Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Perubahan Aaron


__ADS_3

Evelyn mengerjapkan matanya, ketika silau matahari pagi menelusup lewat gorden putih di kamarnya. Saat mencoba menggerakkan tubuhnya, Evelyn merasakan sesuatu yang keras dan hangat di bawah tubuhnya.


Evelyn membelalak, ketika menyadari posisi tidurnya pagi itu. Dirinya tidur menelungkup di atas tubuh besar milik suaminya. Dan satu lagi yang paling membuat gadis itu panik. Tubuhnya tidak memakai sehelai benang pun, hanya berbalutkan selimut yang dililit erat oleh tangan besar berurat Aaron.


Gadis itu mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, yang membuat dirinya tidak memakai sehelai benang pagi ini. Nafasnya berhembus lega, saat sudah mengingat semuanya. Dirinya dan Aaron ternyata tidak melakukan apa-apa.


Evelyn memutar kepala sehingga wajahnya langsung bersentuhan dengan ceruk leher Aaron. Gadis itu meneguk salivanya susah payah, ketika berada sedekat ini dengan pria kejam ini.


Dengan sangat hati-hati, Evelyn mencoba melepaskan diri dari dekapan Aaron. Saat hampir lepas, tiba-tiba tubuhnya kembali terhuyung akan gerakan tiba-tiba dari pria yang baru saja terbangun itu.


"Tuan..." Evelyn memekik. Aaron menatapnya datar. Jantung Evelyn berdetak kencang lagi. Saat ini Evelyn kembali menimpa tubuh berotot itu, hingga membuat dadanya yang telanjang menempel sempurna di dada bidang pria itu.


"Tuan lepaskan...."


Evelyn menggeliat, tetapi Aaron sama sekali tidak peduli. Justru semakin mempererat pelukannya, tidak membiarkan Evelyn bergerak.


Sesaat kemudian, Aaron mendudukkan tubuhnya, tapi tetap membawa Evelyn dalam pelukannya. Dengan sedikit susah payah, tangan panjangnya menjangkau sebuah botol yang ada di atas nakas.

__ADS_1


"Diamlah!" perintah Aaron, kemudian sedikit menjauhkan tubuh Evelyn darinya.


"Apa yang kau lakukan Tuan?" kedua tangannya memegang erat selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Dia begitu risih, saat punggungnya juga terlihat oleh pria itu.


Tiba-tiba Evelyn mendesis ketika merasakan sentuhan lembut di punggungnya.


"Tuan... apa yang kau lakukan? Lepaskan aku."


Evelyn begitu risih dengan posisinya, apalagi saat ini tubuhnya berada di atas pangkuan Aaron. Ternyata Aaron sedang mengolesi krim penghilang bekas luka di punggung gadis itu.


Setelah bagian punggungnya, Aaron menyandarkan Evelyn di dadanya. Kemudian beralih pada kedua tangan yang masih dipenuhi beberapa bekas luka itu.


"Kenapa tidak pernah mengolesinya di tubuhmu?" Aaron bertanya tetapi matanya fokus pada tangan Evelyn dalam genggamannya.


"Maksud Tuan?" Evelyn tidak mengerti.


"Bukankah krim ini sudah disediakan di mejamu, tapi kenapa kau tidak pernah memakainya?!" Sesekali matanya melirik dada Evelyn yang terbuka lebar.

__ADS_1


Selesai, Aaron menyimpan kembali botol krim itu di nakas. Kemudian membalikkan tubuh Evelyn menghadapnya.


"Kau dengar aku tidak? Kenapa tidak pernah memakainya?"


Aaron dengan kesal menarik dagu Evelyn. Dia tidak sadar, Evelyn sudah susah payah memperbaiki selimut yang terus turun menutupi dadanya.


Aaron jengah, dalam sekali tarikan, selimut tebal itu melayang dan jatuh di atas lantai. Kini Evelyn tidak bisa menutupi tubuh bagian atasnya.


"Tuan..." pekiknya ketika mendapati tidak ada lagi sesuatu yang bisa digunakannya untuk menutupi tubuhnya.


"Tidak ada gunanya kau menutupinya. Aku sudah melihat semuanya, bahkan merasakannya pun sudah!" ujar pria itu dengan santai.


Tidak tau saja, Evelyn sudah sangat malu.


"Tuan..." desisnya. Kedua tangannya digunakan untuk menutupi aset berharganya.


Aaron lagi-lagi tidak menghiraukannya. Aaron turun dari ranjang, tetap membawa Evelyn di gendongannya. Tubuh Evelyn yang mungil membuatnya tidak bisa berkutik dan melarikan dari pria itu.

__ADS_1


"Tuan, kau membawaku kemana? Turunkan aku..." Evelyn meronta, tetapi sia-sia saja.


"Temani aku mandi...."


__ADS_2