Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Motor Baru


__ADS_3

Malam itu Nihaya sudah kembali bekerja tapi Nurmala masih menunggu kondisi tubuhnya kuat untuk bekerja di sepanjang malam. Aldi mencatat tanda kehadiran Nurmala dengan sakit.


"Niha, bagaimana kondisi Nurmala?" pertanyaan Aldi saat bertemu Nihaya di depan pintu masuk ruang produksi.


"Sudah baik Mas, tapi masih butuh istirahat" Aldi mengangguk dengan jawaban Nihaya.


Waktu kerja dimulai, semua karyawan sif malam berada di posisinya masing-masing, Aldi berkeliling mengontrol hasil mereka dengan teliti. Sekilas dia melihat meja Nurmala yang masih kosong. Aldi tersenyum mengingat pelukan Nurmala tempo hari, "Sungguh, aroma tubuhnya tak bisa aku lupakan" batin Aldi.


Malam bergeser mendekati pagi, tak jarang diantara karyawan menguap karena rasa kantuk yang mendera, kemudian mereka berdiri membuat secangkir kopi panas agar bisa bertahan hingga pagi.


Aldi menyadari inilah resiko kerja di tempat orang, harus mengikuti aturan main mereka. Ada keinginan kuat Aldi untuk berdikari, tapi dia merasa belum cukup pengalaman dan modal, suatu saat dia ingin punya usaha sendiri.


Saat ini tabungannya akan dia belikan motor, agar tranportasinya lebih mudah dan hemat. Selanjutnya dia baru akan berfikir tentang modal usaha mandiri.


Aldi keluar dari ruang produksi saat sepertiga malam, menyilangkan tangan memandang rembulan dan bintang-bintang di langit. Itu menjadi kebiasaan Aldi ketika sedang tugas malam. Dia merasa ada kedamaian tersendiri membayangkan dan mengingat kedua orang tuanya di kampung halaman.


Beberapa lama dia berdiri di luar, kemudian kembali masuk berkeliling sambil berbincang dengan karyawan. Hingga waktu subuh tiba mereka masih bekerja, baru kemudian sholat subuh bagi yang menjalankan, dan kembali bekerja hingga pukul enam.


***********


Aldi bangun dari tidurnya, segera mandi dan bergegas keluar kontrakan, dia ada janji dengan seorang teman yang ingin menjual motornya.


Aldi keluar membawa helm lama yang sudah dia beli sebelum memiliki motor, berjalan cepat menuju jalan raya untuk menunggu angkot lewat. Cukup lama menunggu, akhirnya Aldi bisa menumpang angkot yang melewati tujuan.


"Kiri Kang!" Aldi menghentikan angkot, turun di sebuah rumah berpagar besi yang cukup besar. Banyak orang bekerja di samping rumah ini.


"Assalamualaikum, punten...Rizal ada Kang?" tanya Aldi kepada para pekerja.


"Ada, tapi masih keluar Mas, dia tadi berpesan, kalau ada tamu suruh menunggu sebentar!" kata salah satu dari mereka.


Aldi mengamati, tempat itu memproduksi jenis tas sekolah dan tas kantor. Aldi menilai Rizal cukup sukses dengan usaha mandirinya. Dia menjual motor karena ingin mengganti dengan model baru. Jika dijual ke delear, motor akan dibeli lebih murah daripada pasaran. Jadi dia milih untuk menjualnya kepada orang lain, Aldi lah orang yang tertarik untuk membelinya.

__ADS_1


Aldi mengamati proses produksi, dia menilai membuat tas lebih mudah, simple, dan modalnya tidak besar seperti membuat baju.


Tak lama kemudian Rizal muncul dari pagar depan. Rizal tampak lebih gemuk.


"Hai Al, dari tadi?" tanya Rizal


"Belum, aku belajar di sini!' Aldi menjawab sambil berjalan mengikuti Rizal masuk dalam rumah.


"Kamu hebat Zal, baru tiga tahun keluar pabrik sekarang sudah seperti ini!" puji Aldi sambil menepuk bahu temannya itu.


"Alhamdulillah Al, tapi untuk modal aku dibantu orang tua dan mertua!" papar Rizal.


"Ya ya...memang bisnis butuh modal, tapi modal nekat lebih penting!!" kata Aldi yang disambut tawa berderai dari keduanya.


"Makanya kamu cepat nekat untuk menikah, cari cewek yang mau diajak sengsara!" Rizal berkelakar.


"Hahaha, mana ada orang tua yang mengizinkan anaknya diajak hidup sengsara Rizal, ada-ada saja kamu!, sekarang aku sudah menemukan cewek idaman Zal, tapi nanti saja ngobrolnya ya, aku banyak urusan, bagaimana motornya?, jadi kamu jual?"


"Deal!!, motormu jadi milikku" seru Aldi gembira. Rizal menyerahkan kunci, STNK, dan BPKB kepada Aldi.


Tak lama setelah itu, Aldi pamit dengan motor Suzuki RX tahun 1999, tergolong baru karena masih setahun di tangan Rizal. Aldi sangat gembira atas pencapaiannya. Senyum mengembang di sepanjang jalan dari bibirnya yang berkumis tipis.


Deru motornya seperti nyanyian sebuah kesuksesan dari seorang negeri rantau yang ingin pulang membawa kesuksesan. Tiba-tiba Aldi menekan rem dan kopling kuat-kuat dan berbalik arah menuju sebuah toko helm dan jaket.


Setelah memilih, memilah model dan warna Aldi kembali melaju di jalanan. Sebuah kardus berisi helm dia letakkan di depan dada, satu bungkusan kantong plastik di tangan kirinya.


Dia berhenti di kontrakan Nurmala.


Tok..tok..tok.."Assalamualaikum, punten!" beberapa lama menunggu tak ada yang menyahut. Aldi mengulangi ucapannya, baru kemudian pintu terbuka.


"Waalikum salam, Mas Aldi?" Nihaya membuka pintu. Mata Aldi seperti masih mencari seseorang.

__ADS_1


"Nurmala masih di kamar mandi Mas!" Nihaya ketus, karena Aldi pasti mencari Nurmala bukan dirinya. Tak lama kemudian Nurmala keluar dari pintu kamar mandi.


"Nurmala!!, dicari Mas Aldi!" teriak Nihaya. Nurmala masuk ke ruang tamu.


"Ada apa Pak Aldi?" tanya Nurmala sambil berdiri dengan rambut basahnya yang tertutup handuk.


"Aku mau ambil jaketku, ini jaketmu, pakai saat kerja biar tidak masuk angin!" Aldi menyerahkan bungkusannya. Nurmala ragu antara menerima dan menolak.


"Terima saja Nur, biar kamu lebih hangat saat lembur!" Nihaya memberi saran. Akhirnya Nurmala menerima.


"Ini lagi Nur, helm!, biar tidak kena tilang polisi saat naik motor bersamaku!" kata Aldi sambil menyunggingkan senyum tipisnya.


"Terima Nur!, nanti kalau aku bisa beli motor biar tidak kena tilang polisi juga!" Nihaya meminta Nurmala menerima pemberian Aldi. Nurmala tak bisa berkutik di hadapan dua orang seniornya. Akhirnya jaket dan helm berada di tangan Nurmala.


"Aku ke kamar dulu Pak Aldi!" Nurmala pamit. Aldi mengangguk.


"Aku pamit juga Niha!" Aldi berjalan keluar menuju motornya, tapi kembali masuk, karena jaketnya masih di kamar Nurmala.


"Nurmala, jaketnya!!" seru Nihaya, tak lama kemudian Nurmala keluar membawa jaket Aldi.


"Niha, ada salam dari Rudi!" kata Aldi sambil mengenakan jaketnya. Nihaya mengernyitkan dahinya dan berkata "Waalikum salam!!"


"Rudi teman satu kost mas Aldi?"


"Iyo, betul Niha!, salam balik nggak?"Nihaya terdiam mendengar pertanyaan Aldi. Dia tidak memiliki rasa tertarik pada Rudi.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya!"


Aldi mendekati motor, lalu melambaikan tangan dengan senyuman. Mereka belum beranjak masuk, sesaat ingin memandangi kepergian Aldi melaju pergi bersama motor barunya.


Senyum kesuksesan menyebar di seluruh tubuh Aldi, bibirnya bersiul bernyanyi, badannya sedikit bergoyang ke kanan kiri. Kadang senyumnya mengembang karena membayangkan Nurmala dalam boncengan dengan tangan menyilang di pinggangnya.

__ADS_1


__ADS_2