
Beberapa hari Aldi mencari kesempatan membuka ponsel Nurmala. Dia sudah mengantongi beberapa teknik membuka ponsel yang terkunci.
Nurmala masih memasak di dapur, dia melihat ponsel Nurmala tergeletak sendirian, rasa hati ingin sekali menyentuhnya, tapi tak ingin terpergok yang punya. Aldi tak ingin dianggap tidak mempercayai istrinya, walaupun sebenarnya dia memang curiga.
Aldi duduk gelisah di kursi sangat dekat dengan ponsel Nurmala. "Tuhan, beri aku kesempatan!' doanya lirih.
"Kang, tolong goreng ini, perurku mulas!" teriak Nurmala dari dapur. Aldi bergegas memenuhi permintaan Nurmala menggoreng tempe.
"Terus apalagi ini Nur?" tanya Aldi.
"Tolong siapkan bekalku Kang, biar tidak kesiangan!" jawab Nurmala dari dalam kamar mandi. Andi mengambil wadah yang biasa Nurmala pakai untuk membawa bekal, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.
Klek.. krieet..
Nurmala keluar kamar mandi, kemudian bergegas masuk untuk berganti pakaian. Dia merasa sudah terlalu siang untuk berangkat ke toko.
"Ayo Kang berangkat!" tanpa basa-basi Aldi langsung mengambil kunci motor, dengan sigap dia sudah berada diatas motor dengan bekal Nurmala. Sesaat kemudian dia sudah berpacu dengan pengendara lain di jalanan kota.
Sesampainya di toko.
"Waduuh, Handphone aku ketinggalan, nanti antarkan ke sini ya Kang!" Aldi hanya mengangguk dengan isyarat jempol sambil tersenyum memutar balik motornya.
"Mungkin ini kesempatan yang Tuhan berikan padaku!" batin Aldi gembira. Dia melaju cepat menuju rumah. Memarkir motor langsung menuju meja tempat ponsel Nurmala terbaring sendirian.
Aldi langsung mengeluarkan ponsel miliknya, kemudian mencari nama istrinya. Ponsel Nurmala berbunyi Aldi cepat-cepat mengambilnya. Dari situ dia bisa membuka ponsel Nurmala. Dengan cepat dia buka pesan dan mengecek nama siapa saja yang sudah masuk dalam ponsel Nurmala. Tapi dia tidak ada nama yang patut dia curigai. Nama Rasya tak ada di sana.
Aldi lega, dia percaya istrinya tidak melakukan hal yang mencurigakan. Dia letakkan ponsel Nurmala, tapi pada saat itulah gawai itu berbunyi. Dan yang membuat Aldi tersentak adalah nama Rasya sebagai pemanggilnya.
Dengan hati bergetar Aldi mengangkat ponsel itu. "Assalamualaikum Kang Rasya! ada apa ya?" Aldi menjawab dengan suara perempuan.
"Suara kamu kok beda Nurmala?" tanya Rasya di seberang telepon.
"Iya Kang, aku lagi batuk dan serak!"
"Ketemu yuk!" kata Rasya
"Dimana Kang?"
__ADS_1
"Aku kirim alamatnya!"
"Oke, siap!"
Komunikasi Rasya akhiri dengan salam, Aldi segera membuka pesan baru dari Rasya mencatat alamat yang dimaksudkan lalu menghapusnya. Dia bergegas keluar kembali untuk mengantarkan ponsel Nurmala ke toko.
Hatinya bergemuruh, Aldi merasakan tubuhnya melayang, rasa benci cemburu membumbung di kepala.
Sesampainya di toko Aldi langsung memberikan ponsel itu, tanpa bicara dia kembali keluar mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju taman kota. Di tempat itu Aldi menangis.
"Aaaghk!!!"
Braakk... Braakkk... Braakk
Aldi melampiaskan kekesalan dan kepedihan hatinya pada semua benda yang ada di dekatnya. "Nurmala, teganya kamu Nur!" keluhnya sambil mengacak-acak rambut. Aldi menangis tersedu-sedu. Sakit di dada dan hatinya itulah yang Aldi rasakan.
Dia merasa sudah memberikan segalanya untuk Nurmala, tapi dibalas dengan tuba.
"Berfikir lah jernih mas!" Aldi terkejut karena tiba-tiba mendengar suara seseorang di sampingnya.
"Setiap masalah ada jalan keluar, carilah dengan hati yang tenang!" Aldi menghentikan tangisnya. Menoleh kembali ke arah suara itu, tapi laki-laki itu sudah beranjak pergi, Aldi hanya bisa melihat bayangannya hilang di balik tumbuhan taman.
Aldi terdiam sambil berusaha mengendalikan perasaan sakitnya. Merogoh saku, mengambil kertas bertuliskan alamat dari Rasya. Dia tatap alamat itu lekat-lekat, sebuah tempat romantis yang sudah sangat terkenal.
Dia melirik jam tangannya, "Masih satu jam lagi!" gumam Aldi. Dia kembali terdiam, matanya menerawang. Memikirkan nasibnya, Aldi merasa tidak seberuntung orang lain dalam perjalanan hidupnya.
Pernikahan dengan Anisa karena sebuah tipu daya, kini bersama Nurmala. Lama Aldi berdiam di taman, menata hati sambil menunggu waktu untuk bertemu Rasya. Dia kembali melirik jam tangan. Aldi bangkit menuju toilet terdekat untuk sekedar buang air dan mencuci muka.
Tak berapa lama, Aldi sudah berada di atas motor, berkaca mata dan helm. Nyaris tak tampak wajahnya, dia berhenti di tempat parkir tempat yang Rasya maksudkan.
"Silahkan masuk Mas!" kata satpam.
"Sebentar Pak, saya masih menunggu kawan!" Jawab Aldi sambil berdiri di dekat motor, Aldi melihat dari kejauhan tampak sebuah mobil masuk. Pengemudinya turun "Rasya!" Aldi pura-pura tak melihatnya, dia memilih menghadap arah lain dengan tetap memakai helmnya.
Rasya berjalan masuk dengan senyuman. memilih duduk strategis yang telah dia pesan sebelumnya. Dia memesan minuman dan makanan kecil untuk menunggu Nurmala datang. Saat itulah Aldi masuk.
Tap..tap..tap
__ADS_1
Aldi berjalan pelan ke tempat duduk Rasya.
"Selamat siang Kang Rasya!" kata Aldi. Rasya menoleh.
"Oh, kamu Al? Dimana Nurmala?"
"Dia tak bisa datang, jadi aku mewakili!" kata Aldi dingin sambil menahan emosi jiwanya.
"Oh begitu, silahkan pesan makanan yang kau inginkan Al!"
"Emmmh, tidak perlu, aku masih kenyang!"
"Oh, baiklah!" ucap Rasya.
"Aku ke sini hanya ingin tahu, ada urusan apa Mas mengajak pertemuan dengan istriku?!" tanya Aldi dengan pandangan mata dingin, tapi tangannya mengepal di bawah meja.
"Aku hanya ada urusan bisnis tas dengan Nurmala, tidak ada yang lain!" jawab Rasya santai sambil mengembangkan senyuman.
"Oo.. urusan bisnis!? haruskah di tempat romantis berdua saja?" Aldi tersenyum sinis.
"Apakah Mas menyukai istriku Nurmala?" mata Aldi menatap tajam wajah Rasya.
"Apa maksudmu tanya seperti itu padaku!?" Rasya berlagak tak memahami pertanyaan Aldi.
"Hhaaahh, aku pikir kamu cerdas Rasya, ternyata kamu tolol!" Aldi memasang wajah dan senyum dinginnya. Rasya masih bingung di seberang tempat duduk Aldi. Mereka berhenti saat Pelayan datang mengantarkan makanan.
"Selamat menikmati Tuan!" pelayan itu tersenyum ramah sambil melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apakah yang kemarin mengangkat telepon itu kamu, bukan Nurmala?" tanya Rasya.
"Yaaah, begitulah! ponsel Nurmala tertinggal di rumah, saat aku ingin mengambilnya anda menelepon!"
"Dan kau berpura-pura menjadi Nurmala? Hemmmh, pantas saja suara itu langsung menyetujui permintaanku untuk bertemu, biasanya Nurmala tidak pernah mau!"
"Oh ya?? Lalu untuk apa kau terus mengganggu, jika dia tidak pernah mau!? apa Mas ingin aku tinju biar sadar kalau Nurmala sudah menjadi istri sah ku!!" kata Aldi sambil mencondongkan tubuhnya sambil mengepalkan tangan. Matanya menatap tajam ke wajah Rasya.
"Selama ini aku sangat menghormati Kamu sebagai rekan bisnis, tak tahunya kau hanya tertarik pada wanita yang sudah memiliki suami, dan itu istriku, sungguh tak tahu diri!"
__ADS_1