamu dulu sebelum menikah, doa orang tua itu sangat mujarab lho Al!" pinta Aldi. Rizal tahu persis kalau Aldi belum berani pulang ke kampungnya karena masalah pribadi, tapi menurutnya restu itu sangat penting.
"Belum hari ini deh Zal, mungkin nanti setelah menikah dengan Nurmala baru aku bisa pulang!" jawab Aldi.
"Terserah kamu deh Al, nih jahit dulu pesanan dari Jakarta sambil nunggu aku urus KK!" pinta Rizal sambil menyerahkan lembaran kertas model tas dan ukurannya pada Aldi.
Dia berjalan pelan menuju ruang dimana biasa bekerja. Dengan cekatan Aldi mengeksekusi pekerjaannya. Rizal menilai Aldi adalah orang yang berbakat. Beberapa desain Aldi yang membuat dan laris di pasaran. Rizal mengawasi pekerjaannya dari balik kaca ruang kerjanya.
Keesokan harinya.
"Nih Al, KK-nya sudah jadi, kamu masuk keluarga ke-6" kata Rizal setelah datang dari kantor kependudukan kota dan menyerahkannya di depan Aldi.
"Alhamdulillah Zal, terima kasih banyak saudaraku!" Aldi merangkul Rizal.
"Iih, nggak usah berlebihan begitu, parno!" Rizal menepis pelan tubuh Aldi yang memeluknya erat.
"Aku terharu punya teman sebaik kamu Zal, entah bagaimana nanti aku bisa membalas semua pertolonganmu terhadapku Zal"
"Aah, tidak usah berkata begitu. Aku ikhlas menolong Al, biar Allah yang mengganti semuanya, jangan bebani dirimu dengan balas budi, itu berarti kamu meragukan keikhlasanku!" papar Rizal bijak.
__ADS_1
"Pantas saja kamu cepat kaya Zal, bisnismu tidak hanya dengan manusia, tapi juga dengan Tuhan, aku ingin sekali menjadi seperti dirimu Zal!" Aldi melankolis.
"Iya, iya! tapi cepat urus surat pindah nikahmu keburu siang, kantor desa tutup!" perintah Rizal yang membuat Aldi langsung berdiri dan bergegas menuju parkir motornya menuju kantor desa dan KUA.