
Nihaya memiliki kecurigaan yang sangat besar dengan kehamilan Nurmala yang tidak biasa. "Al, jika ada waktu luang tolong kamu ke rumah hari ini ya! Tidak usah mengajak Nurmala!" pinta Nihaya.
"Ada apa Niha?" Aldi heran.
"Ada hal yang sangat penting yang ingin kami bicarakan denganmu!" Aldi tak ingin bertanya lagi, kemudian bergegas keluar dari ruang produksi.
"Mau kemana Kang?" tanya Nurmala saat melihat Aldi seperti terburu-buru dengan motornya.
"Keluar sebentar!" Aldi menekan gas motornya dan melaju keluar halaman.
"Kamu yakin Niha?" Rizal meyakinkan istrinya.
"Tentulah Mas, kalau tidak yakin aku tidak menganggap ini sebuah masalah serius bagi Aldi dan Nurmala!"
"Assalamualaikum!" Aldi masuk ruangan dimana Nihaya dan Rizal sudah duduk menunggu. Wajahnya mereka berdua tampak serius.
"Ada apa sih?" Aldi masih penasaran.
"Al, kamu tahu tidak bedanya orang hamil sungguhan dan yang hamil pura-pura?" tanya Nihaya.
"Yaa...sedikit banyak aku tahulah meskipun belum pernah punya anak!" Aldi masih belum paham dengan maksud pertanyaan Nihaya.
"Kamu yakin Nurmala hamil?" Rizal menambahkan.
"Yakinlah, nggak mungkin istriku bohong!"
"Oke, bagaimana kalau tabib itu yang berbohong?"
"Tabib, berbohong?" Aldi terdiam, matanya tampak berfikir keras.
"Ah...nggak mungkin!" Aldi masih menyangkal.
"Al, ajak Nurmala ke dokter!"
"Dia nggak pernah mau, kata tabib nggak boleh!"
"Nah, itu kan. Pertanyaannya Jika Nurmala benar-benar hamil, mengapa tabib melarang? Coba rayu dia pelan-pelan Al, bawa Nurmala ke USG dokter spesialis, biar kalian bisa mengetahui apa yang sebenarnya ada dalam perut Nurmala!"
Beberapa lama mereka berbincang, Aldi pamit pulang dengan berbagai macam spekulasi dalam pikirannya.
Sesampainya di rumah, Aldi melihat Nurmala sedang duduk merajut topi bayi di kursi.
"Bagus kan Kang?" tanya Nurmala sambil menunjukkan hasil tangannya.
__ADS_1
"Eh, iya ya...cantik!"
"Anak kita laki apa perempuan ya Nur?"
"Kata tabib perempuan Kang"
"Tapi, Bagaimana kalau ternyata laki-laki, tapi kamu sudah kadung menyiapkan baju perempuan?"
"Nggak apa-apa, cuma warna saja Kang, nanti sambil jalan saja beli bajunya!"
"Nur, apa kamu tidak ada kehawatiran anak kita tidak memiliki anggota badan yang lengkap?"
"Akang, jangan bicara yang aneh-aneh, ucapan itu bagian dari doa Kang!" Nurmala tampak sewot.
"Kita cek bayi kita ke dokter kita Nur, seperti apa dia?!"
"Sama tabib nggak boleh Kang, jika sudah waktunya dia akan lahir sendiri, kalau kita tidak patuh dan bersabar, darimana jalannya akan berhasil?!"
Aldi tampak kebingungan dengan nada tinggi Nurmala. "Ini sudah hampir sepuluh bulan Nur, aku takut terjadi apa-apa, menurut informasi yang aku dapatkan, jika bayi telat lahir bisa mati, karena air ketuban sudah tidak jernih lagi"
Nurmala mengernyitkan dahinya, "Emangnya begitu ya Kang?" Aldi mengangguk.
"Nanti kita ke dokter ya?" Nurmala tampak ragu, tapi kemudian menuruti kata suaminya.
"Assalamualaikum Mak!" Samira menelepon menanyakan kabar Nurmala dan kehamilannya.
"Sehat Mak! nanti aku mau periksa!"
"Periksa?" Samira tampak takut dan bingung.
"Iya Mak, ini sudah telat lahir, takut terjadi apa-apa!" Nurmala menjelaskan. Samira tampak pasrah. Dia merasa ini sudah waktunya, yang terjadi biarlah terjadi.
"Tuhaan, tolonglah anakku!"
*****
"Kehamilan ke berapa ini neng?Sudah berapa bulan?" tanya dokter saat Aldi dan Nurmala duduk di depan dokter.
Nurmala diminta suster untuk berbaring di dipan pemeriksaan. Setelah semua siap dokter mulai memeriksa perut Nurmala.
Dokter tampak serius meneliti gambar yang ada di layar monitor.
"Kapan periksa terakhir?"
__ADS_1
"Baru kali ini Dokter!" jawab Nurmala.
"Emm! oke sudah selesai!"
"Bagaimana bayi saya dokter?" Nurmala tampak tidak sabar ingin segera mendapatkan informasi tentang bayinya.
"Kita duduk dulu ya!" ucap dokter.
Nurmala dan Aldi kembali duduk di depan dokter.
"Sejak kapan anda telat menstruasi Bu Nurmala?"
"Emm...sudah hampir satu tahun Dokter!" dokter mencatat keterangan Nurmala, Dokter menganggap ini kejadian langka.
"Bagaimana bayi kami Dokter?" Aldi bertanya.
"Begini Pak Aldi, Bu Nurmala, saya belum bisa memastikan kondisi bayi anda, memang ada titik kecil di rahim Bu Nurmala tapi ini masih terlalu dini disebut bayi!" Aldi dan Nurmala saling pandang.
"Bukannya bayi kami sudah hampir lahir dokter?" Dokter menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya anda rutin memeriksakan diri Ibu Nurmala, agar kondisi bayi bisa terpantau dengan baik!"
"Lalu dimana bayi saya selama ini Dokter?"
"Saya tidak mengerti yang kalian maksudkan!"
"Kami sudah menyiapkan pakaian bayi Dok, bayi saya akan lahir perempuan, tabib bilang dia anak yang cantik dan Sholihah!" Nurmala mulai tak bisa mengendalikan diri. Dokter hanya terdiam memandangi sepasang suami istri itu. Aldi merangkul tubuh Nurmala yang berguncang menahan tangisannya agar tidak terlalu keras.
"Sebaiknya anda bersabar Nyonya, agar sesuatu yang akan tumbuh di rahim anda bisa berkembang dengan baik!" Mendengar ucapan Dokter Nurmala menghentikan tangisnya.
"Benarkah itu dokter?" Dokter mengangguk
"Sebaiknya anda jangan terlalu capek, istirahat yg cukup, rilekskan pikiran!" dengan hati gusar dan sedih mereka berdua meninggalkan ruang dokter.
"Mengapa kamu berbohong Nur?!" ucap Aldi saat di dalam mobil.
"Berbohong apa Kang?!, aku tidak pernah membohongi Akang!"
"Mengapa kamu bilang hamil, padahal sebenarnya tidak Nur? Aku sudah sangat bahagia akan menimang anak, kamu membuatku sangat kecewa!" Aldi membanting keras pintu mobilnya saat sudah duduk di kursi kemudi.
"Aku nggak bohong Kang, itu yang dikatakan tabib padaku!"
"Argh! Tabib kurang ajar!" Aldi menekan keras pedal mobilnya. Nurmala tak berani berkata apa-apa melihat kemarahan Aldi.
__ADS_1