Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Bersiap-siap


__ADS_3

"Nona..." seseorang memanggilnya dari arah pintu masuk.


Evelyn berbalik, beberapa orang perempuan berpenampilan rapi sudah berbaris rapi di ambang pintu.


"Ya?" jawab Evelyn sedikit bingung.


Salah satu dari mereka mendekat, "Mari ikut kami Nona." ucapnya sopan.


"Kemana?" tanyanya, kenapa satu hari ini dia seperti digiring oleh Aaron.


"Ikutlah Nona, kami akan menghias Nona." ujar perempuan itu lagi.


"Menghiasku? Untuk apa? Memangnya aku mau kemana?" bingung Evelyn, memangnya dia akan pergi kemana, pikirnya.


"Kami tidak tahu Nona. Tuan Aaron hanya memerintahkan kami memperbaiki penampilan Nona. Mari Nona." ujarnya lagi.


Evelyn menurut saja, dia tidak mau jika dia masih memberontak, Aaron akan menghukumnya. Evelyn menyimpan segala pertanyaan dalam pikirannya, mengikuti perintah Brian.


Sejauh yang Evelyn lihat, nampaknya perempuan-perempuan ini adalah orang-orang dari salon kecantikan.

__ADS_1


Terbukti dari saat Evelyn memasuki ruangan di sebelah ruang kerja Aaron yang dipenuhi alat-alat make up dan segala perlengkapan lain untuk kecantikan.


Ketika Evelyn masih memperhatikan peralatan kecantikan itu, seorang pegawai wanita menghampirinya, lalu ingin membuka bajunya tanpa izin darinya.


"Eh ada apa ini?" pekik Evelyn, beringsut menjauhi pegawai itu.


"Maaf Nona, kami hanya menjalankan tugas kami. Kami harus cepat mempersiapkan Nona. Tapi Nona harus mandi terlebih dahulu." jelas pegawai itu seraya menundukkan kepalanya.


Evelyn mengangguk paham, dia juga tahu bagaimana prosedur kecantikan mewah seperti ini. Evelyn juga pernah melakukan perawatan seperti ini, terkadang saat Mommynya mengajak.


Dia memang sudah terbiasa dengan kemewahan ini, tapi kalau soal urusan mandi, Evelyn akan melakukannya sendiri. Dia begitu risih saat orang lain melihat bagian tubuh tertentu miliknya, apalagi sampai disentuh.


"Aku akan melakukannya sendiri." jawabnya.


Di dalam kamar mandi sudah tersedia bath up berukuran cukup besar, berisi air susu yang ditabur kelopak bunga mawar mengapung di atas permukaan air susu. Juga terdapat beberapa lilin aromaterapi berbaris mengelilingi bathtub itu.


Setelah memastikan pintu kamar mandi sudah tertutup rapat, Evelyn mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu. Kemudian melangkah ke arah wastafel yang terdapat cermin besar membingkai di sisi atasnya.


Gadis itu menatap tubuhnya dengan perasaan yang tak dapat diartikan.

__ADS_1


Menatap sekujur kedua lengannya yang dipenuhi bekas luka yang digoreskan oleh tangannya sendiri.


Bukan hanya luka di kedua lengannya, beberapa goresan juga terpatri dengan jelas di punggung putihnya.


Jemari tangannya bergerak menyusuri bekas itu, hatinya menjerit putus asa dalam kegelapan. Tuhan sampai kapan penderitaan ini berakhir.


Evelyn segera mengusap air matanya, sekarang bukan waktunya untuk menangis, Aaron akan marah jika dia berlama-lama di sini.


Evelyn segera mendekati bath up, kemudian memasukinya dengan hati-hati. Menenggelamkan tubuhnya, menggeser tubuhnya mencari posisi yang pas.


Kepalanya tersandar di dinding porselen bath up. Lilin-lilin aromaterapi yang mengelilingi bath up ini begitu memanjakan pikirannya. Sejenak segala beban hidupnya hilang sudah dari pikirannya.


Hampir empat puluh menit, Evelyn segera menyelesaikan mandinya. Pikirannya sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya setelah berendam.


Saat keluar dari kamar mandi, Evelyn mendapati para pegawai tadi berdiri di depan pintu kamar mandi.


Evelyn cukup terkejut, tapi untung saja dia sedang memakai jubah bathrobe berlengan panjang, sehingga mereka tidak dapat melihat goresan di tangannya.


"Mari Nona." ujar pegawai itu, seraya menuntunnya ke meja rias.

__ADS_1


Para pegawai salon itu mulai menghias wajahnya. Mereka cukup lihai dalam hal merias, Evelyn tau mereka pasti make up profesional.


TBC ☘️☘️☘️


__ADS_2