Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Ingin Mengatakan Semua


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam di cakrawala, cahayanya berpamitan pada alam belahan bumi, dia berjanji esok akan datang kembali. Dedaunan mengerti, matahari tak akan ingkar janji, bersama datangnya kegelapan malam, pohon-pohon pun tunduk menjalankan tugasnya di malam hari.


Rumah keluarga Samsudin tampak lengang, penghuninya masih berada di dalam kamar. Mobil Aldi masih Aldi masih teronggok di halaman.


"Apakah kita akan mengajak Bapak dan Ibu Kang?" tanya Nurmala saat selesai sholat Maghrib.


"Lain kali saja Nur, aku ingin hanya berdua denganmu!" Nurmala terdiam mendengar jawaban suaminya, hatinya berdebar, seperti ada sesuatu sangat penting yang ingin Aldi sampaikan. Sejak sore Aldi tampak tegang, banyak kekhawatiran tersirat di wajahnya.


"Ayo Kang, kita berangkat!" Nurmala sudah berdiri dengan tas panjang menggelantung di pundak kirinya. Riasan tipis, lipstik berwarna terang senada pakaian yang dia kenakan, membuatnya tampak anggun, sama sekali hilang kegarangannya saat marah.


"Kamu cantik sekali Nur!" puji Aldi, bukannya tersipu, Nurmala malah memonyongkan bibirnya yang merah.


"Ayo berangkat, keburu malam!" sergah Nurmala. Merekapun beriringan keluar kamar.


"Kami keluar dulu Pak, Buk!" kata Aldi sambil melangkah keluar rumah bersama Nurmala.


"Kita kok tidak diajak sih Pak, aku kan juga ingin jalan-jalan?!" ungkap Samira.


"Buk, mereka ingin berdua saja, kalau kita ikut malah ganggu, jadi kita juga berdua saja mumpung nggak ada anak-anak!"


"Tambah dulu uang belanjamu kalau minta jatah tambahan!"


"Waduh, mulai dah matrenya kambuh!" gumam Samsudin sambil garuk-garuk kepala.


❤️❤️❤️❤️


Mobil Aldi bergerak pelan, pandangan mereka mencari-cari tempat nyaman untuk duduk berdua. Adzan Isya' sudah berkumandang tapi mereka belum menemukan tempat yang cocok di hati Aldi.


Akhirnya di sebuah desa lain ada sebuah warung makan cukup besar, bernuansa alam. Aldi berjalan berkeliling memilih tempat.


Sebuah gazebo Aldi pilih untuk bisa duduk berhadapan dengan jarak yang tepat untuk bersama Nurmala.


"Disini Nur!" Aldi menarik tangan Nurmala.

__ADS_1


Mata Nurmala memandang sekeliling, merasakan suasana romantis yang didesain pemiliknya. Sejenak mereka duduk, pelayanan menunjukkan daftar menu sambil membawa catatan.


Beberapa lama memilih makanan, pelayan itu pun meninggalkan mereka berdua. Mata Aldi mulai memperhatikan Nurmala secara seksama, mampukah dia kehilangan seseorang yang sangat dia cintai jika mengatakan semua masa lalunya selalu muncul di hatinya.


"Nur?"


"Iya Kang?"


"Apakah kamu mencintaiku?" tanya Aldi dengan tatapan mata serius.


"Mengapa Akang mempertanyakan itu setelah sekian lama kita menikah?"


"Ya, mungkin saja kamu bosan padaku, kemudian kamu berhubungan dengan laki-laki lain?"


"Heeeh, Akang mengajak aku jauh-jauh ke sini untuk menanyakan itu?!" Nurmala menggebrak meja, matanya melotot ke arah Aldi.


"Syuuut... syuuut..Nur..Nur, jangan keras-keras didengar orang!" Aldi kebingungan saat Nurmala berteriak emosional, dia merasa salah memulai percakapannya.


"Iya..iya Nuur, Akang salah!" Aldi memelas, tatapan cinta mata Aldi membuat wajah Nurmala kembali melunak.


"Maksudku, jika kamu masih cinta, apakah kamu bisa menerima masa laluku yang tidak indah Nur?"


"Itu tergantung nanti!" jawab Nurmala cuek sambil memainkan tusuk gigi di meja.


"Inilah yang aku takutkan ketika ingin berkata jujur padamu Nur, kau akan meninggalkan aku!"


"Akang mau ngomong apa sih sebenarnya, katakan secepatnya, nanti keburu warungnya tutup!"


"Disini buka 24 jam kok, lihat itu!" tangan Aldi menunjuk tulisan di dinding gazebo.


"Hemmmh, iya! Tapi cepat katakan yang ingin ceritakan!" Nurmala mendengus kesal.


"Tapi berjanjilah padaku dulu Nur, setelah kamu tahu tentang masa laluku, kau tidak akan meninggalkan aku!"

__ADS_1


Mendengar kata-kata itu Nurmala terdiam, "Seserius itukah masa lalu Kang Aldi sehingga aku harus berjanji?" tanya batin Nurmala. Dia tak langsung menjawab, tapi menatap suaminya lekat-lekat. Dia tak pernah mengingkari dirinya bahwa lelaki yang ada didepannya adalah orang yang dulu mampu merebut hatinya hingga saat ini.


"Aku tidak bisa berjanji Kang, tapi aku sangat menghargai sebuah kejujuran!" jawab Nurmala kemudian.


"Baiklah, aku hargai pilihanmu Nur, yang perlu kamu ingat mengapa selama ini aku simpan semua ini adalah karena aku tidak pernah ingin kehilangan dirimu Nur, kaulah cintaku dan kamulah istriku!" kata Aldi sambil menggenggam jemari Nurmala.


Pelan-pelan Nurmala menarik tangan, lalu menyilangkan di dada tanpa berucap, menunggu dengan wajah serius ingin mendengarkan.


"Baiklah!" Aldi mengambil posisi rileks untuk memulai cerita, tapi Aldi menghentikannya karena pelayan datang membawa pesanan.


"Sambil makan ya, lapar!" kata Nurmala tak sabar mengisi perutnya yang sudah sejak tadi menahan lapar. Aldi mengikuti keinginan Nurmala, dia cuci tangan lalu menyantap ayam bakar dan lalapannya.


"Annisa datang ke sekolahku sebagai anak pindahan!" ucap Aldi sambil sambil melahap makanannya. Nurmala melirik ke arah suaminya.


"Makan saja dulu, mendengar namanya saja aku tidak berselera makan!" sergah Nurmala.


"Uhuk, ups! Okelah, katanya tadi suruh segera bercerita?!"


"Iya tadi sebelum ada makanan, kalau sekarang tidak inginnya menikmati ayam bakar!" omel Nurmala sambil menarik daging dari tulangnya. Aldi terdiam, dia merasa Nurmala menjadi lebih galak dari yang selama ini dia kenal.


"Mungkin memang begini sifat si bintang Leo, diam tapi ketika terluka, tak ada yang bisa mengalahkannya, menerkam apapun yang ada di hadapannya" batin Aldi sambil mengunyah lalapan bersama sambal.


Nurmala sangat menikmati rasa pedas sambal ikan bakar, mulutnya ngos-ngosan menahan panas dari cabe di cobeknya, sesekali dia menatap wajah Aldi. "Mampukah aku meninggalkan dia jika kebohongannya tak bisa kumaafkan?" tanyanya dalam hati.


Nurmala mengingat kembali perjuangan Aldi saat mengumpulkan uang, siang malam bekerja, rela menjadi tukang ojek pengkolan demi bisa menikahi Nurmala. 'Sungguh manis jika mengingat masa perjuangan itu' tanpa sadar dia tersenyum.


"Kenapa Nur?" tanya Aldi penasaran.


"Nggak ada, aku geli saja melihat Akang kelaparan!" Aldi hanya tersenyum, dia mengerti jika Nurmala sebenarnya menyembunyikan alasan dari senyumnya. Aldi menyeruput jeruk hangat, Nurmala masih menuntaskan sisa-sisa tulang di piringnya.


"Haiik, Alhamdulillah!" Aldi bersendawa, Nurmala hanya melirik cuek sambil menggerogoti ayam. Aldi bisa tersenyum, aura galak Nurmala sudah menghilang, kini Aldi bisa melihat putri Samsudin yang lembut dan penyayang.


"Sungguh Nur, aku tidak tahu bagaimana jika kau benar-benar pergi dariku!" batin Aldi sambil memandang Nurmala.

__ADS_1


__ADS_2