
Malam itu, seperti malam sebelumnya, Evelyn tidur di sofa kamarnya. Padahal sebenarnya, dia adalah pemilik kamar ini, tapi setelah Aaron datang, pria itu mendominasi dan menguasai seisi kamarnya.
Evelyn tidak bisa melawan, karena mau bagaimana pun dia membantah, dia tidak akan pernah menang melawan pria itu. Segala macam ancaman dan ultimatum, diacungkan oleh pria itu, yang tidak pernah membuatnya bisa berkutik. Dapat dikatakan, hidup dan matinya ada pada Aaron.
Evelyn baru saja keluar dari kamar mandi, setelah membasuh wajahnya sebelum tidur. Banyaknya beban yang sedang dipikulnya, membuat gadis belia itu tidak fokus.
Evelyn berjalan dengan lesu menuju sofa, banyak masalah yang sedang menggelayut dalam hatinya, hingga tak sengaja tubuhnya menyenggol vas bunga yang berada di atas meja. Vas bunga itu jatuh tepat di punggung kakinya, lalu memantul hingga serpihan vas keramik itu berserakan di lantai.
Evelyn meringis kesakitan, pada kakinya yang mengeluarkan darah, akibat tampan dari pecahan keramik.
"Sakit sekali." Meringis sambil duduk di sofa.
"Kau kenapa?" Suara bariton Aaron mengejutkannya, entah dari mana munculnya pria itu.
"Aku tidak apa-apa Tuan. Kakiku hanya terkena serpihan keramik saja." Evelyn bersikap seolah tidak merasa kesakitan.
__ADS_1
"Bodoh! Tidak apa-apa katamu?" Aaron menghampirinya, lalu menyentuh kaki Evelyn yang berlumuran darah. "Ini yang katamu tidak apa-apa?" Menatap tajam pada Evelyn.
Evelyn takut melihat wajah garang Aaron. "Aku.. aku tidak sengaja menabrak meja tadi.."
"Kau ini memang ceroboh." Aaron mengangkat Evelyn menuju tempat tidur.
"Tuan, apa yang kau lakukan. Turunkan aku..." Evelyn terkejut.
"Diam. Atau kupatahkan saja kakimu, agar kau tidak bisa berjalan lagi?!" Meletakkan Evelyn di pinggir ranjang.
Aaron meletakkan kaki Evelyn yang terluka di atas pahanya. "Tidak usah Tuan, aku bisa sendiri." Tolak Evelyn halus, hendak menarik kakinya dari atas pangkuan Aaron.
Tapi Aaron menahan pergelangan kakinya dan melayangkan tatapan tajam pada Evelyn. "Diam. Sekali lagi kau bergerak, saat ini juga, kakimu akan kupatahkan." Aaron lagi-lagi mengancamnya yang mana membuat Evelyn menciut.
Evelyn pasrah saat Aaron menyentuh kakinya. Namun juga tidak enak hati, saat orang kejam sepertinya menyentuhnya.
__ADS_1
"Auu sakit sekali." Evelyn kembali meringis, saat Aaron membersihkan darah pada lukanya.
Melihat Evelyn terlihat kesakitan, Aaron berinisiatif meniup lukanya. Dan benar saja, Evelyn menjadi tenang seketika, ketika hembusan nafasnya menerpa permukaan kulitnya.
Aaron melanjutkan membersihkan luka Evelyn, dengan sesekali meniupnya agar Evelyn tidak kesakitan lagi.
Evelyn tertegun, kala melihat wajah lembut Aaron saat meniup kakinya. Sebagai seorang wanita, Evelyn sama sekali tidak bisa menyembunyikan keterpesonaannya pada Aaron.
Wajah Aaron terlihat teduh dan menenangkan jiwa. Jika saja orang lain melihat, mereka akan tertipu akan wajah tampan seperti tanpa dosa itu. Padahal, jauh dari pandangan mereka, bahwa orang yang mereka puji kharismanya, adalah orang yang paling kejam yang pernah ada.
Sejauh yang Evelyn lihat dan rasakan selama ini, gadis itu yakin, bahwa Aaron tidak seburuk yang dia kira. Aaron adalah pria baik dan penyayang, hanya saja sifat aslinya itu, terkubur dalam oleh kebencian dan dendam yang membara.
Oleh karena itu, Evelyn akan berusaha untuk merubah hati dan prinsip pria itu. Melelehkan dendam dalam hati pria itu, dengan kesabaran yang dia punya. Meski Evelyn tau, akan sangat sulit baginya dan banyak rintangan yang akan dia hadapi, tapi Evelyn yakin, dia pasti bisa.
TBC ☘️☘️☘️
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA YAAA YAAA 😀