
Keesokan harinya, sesuai dengan rencana yang telah dibuatnya matang-matang, Aaron memerintahkan beberapa pengawalnya untuk membawa Evelyn ke hadapannya.
Kerena malam ini Aaron akan membawa Evelyn ke suatu tempat. Entah apa yang merasuki diri Aaron kali ini. Hati pria itu begitu tidak karuan, dia marah tapi tidak tahu apa penyebabnya. Aaron hanya ingin melancarkan rencananya yang telah disusun sebelum menikahi Evelyn, tetapi hati kecilnya selalu menolak dan menghalanginya untuk melakukan hal itu.
Ya hari ini Aaron berencana ingin menjual Evelyn kepada seorang muncikari. Terdengar kejam memang. Tapi itulah Aaron Leonid Vladimir Lisin. Jika amarah di hatinya belum terobati apapun akan dilakukannya untuk meredakannya.
Tidak perlu menunggu lama, Evelyn sudah sampai di hadapannya. Wajah sendu yang selalu membuat hatinya berkecamuk kini berdiri menatapnya bingung. Aaron tahu banyak pertanyaan bersarang dalam benak gadis itu.
Aaron mengambil sebuah paper bag yang memang sudah disiapkannya, lalu melemparnya ke arah Evelyn.
"Pakai itu, kuberi waktu lima menit." ujar Aaron dengan suara baritonnya.
Evelyn bergeming, melihat pakaian yang baru saja dilempar Aaron di depannya. Sebuah gaun pendek berwarna hitam dengan lengan panjangnya yang tembus pandang. Melihatnya Evelyn sudah bergidik membayangkan saat memakainya nanti.
__ADS_1
"Ini gaun apa Tuan, kenapa saya harus memakainya? Dan ini terlalu kecil, saya tidak bisa memakainya."
Mendengar penolakan Evelyn membuat Aaron mengetatkan rahangnya. Pria itu mendekati Evelyn lalu mencengkeram kuat rahangnya.
"Sakit.. Tuan, tolong lepaskan." Evelyn meringis kesakitan ketika Aaron semakin menguatkan tangannya.
"Heh kau tidak punya hak sama sekali untuk menolak perintahku. Sekarang cepat pakai, jangan sampai aku melakukan sesuatu yang buruk padamu." ujar Aaron penuh penekanan.
Sorot mata tajam itu selalu melemahkan Evelyn, tatapan tajam seolah ingin meremukkan tubuh mungilnya. Dengan terpaksa Evelyn menganggukkan kepalanya.
Aaron melenggang keluar dari kamarnya meninggalkan Evelyn sendirian di sana.
Setelah kepergian Aaron, dengan berat hati Evelyn mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya. Ditatapnya gaun itu dengan nanar, dia tidak pernah memakai pakaian seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian gaun itu sudah melekat sempurna di tubuhnya. Evelyn melihat bayangannya di cermin kamar itu. Lekuk tubuhnya terpampang jelas dibalut gaun seksi itu. Belahan dada yang rendah dan rok ketat pendek membuat dada dan paha mulusnya terpampang dengan jelas.
Walaupun hidupnya tergolong mewah lengkap dengan barang-barang bermerek terkenal, tapi tidak pernah sekalipun Evelyn mau mengenakan pakaian seperti ini karena Mommynya selalu mengajarkannya cara berpakaian yang sopan.
Langkahnya terasa berat untuk keluar dari ruangan ini, dia merasa tidak nyaman dengan pakaian ini.
Di lantai bawah Evelyn mendapati Aaron sedang berdiri di dekat jendela dengan tangan kanannya memegang ponsel di dekat telinganya. Nampaknya pria itu tengah berbicara dengan orang di sebrang sana.
Evelyn menatap punggung lebar Aaron yang membelakanginya. Ada seberkas rasa yang sulit diartikannya.
Dua menit Evelyn menunggu, akhirnya Aaron menyelesaikan panggilannya. Pria itu berbalik dan seketika tertegun seraya langkahnya yang terhenti melihat Evelyn di hadapannya.
Beberapa saat pandangan Aaron terkunci pada Evelyn yang berdiri gugup beberapa meter di hadapannya. Manik coklat terangnya menelusuri Evelyn dari atas kepala hingga ujung kakinya. Tanpa sadar Aaron menelan ludahnya kasar, sesuatu dalam tubuhnya terasa bergejolak ketika melihat penampilan Evelyn saat ini.
__ADS_1
TBC ☘️☘️ ☘️