
Senin pagi PT KLAMBIKU tempat Aldi dan Nurmala bekerja, memulai aktifitas dengan apel pagi. Manager menyampaikan mulai besok akan ada jadwal sif malam karena bertambahnya produksi dan pesanan.
Lima belas menit kemudian apel di bubarkan, karyawan berhamburan melihat jadwal yang terpasang di papan pengumuman.
"Duuh, besok aku sif malam" keluh Niha,
"Asik, aku sif siang!" kata Nurmala.
Kemudian mereka kembali ke mesinnya masing-masing untuk menyelesaikan tugas.
"Kamu sif siang Nurmala?" tanya Soni, Nurmala hanya memberi isyarat dengan tangan, karena dia melihat Pak Aldi sedang mendekat ke arahnya.
Aldi tak berkata sepatah katapun, dia hanya berkeliling mengawasi semua karyawan dan mengecek pekerjaannya.
"Pak Aldi, saya kan punya anak kecil, misalnya tukar sif boleh tidak? tanya seorang karyawati yang bekerja di mesin sebelah kanan Nurmala.
"Boleh, kamu cari yang mau diajak tukar sif"
"Nurmala, kamu kan masih gadis, gantian sama aku ya? kasihan anakku masih kecil Nur!" bujuk karyawati itu kepada Nurmala.
"Emmm, ya mbak aku mengalah" kata Nurmala. Sif malam memang lebih berat, karena harus mengubah siklus tidur, tapi demi kemanusiaan Nurmala menyetujuinya.
Aldi yang mendengar hal itu cukup senang, karena dia besok juga akan berada di sif malam. "Terima kasih Nurmala" kata Aldi sambil tersenyum ke arah Nurmala.
Nurmala hanya membalas senyuman satu detik, dengan segera dia sembunyikan kembali dalam konsentrasi dengan jahitan. Aldi hanya memandangi tingkahnya dengan wajah datar.
Dalam hati Aldi merasa ada sesuatu yang Nurmala sembunyikan. Nurmala tak mau memandang wajah Aldi, bahkan Aldi merasa tidak disukai, tapi Aldi tidak mengerti.
Keesokan harinya, pukul setengah sembilan, Nurmala, Niha dan karyawan sif malam sudah datang. Sif malam dimulai pukul sembilan. Aldi tampak baru masuk gerbang.
Nurmala yang sedang berdiri di samping pintu segera pura-pura sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Selamat malam Mas Aldi?" sapa Niha saat Aldi melewati tempatnya berdiri.
"Selamat malam semua" jawab Aldi sambil melirik sebentar ke arah Nurmala kemudian berlalu masuk ke ruangannya. Nurmala menengok ke arah perginya Aldi.
"Ada apa Nur, mencari Mas Aldi?" tanya Niha.
__ADS_1
"Nggak, cuma lihat saja sudah pergi apa belum"
"Aneh-aneh saja kamu Nur, dekat menghindar, ditinggal mencari!" olok Niha.
Pukul sembilan karyawan sif malam mulai beraktivitas. Meja Niha berada di pojok sedikit jauh dengan Nurmala. Aldi berkeliling mengawasi kerja karyawan. berjalan dari depan ke belakang lalu berputar lagi ke depan, hingga sampai ke meja Nurmala.
Pet..
Lampu tiba-tiba mati.
"Huwaaa!!" teriak Nurmala, dia segera berdiri dan mencari teman untuk dipeluk agar rasa takutnya hilang.
Suasana gelap gulita, Nurmala memeluk seseorang yang berdiri di dekatnya, dia tak peduli itu siapa, yang terpenting dia merasa memiliki teman untuk dipeluk.
Jantungnya berdetak cepat, orang itu diam terpaku seperti sekujur tubuhnya dalam kondisi kram, Nurmala membenamkan wajah di dadanya yang bidang. Sejenak Nurmala juga mendengar detak jantungnya, tapi Nurmala tak ambil peduli yang penting ada yang dia peluk.
Lima menit kemudian, jenset pabrik berbunyi, suasana menjadi sangat terang. "Pak Aldi??!" Nurmala terkejut karena dia berada dalam pelukan Aldi. Dia cepat-cepat mengambil jarak, Aldi hanya tertawa.
"Hahaha, kenapa Nur? nggak apa-apa, santai saja!" kata Aldi. Kemudian dia tinggalkan Nurmala dengan senyuman. Nurmala masih ternganga tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
"Duuh, kenapa harus Pak Aldi sih!!" gerutu Nurmala.
Aldi merasakan sesuatu merasuk hangat dalam jiwanya, yang membuat dirinya ingin selalu berada di dekat Nurmala.
Beberapa lama dia duduk, waktu menunjukkan tengah malam, Aldi kembali keluar ruangan berkeliling di bagian gudang. Saat berjalan Aldi melihat sosok perempuan yang terburu-buru masuk kamar mandi.
"Huwek...huwek..huwek.." suaranya terdengar muntah di dalam kamar mandi. Aldi menunggu siapa karyawan yang sakit itu.
Ceklek!
"Nurmala?" bisik Aldi yang terkejut melihat Nurmala keluar dari toilet.
Nurmala berjalan cepat menuju mesinnya, aroma minyak kayu putih semerbak keluar dari tubuhnya. Aldi mengikutinya dari belakang.
Nurmala duduk di kursi dengan memegangi kepalanya. "Kamu sakit Nurmala?" tanya Aldi.
"Tidak Pak, cuma masuk angin, saya tidak pernah bekerja hingga tengah malam" jawab Nurmala dengan lesu.
__ADS_1
"Kamu istirahat saja Nur, daripada sakit?!"
Nurmala menoleh ke arah Niha untuk minta persetujuan. Niha mengangguk.
"Di sini kan tidak ada tempat tidur Pak, dimana saya harus istirahat?" Nurmala bertanya tapi tak berani memandang wajah Aldi.
"Itu dia ya, nggak ada tempat tidur!, istirahat di kantorku saja, nanti kunci dari dalam!" Aldi memberi tawaran.
Nurmala terdiam sejenak sambil berfikir.
"Tidur di kantor Pak Aldi, oh tidak , meskipun suruh mengunci dari dalam aku tidak mau jika tiba-tiba pak Aldi mengambil kesempatan" pikiran parno Nurmala.
"Nggak usah pak, aku istirahat di sini saja!"
"Ya sudah Nur, istirahatlah!" Aldi meninggalkan Nurmala yang menaruh kepalanya diatas meja. Aldi melangkah keluar pabrik, udara dingin malam mulai turun, Aldi menyilangkan tangannya di dada menatap langit yang dihiasi bintang-bintang.
Beberapa lama dia menatap rembulan tanggal tua yang timbul tenggelam dibalik awan. Terbayang di benaknya wajah kedua orang tuanya yang dia tinggalkan di kampung halaman. "Maafkan aku Pak, Mak!" batin Aldi.
Aldi menghela nafasnya, kemudian kembali masuk dalam pabrik. Jam dinding menunjukkan pukul dua, mereka masih belum berhenti bekerja. Ada rasa kasihan dalam diri Aldi melihat mereka bekerja, tapi mau bagaimana lagi, itulah resiko ikut orang, mau nggak mau harus ikut aturan.
Aldi melihat kepala Nurmala masih diatas meja. Aldi mendekat, wajah Nurmala tampak pucat, dia memberikan diri untuk menyentuh keningnya. " Panas!" Aldi terkejut.
"Nurmala, bangun Nur pindah saja yuk!" bujuk Aldi, tapi tak ada jawaban.
Gubrakk..
Tubuh Nurmala jatuh ke lantai. Aldi panik, dia segera membopongnya masuk ke ruangannya.
"Niha, ikutlah!' Aldi meminta Niha untuk menjaga Nurmala. Nihaya bergegas mengikuti langkah Aldi yang tampak berat menggendong Nurmala masuk ke ruangannya.
"Borehkan dia ini ke tubuhnya!" Aldi menyodorkan minyak kayu putih kepada Niha.
"Ini selimutnya!" Aldi meminta Niha untuk menyelimuti tubuh Nurmala, kemudian dia kembali keluar ruangan.
Aldi menunggu di luar, beberapa lama menunggu Nihaya keluar. "Apakah dia sering sakit-sakitan?" tanya Aldi.
"Sebenarnya tidak Mas, cuma hari ini kondisi dia lagi kurang fit, dan sedang datang bulan" jawab Nihaya sambil membau tangannya yang beraroma minyak kayu putih.
__ADS_1
"Oh, begitu!, ya sudah biarkan saja dia istirahat!" Nihaya kembali masuk ke tempat kerja. Nurmala masih belum terjaga. Aldi kembali masuk ruang produksi.