Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Menagih Janji


__ADS_3

"Aku ingin menagih janjimu." ujar pria itu dingin.


Evelyn masih menunduk ketakutan, sambil meremas jemari tangannya.


Evelyn masih belum bisa menangkap arah pembicaraan Aaron saat ini. Janji mana yang Aaron maksud?


"Maaf Tuan, janji mana yang Tuan maksud." Lidahnya terasa kelu mengucapkan kata-kata itu.


Pria itu mengangkat sebelah alisnya, memandang Evelyn bagai menelisik wajah Evelyn.


"Kau benar-benar lupa atau hanya berpura-pura." ujar Aaron setengah membentak.


Bentakan itu tentu saja semakin membuat tubuh gadis mungil itu bergetar ketakutan.


"Sa..ya benar-benar tidak ingat Tuan." jawab Evelyn ketakutan.


"Aaa.. kau benar-benar melupakannya ya." kata-kata yang keluar dari mulut pria itu terdengar lembut, tapi entah kenapa begitu menyeramkan di telinga Evelyn.


Dan benar saja, Aaron mendekatinya kemudian mencengkeram dagunya kuat, membuat Evelyn meringis kesakitan.

__ADS_1


"Biar kuingatkan dirimu Nona, di hari kau memohon ingin keluar dari mansion ini, tidakkah kau mengingat menjadikan sesuatu pada hari itu?!!" bentaknya tepat di depan wajah Evelyn yang kini hanya berjarak lima centi meter saja.


Evelyn dapat merasakan nafas Aaron yang memburu berhembus di wajahnya, sepertinya Aaron sedang menahan amarahnya.


Kini pikiran gadis itu mulai mengingat kembali pada hari di mana dia meminta izin pada Aaron agar bisa keluar menjenguk Mommynya.


Sebenarnya bukan Evelyn yang berjanji, tapi Aaron sendirilah yang membuat janji itu dan tidak membiarkan Evelyn membantahnya walau sedikitpun.


Evelyn menganggukkan kepalanya pelan kala dia sudah mengingat semuanya. "Sa..ya ingat Tuan." cicit gadis itu.


"Baguslah kalau kau ingat." ujar Aaron dengan seringaian di bibirnya, kemudian menghempaskan dagu Evelyn dengan kasar, membuat gadis itu hampir saja limbung jika dia tidak menahan keseimbangannya.


Digunakannya sapu tangan itu untuk menghapus salah satu tangannya yang baru saja menyentuh wajah Evelyn.


Menghapusnya berungkali, seolah Evelyn adalah kotoran yang menjijikan baginya.


Setelah itu Aaron berjalan mendekati tong sampah plastik berukurang kecil di sudut ruang kerjanya. Dibuangnya sapu tangan tadi ke dalam tong sampah itu.


Kemudian kembali lagi ke hadapan Evelyn.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah aku bisa menagih janjimu itu?" tanya Aaron dengan pandangan merendahkan yang selalu ditujukannya kepada Evelyn.


"Sa..ya tidak tau bagaimana..."


"Kau tidak perlu berpikir terlalu keras Nona, jawab saja bisa atau tidak." kata-kata itu semakin meninggi di bagian akhirnya.


"Bisa..Tuan." jawab Evelyn ragu. Raut wajah ketakutan masih bertahan di wajah sendunya.


"Bagus." jawabnya singkat sembari tersenyum puas. "Karena kau sudah setuju, jadi hari ini kau harus bersiap-siap, karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat." senyuman kepuasannya kini berubah menjadi seringaian licik.


"Bersiap-siap untuk apa Tuan?"


"Kau tidak perlu tau, kau akan tau saat sudah sampai di sana." jawabnya kemudian berlalu dari hadapan Evelyn. Meninggalkannya sendirian di ruangan itu.


"Apa yang sedang Tuan Aaron rencanakan?" lirih gadis itu.


Evelyn tau, kali ini Aaron pasti sedang merencanakan sesuatu padanya, dan tentunya rencana itu bukanlah hal yang baik bagi Evelyn.


Mengingat betapa bencinya Aaron kepadanya, sangatlah tidak mungkin Aaron memberikan kejutan yang menyenangkannya. Di sela lamunannya, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah pintu.

__ADS_1


TBC ☘️☘️☘️


__ADS_2