
Evelyn mengusap peluhnya untuk yang terakhir kali, semua pekerjaannya sudah selesai, itu artinya dia sudah bisa makan sekarang. Evelyn melihat jam yang sudah menunjukkan hampir tengah hari, huh pantas saja gadis itu begitu lemas. Dari pagi dirinya belum menerima asupan makanan sesuap pun.
Evelyn mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik tanpa kesulitan. Walaupun dia terlahir dari keluarga yang berada, Mommynya, Anastasia selalu mengajari Evelyn mengurus rumah. Agar kelak, Evelyn tidak kesulitan saat sudah menjadi seorang istri.
Evelyn memasuki ruang makan, saat itu juga kepala pelayan datang menghampirinya. Wanita paruh baya bernama Kane itu, bermaksud menyampaikan pesan dari majikannya, Aaron.
"Maaf Nona Eve, Tuan tidak memperbolehkan anda makan sebelum semua pekerjaan rumah ini selesai." Kane terlihat tidak tega mengatakan pesan itu.
Kening Evelyn berkerut, "Bukankah semuanya sudah selesai kukerjakan?"
"Maaf Nona, tugas Nona bukan hanya di dalam rumah ini saja, taman depan, taman belakang dan sekitar lingkungan rumah ini juga bagian dari pekerjaan anda."
Ya Tuhan cobaan apalagi ini, pandangan Evelyn menjadi kosong, pria itu begitu tega kepadanya.
Dengan tubuh lunglai, Evelyn berjalan keluar dari rumah itu, menuju taman.
Taman rumah itu begitu luas, Evelyn tidak yakin dia akan sanggup mengerjakannya, sekarang saja tubuhnya sudah terasa lemas.
__ADS_1
Evelyn mengerjakan taman itu sambil mengusap keringat dingin yang bercucuran di dahinya. Perlahan pandangannya menggelap, kakinya serasa tidak dapat lagi menopang tubuhnya. Dan akhirnya tubuh gadis itu tumbang di atas rumput basah di taman itu.
***
Aaron menatap lekat gadis yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur. Setelah mendapat kabar dari Kane, Aaron langsung pulang dan meninggalkan pekerjaannya. Entah mengapa dia begitu cemas mengetahui gadis yang sudah menjadi istrinya tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, Evelyn sadar, seketika Aaron menyembunyikan wajah cemasnya.
"Kane, berikan dia makan, jangan sampai dia mati kelaparan." ucap Aaron dengan dingin, lalu meninggalkan kamar itu.
Evelyn nampak bingung sejenak, hingga ia mengingat saat dirinya jatuh pingsan saat bekerja di taman.
"Aku baik-baik saja..."
"Saya Kane Nona, panggil saja saya Kane." jelas Kane.
"Nona tunggulah sebentar, saya akan mengambilkan makanan untuk Nona." ucap Kane, lalu meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
Evelyn menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, tubuhnya masih terasa lemas, karena belum makan sama sekali.
Seminggu sudah Evelyn tinggal di rumah Aaron, perlakuan pria itu tidak berubah sama sekali. Evelyn tetap mengerjakan semua pekerjaan di rumah itu. Evelyn bersyukur, setidaknya pria itu masih memperbolehkannya makan sebelum bekerja.
Dan selama seminggu ini, Evelyn sama sekali tidak bertemu dengan Aaron. Ya, walau mereka suami istri, mereka tidur di kamar yang berbeda. Aaron akan berangkat bekerja sebelum Evelyn keluar kamar dan pulang setelah Evelyn tidur. Lebih tepatnya, gadis itu diperlakukan seperti seorang pembantu daripada istri.
Hari sudah menjelang malam, Evelyn menaiki anak tangga menuju kamarnya. Tangannya bergerak memutar gagang pintu kamarnya, tapi tidak bisa, kamarnya tidak bisa dibuka.
Evelyn pikir jika pintu kamarnya rusak, hingga sebuah suara berat mengagetkannya dari arah belakang.
"Sampai matipun kau tidak akan bisa membukanya." mata elang itu menatap tajam saat Evelyn berbalik badan.
"Tu..tuan.." Evelyn menundukkan kepalanya.
"Kau tidak pantas tinggal di kamar semewah ini." Tanpa memandang Aaron memerintah Kane yang berdiri di belakangnya, "Kane bawa dia ke tempat seharusnya." Kemudian berlalu dari hadapan Evelin.
"Mari Nona.." ajak Kane.
__ADS_1
TBC ☘️☘️☘️