Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Hasrat


__ADS_3

Malam itu, sesudah makan malam Evelyn memutuskan untuk tidur lebih cepat. Sebab tubuhnya sedikit lelah dan sakit akibat menjaga Anastasia selama semalaman di rumah sakit. Tapi itu tidak berarti apa-apa baginya, karena sekarang sedikit dari bebannya sudah berkurang.


Matanya sudah hampir tertutup, tetapi terbuka kembali ketika merasakan tempat tidur di sebelahnya bergerak. Evelyn membalikkan tubuhnya yang semula membelakangi pria itu. Kini dia bisa melihat Aaron yang sudah memejamkan matanya.


"Tuan..." Evelyn tau, Aaron tidak benar-benar tidur meski pria itu tidak menjawab panggilannya.


"Terima kasih Tuan." ujarnya menatap sendu pada pria itu.


"Terima kasih sudah menyelamatkan Mommyku."


Kali ini Evelyn benar-benar berterima kasih pada Aaron. Sebab jika bukan karena pria ini, Anastasia pasti masih sekarat hingga saat ini. Evelyn akui, dibalik kekejaman seorang Aaron Lisin, setidaknya pria itu masih memiliki hati nurani. Dan dia bersyukur untuk itu.

__ADS_1


Evelyn tersenyum, meski tau sebenarnya Aaron mendengar ucapannya. Karena memang seperti itulah sifat pria itu. Evelyn memejamkan matanya, karena rasa kantuknya sudah mulai menyerang.


Beberapa saat kemudian, pria yang tidak benar-benar tertidur itu membuka matanya. Beralih menatap gadis mungil yang sedang terlelap dalam tidurnya. Beberapa menit pria itu memandangi wajah cantik wanita yang sudah beberapa bulan ini dia jadikan istrinya.


Raut wajahnya datar kala kilasan kejadian-kejadian ketika dirinya menyiksa gadis ini berkelebat dalam ingatannya. Wajah sendu yang tetap memancarkan senyumnya meski betapa sakitnya beban yang dia pikul. Tidak pernah sekalipun gadis ini menangis walau seberat apapun bebannya. Senyum itu, senyum yang penuh kepalsuan itulah yang selalu menutupi penderitaannya.


Lamat-lamat memandangi wajah itu, Aaron tidak bisa mengendalikan diri untuk menyentuh wajah sendu itu. Dengan gerakan seringan bulu, setiap sudut wajah itu tidak luput dari sentuhan tangannya.


Seolah masih kurang, Aaron mendekat lalu menarik tubuh mungil itu dalam dekapannya. Membungkus tubuh Evelyn dalam dada bidangnya seolah ingin melindungi gadis itu.


Tatapan mereka terpaku, saling memandang wajah dalam binar mata bening itu. Evelyn yang seolah tersihir dengan tatapan tajam nan menawan itu, tetap tenang ketika Aaron mendaratkan ciuman di bibir ranumnya. Maniknya refleks terpejam, seolah dirinya menikmati sentuhan itu.

__ADS_1


Aaron mulai ***** bibir indah itu dengan lembut, tidak seperti dulu ketika Aaron selalu berbuat sesukanya.


Evelyn tidak tau, entah kenapa dia malah menikmati ciuman ini. Tanpa sadar dengan gerakan kaku Evelyn membalas ciuman pria itu bersamaan dengan kedua tangannya bergerak melilit leher Aaron.


Sontak Aaron melebarkan matanya, terkejut akan tindakan Evelyn baru saja. Apakah dia bermimpi? Evelyn benar-benar melakukan hal ini? Sungguh gadis yang penuh kejutan.


Tidak ingin membuang kesempatan, Aaron semakin memperdalam ciumannya. Entah bagaimana caranya, kini Evelyn sudah berada di atas tubuh Aaron yang sedang bersandar di kepala ranjang.


Tangan Aaron tidak tinggal diam, dengan lembut mengusap pinggul sintal dan sesekali meremasnya, yang mana membuat Evelyn mengerang di atas tubuhnya.


Aaron sungguh tidak menyangka bisa melakukan hal sejauh ini bersama Evelyn. Apalagi mengingat segala penolakan dan tatapan kebencian dari mata itu, membuatnya tidak berharap ini akan terjadi.

__ADS_1


Evelyn begitu menikmati apa yang dilakukannya saat ini, hingga tanpa sadar tangan Aaron sudah melepas satu persatu kancing piyamanya. Dan dalam satu tarikan piyama itu lepas dari tubuhnya.


"Tuan..."


__ADS_2