Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Uang Satu Koper


__ADS_3

Rizal tertegun mendengar cerita Aldi. Dia mengubah posisi duduknya dari fokus ke cerita Aldi kini menyandarkan punggung dengan menyilangkan diatas satu kaki, pandangannya menerawang memikirkan sebuah teknik.


"Kita berangkat Al!" kata Rizal kemudian.


"Uangku masih kurang Zal!, aku ingin menggenapi, butuh waktu sedikit lagi!" kata Aldi


"Sudahlah, pakai punyaku dulu, kita berangkat besok pagi!" kata Rizal santai.


"Besok pagi???" Aldi terkejut.


"Iya, hari ini urus uangmu, transfer ke rekeningku, besok kita ambil membawa mobil. Terlalu beresiko kalau kamu ambil sekarang pakai motor!" perintah Rizal.


"Oke, oke, siap!" Aldi sangat bersemangat. Dia langsung berdiri dan berlari mendekati motornya yang terparkir di teras samping rumah Rizal. Aldi langsung menggeber motornya.


Perasaannya melambung seperti kejatuhan bulan purnama. senyumnya tak henti mengembang, antara percaya dan mimpi. Dia tepuk-tepuk pipinya sendiri untuk meyakinkan diri bahwa yang baru saja dia dengar adalah sebuah kenyataan.


Aldi terus melaju di atas motornya, tapi tiba-tiba dia berhenti dan berbalik arah, kembali lagi menuju rumah orang tua Rizal, di rumah Leha menemui Nurmala.


"Assalamualaikum Nurmala! Nurmala!"


"Eeeh, jangan keras-keras Kang, ada anak kecil tidur, ganggu!, ada apa sih?"


"Nur, besok aku akan ke rumahmu!"


"Maksudnya?? Akang mau melamar Nur dengan membawa uang itu??"


"Iya Nur, betul sekali! Rizal akan mengantarkan aku ke rumahmu!"


"Alhamdulillah Kaaang!" Nurmala terlihat sangat excited, matanya membulat. Mereka ingin sekali berpelukan tapi malu dilihat orang. Akhirnya hanya saling berpegangan tangan. Leha hanya tersenyum melihat tingkah dua orang yang ingin segera dipersatukan dalam pernikahan itu dari kejauhan.


Sejenak mereka saling bertatapan, membayangkan indahnya duduk bersanding di pelaminan dengan hiasan bunga indah bak taman surga yang dikelilingi bidadari kahyangan. Senyum terkulum tak henti dari bibir Aldi dan Nurmala, seperti ada sumur tawa dari keduanya.


"Nurmala, masakanmu Nur?" teriak Leha dari kejauhan sambil tertawa geli. Dia sengaja menggoda dua orang itu agar tidak tenggelam dalam perasaan haru terlalu lama.


Nurmala tergagap, begitu juga dengan Aldi. Mereka sama-sama tersipu, malu dengan hayalannya sendiri. "Aku pergi dulu Kang!" kata Nurmala kemudian. Aldi mengangguk, melepas Nurmala masuk menemui Leha.


Tak lama kemudian Aldi kembali melaju diatas motornya menuju Bank tempat dia menyimpan uang, kemudian kembali ke kontrakan.


"Rudi, kamu tidak ingin melamar Niha?"

__ADS_1


"Ya pinginlah, tapi jauh butuh perencanaan matang untuk pergi kesana!" kata Rudi.


"Besok ikut aku Rud!"


"Kemana?" Rudi heran.


"Melamar Nihaya!"


Aldi kemudian menceritakan rencana keberangkatannya besok ke rumah orang tua Nurmala.


"Oke, aku ikut Al, Nihaya biar terkejut melihatku datang ke rumahnya! Ha.ha..ha. Nihaya, tunggu kedatangan Abang sayang!" Rudi tertawa gembira, dia membayangkan wajah imut Nihaya yang tersipu malu saat dirinya datang.


Malam itu mereka nyaris tak bisa tidur, mata terpejam tapi tubuh mereka terbolak-balik ke kanan ke kiri tak bisa lelap, hati dan pikiran mereka tak sabar menunggu pagi.


Tang...Tang!


Jam dinding masjid kota berdentang dua kali, Aldi bangkit dia berharap jam itu berdentang empat kali, "Jam 2?!" akhirnya dia kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur. Sejenak dia terlelap. Dia kembali terbangun saat suara Qoriah sudah berkumandang.


Tok..tok..tok "Rudi, Rud, bangun! sudah subuh!"


"Iyaa!" suara Rudi langsung terdengar dari dalam kamar. Aldi bergegas mandi, dinginnya udara Bandung yang biasa membuatnya menggigil tak ada artinya melawan hangatnya semangat dalam diri Aldi.


'Rudi, cepat Rud!"


"Iya, Bank bukanya pukul delapan Al, ini masih pukul lima, mau ikut nyapu halaman Lo?!" Rudi santai sambil memilih kaosnya.


"Kamu bawa apa untuk Nihaya?" tanya Aldi


"Ups! Apa ya? Bingung aku Al!"


"Cepetan bersiap deh, nanti kita mampir dulu ke pasar, cari sesuatu untuk Nihaya!" usul Aldi.


Rudi pun bergegas menyempurnakan penampilannya. Kemudian dua orang itu melaju menuju pasar.


"Kok masih pada tutup Al?"


"Hihihi, kita yang kurang siang! Tunggu sebentar deh, nanti juga pada buka!" Akhirnya dua orang pendamba restu mertua itu duduk menunggu.


Beberapa saat berlalu, akhirnya satu persatu pemilik bedak membuka lapak dagangannya. Aldi dan Rudi melihat-lihat sesuatu yang cocok untuk kepribadian Nihaya dan pas di kantong Rudi, lalu membelinya. Setelah itu mereka menuju rumah Rizal.

__ADS_1


Aldi memarkir motornya di teras,


"Assalamualaikum, Assalamualaikum!" Suasana masih sepi, mereka menunggu di teras. Tak lama kemudian Rizal membuka pintu dengan masih bersarung dan baju kokonya.


"Rapi sekali kalian!" Rizal tersenyum lebar. Aldi hanya tersipu malu mendengar pujian Rizal.


"Ya Mas, maklumlah mau ketemu calon mertua dengan uang satu koper!" Cletuk Rudi.


"Sudah sarapan?" tanya Rizal.


"Ya, belumlah Mas, belum sempat!" jawab Rudi, Aldi hanya diam dengan perasaan tegang tanpa peduli rasa lapar perutnya.


"Aldi, santai kenapa?!, kita sarapan dulu yuk!" Rizal mengajak mereka masuk ruang makan. Nurmala ada disana, dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. "Pagi Nur!" sapa Rudi. Nurmala menjawab dengan gembira, tapi matanya tertuju pada penampilan Aldi.


Rizal mengeluarkan mobilnya dari garasi, sebuah kijang warna putih, bermesin diesel.


"Zal, kamu sudah bawa koper?" tanya Aldi


"Untuk Apa?" Rizal heran.


"Untuk uangnya lah!"


"Hahaha, uang segitu cuma nyempil di pojokan koper Al, nanti kamu sudah dikasih wadah dari bank!" papar Rizal.


"Waduuh, aku sudah membayangkan seperti di film-film mafia itu, buka koper di depan ibunya Nurmala dengan membusungkan dada Zal!"


"Bagaimana kalau uangnya minta yang pecahan lima ribuan atau sepuluh ribuan, biar terlihat banyak!" usul Rudi.


"Boleh, jika mereka ada persediaan!" jawab Rizal sambil berkonsentrasi memandang jalanan. Dia merasa geli dengan pemikiran dua orang temannya itu, tapi dia ingin membuat mereka bahagia.


Mobil berbelok di halaman luas sebuah Bank kota, belum banyak nasabah yang datang, hanya beberapa orang yang keluar masuk Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Mereka bertiga turun. Satpam membuka pintunya dengan ramah. Rizal langsung menuju teller, bercakap sebentar, tanda tangan, kemudian terdengar mesin penghitung uang berderak keras dengan uang-uang yang sudah terikat rapi.


Tak lama kemudian Rizal meninggalkan teller dengan satu kantong plastik berwarna hitam. Aldi dan Rudi mengikuti langkah Rizal menuju mobilnya.


"Nih, tata uangnya dalam koper!" Rizal melempar kantong plastik itu ke Aldi yang duduk di sampingnya.


"Sini Al, aku bantu!" seru Rudi yang duduk di jok belakang. Aldi melompat pindah. Dengan bantuan Rudi, Aldi menata uang pecahan lima ribuan dan sepuluh ribuan itu dalam koper, kemudian menutupnya rapat-rapat dengan kunci.


"Bismillahirrahmanirrahim, ayo Zal kita lanjutkan misi ini!" seru Aldi bersemangat. Rizal menekan pedal gas mobilnya ikut merasa bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2