
Nurmala dan Nihaya sudah resign dari pabrik kemudian pulang. Mereka berdua berfikir daripada diberhentikan secara tidak hormat karena banyaknya jumlah izin yang akan dibuat. Mereka ingin lebih tenang tanpa harus terbebani pekerjaan.
Tanaman Samsudin yang berada di pekarangan dan halaman sudah di babat habis, terop besar mulai didirikan di tempat itu. Warga berdatangan membawa tentengan sembako atau bahan pangan lainnya. Samira tampak tunjuk sana tunjuk sini mengatur penataan ruangan.
Nurmala membantu pekerjaan ringan yang bisa dia lakukan. Samsudin mengatur dan berbincang dengan beberapa orang tamu sambil memberikan rekomendasi jika ada pertanyaan seputar gelar acara pernikahan.
"Pelaminannya gede pisan Mpok Samira?" tanya seorang teman Samira saat bertemu.
"Ya mesti atuh, Nurmala kan anak Samira!" jawab ibu Nurmala membanggakan dirinya.
"Calonnya orang mana Neng?" tanya seorang tamu kepada Nurmala.
"Dia kerja di kota, pengawas Nurmala!" Samira menyerobot jawaban, Nurmala hanya terdiam dengan ucapan ibunya yang mendominasi penjelasan. Para tamu yang mendengar manggut-manggut, merasa pantas jika perayaan pernikahan dibuat besar dan meriah.
Persiapan demi persiapan terus disempurnakan, semua terlihat sibuk terutama kaum wanita. Nurmala sibuk meronce bunga melati yang besok akan dia kenakan dalam akad nikah. Jari-jarinya tampak piawai menjalin putih-putih melati itu menjadi sebuah lembaran dengan ujungnya berhias mawar merah.
"Selesaikan pekerjaanmu, lalu istirahatlah Nur, besok masih banyak acara, jangan sampai kamu kelelahan dan sakit!" kata Samira kepada putrinya. Segalak apapun Samira, dia tetap sayang dengan anaknya Nurmala.
Malam semakin larut, sekarang giliran para pria yang bertugas, begadang sambil main gaple dengan camilan, kopi dan rokok. Mereka menjaga barang-barang dan semua perabotan milik tuan rumah dan semua barang sewaan yang menjadi tanggung jawab pemilik hajat. Sesekali mereka berkeliling ke depan dan belakang untuk memantau situasi terkendali. Jangan sampai ada orang berniat jahat mensukseskan rencananya, baik itu secara halus ataupun kasar.
Nurmala tampak tak tenang dalam tidurnya, perasaan bahagia bercampur tegang membuatnya mudah terbangun dan melihat arah jam dinding di kamarnya.
Sementara di rumah Rizal, ada dua orang perempuan yang masih terjaga menyelesaikan packing kue hantaran untuk Aldi. Pagi benar mereka harus sudah melaju menuju rumah Nurmala. Aldi memilih tidur di depan TV rumah Rizal, dia tidak ingin bangun terlambat ke rumah Nurmala.
Pukul tiga pagi Aldi sudah terbangun, segera mandi kemudian sholat di musholla kecil rumah Rizal. Tak lama kemudian Rizal terbangun, dia tersenyum melihat Aldi sudah bersila di atas sajadahnya.
"Kamu sudah siap Al?" tanya Rizal saat masuk ke musholla.
"Sudah Zal, tapi aku sedikit tegang!"
"Santai Al, berdoa saja semoga semua lancar tanpa ada halangan yang berarti!" saran Rizal, Aldi mengangguk mendengar nasehat teman dekatnya itu.
Semburat cahaya pagi sudah mulai tampak di timur kota, segala benda bawaan Aldi sudah masuk dalam mobil Rizal. Sopir Rizal sudah bersiap menunggu penumpang.
__ADS_1
Tak lama kemudian Aldi masuk, disusul Rizal dan lima orang karyawan Rizal yang menjadi teman Aldi diikutsertakan.
"Sudah semua?" tanya Rizal
"Sudah Kang!" jawab penumpang, kemudian mobil bergerak meninggalkan rumah Rizal menuju rumah Nurmala.
Aldi melepas jas hitamnya, dia merasa gerah. Dia duduk di jok tengah bersama seorang teman, Rizal di samping sopir sekaligus bertindak sebagai penunjuk jalan.
Di rumah Samsudin, Nurmala sedang dirias dalam kamarnya. Dua koper besar baju ganti pengantin sudah tersedia. Wajah Nurmala dipoles sambil berbaring, kata perias agar hasilnya lebih sempurna.
Menjelang tengah hari rombongan pengantin pria tiba, Nurmala sudah siap dengan dandanan sempurna duduk menunggu dalam kamar, hatinya semakin berdebar saat mendengar panggilan ke depan, karena penghulu sebentar lagi akan datang.
Nurmala keluar, Aldi menatapnya tanpa kedip, kecantikan Nurmala semakin paripurna dengan kebaya warna putih, dengan melati menjuntai di bahu kanannya. Mahkota di kepala memancarkan aura bidadari cantik jelita penguasa hati pria. Nurmala didudukkan ibunya bersebelahan dengan Aldi di sebuah kursi dan meja untuk ijab kabul di depan penghulu.
Suasana hening saat penghulu mempertanyakan kepada Aldi tentang kesiapan Aldi dan Nurmala untuk membina rumah tangga. "Baiklah Kang Aldiansyah, sekarang kita lakukan ijab kabul, semua saksi mari kita mulai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Nurmala binti Samsudin dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!!" Aldi mengucapkan kalimat kabul dengan lancar dan tegas.
"Baiklah Kang Aldi dan Neng Nurmala sekarang baca janji nikahnya!" pinta penghulu. Aldi membaca janji nikah di buku nikah suami, dia akan setia dan bertanggung jawab atas istri dan keluarganya.
Nurmala membaca janji nikah di buku nikah istri, akan setia mengabdikan diri pada keutuhan rumah tangga sebagai istri.
Prosesi akad nikah diakhiri dengan nasehat perkawinan dan khutbah nikah dari Modin, kemudian jamuan kepada seluruh undangan.
Wajah dua mempelai sangat sumringah, terutama pengantin pria, akhirnya usahanya untuk menikahi Nurmala telah menjadi sebuah kenyataan. Meski tanpa kehadiran keluarganya tidak menjadi sebuah kesedihan bagi Aldi. Dia hanya berharap orang tuanya memaafkan tindakannya ini.
Mereka duduk di pelaminan, pemotretan semi pemotretan berkali-kali mereka jalani dipandu tukang foto dan perias. Mereka sudah disewa dan ingin melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
Semua prosesi sudah dilakukan, tamu sudah tampak sepi. Nurmala duduk dikursi, Aldi duduk didepannya. Dibantu perias, satu persatu aksesoris Nurmala dilepas dari kepala.
"Huuh, enteng kepala Nur sekarang!" gumam Nurmala. Aldi hanya tersenyum maklum.
Meja kursi tamu sebagian sudah ditumpuk, sebagian dekorasi juga sudah di lucuti. Samsudin tampak lelah duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
"Huah, aku tidur dulu ya, capek sekali!" pamitnya pada keluarga.
"Iya Kang!" kata Samira sambil membereskan amplop di kotak sumbangan tamu.
Aldi dan Nurmala sudah menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Mereka berdua duduk di samping ranjang, Nurmala tampak tersipu tak sanggup menatap wajah Aldi meskipun sudah seringkali memandang wajahnya, dia malu dengan hasratnya.
"Nur lebih dekatan dong duduknya!" bisik Aldi kepada Nurmala yang sedikit menjauh di ujung dipan. Setiap kali Aldi mendekat, Nurmala menggeser duduknya.
"Nuur, sini dong!" rayu Aldi, tapi Nurmala malah berdiri di pojok kamar.
"Nuur, kenapa di situ, sini dong ayangku!" rayu Aldi, tapi Nurmala menggelengkan kepalanya.
"Eeeh, Nuur... Akang sudah menjadi suamimu, boleh tidur bersama!" Nurmala hanya diam mematung.
"Apakah Akang akan me........Nur?" tanyanya sambil memadukan dua telunjuknya. Aldi tertawa geli "Dasar lugu!" batinnya.
"Sini, duduk sini!" kata Aldi sambil menepuk kasur, Nurmala tetap ragu untuk beranjak dari pojokan kamar. Aldi menjadi tak sabar.
Klek....PET, lampu padam, Aldi sengaja mematikan listrik, Nurmala ketakutan akhirnya berlari dalam pelukan Aldi.
Aldi yang sudah lama memendam hasrat, ingin memuaskan diri di malam pertamanya. Tangannya bergerilya ke wilayah yang ingin dia raba, dari lembah hingga puncak gunung Himalaya. Mencium daerah yang ingin dia cium. Nurmala yang sebelumnya malu-malu dengan keinginannya menjadi terbawa dengan hasrat nafas Aldi yang membara.
Aldi menghempaskan tubuh Nurmala diatas kasur, kemudian perlahan dia naik sambil bergerilya.
Braakkk!!.... Gubrakk!!
Dipan patah di tengah, mereka berdua sangat kaget.
"Bagaimana ini Kang?" bisik Nurmala
"Nanggung nih, lanjutkan di bawah saja!"
Akhirnya kasur mereka tarik ke lantai.
__ADS_1