
Evelyn masih tertegun dengan apa yang dia lihat. Rentetan huruf dibaca berungkali, berharap apa yang dibaca sebelumnya adalah kesalahan. Tetapi nihil, tulisan itu tetap menampilkan hal sama.
"Mom... katakan ini tidak benar?!" jerit gadis itu, mengadu pada Anastasia. Evelyn benar-benar tidak sanggup, melihat kalimat perceraian yang tertulis di kertas putih itu.
"Sayang..." Anastasia langsung memeluk putrinya yang tengah dilanda kesedihan.
"Tidak Mom, Elin tidak mau pisah." meremas surat yang belum ditandatangani oleh kedua insan itu. "Elin tidak mau!" Evelyn menjerit, benar-benar tidak rela dipisahkan seperti ini dari Aaron.
Evelyn melepas diri dari pelukan sang ibu, "Elin harus menemui Kak Aaron Mom." langsung pergi begitu saja, mengabaikan panggilan Anastasia. Anastasia sangat cemas, sebab putrinya itu masih demam setelah ditinggal Aaron.
Evelyn berlari keluar dari rumah tanpa peduli keadaannya. Beruntung saat itu, supir keluarga mereka yang baru kembali bekerja ada di depan rumah. Gadis itu langsung menyuruhnya membawanya ke mansion milik Aaron.
Selama di perjalanan, Evelyn hanya bisa menangisi semua yang terjadi. Hatinya sangat marah. Marah pada Aaron yang tidak mau berjuang untuknya dan juga marah pada dirinya yang terlalu lama menyadari perasaannya.
Evelyn hampir gila. Kenapa bisa-bisanya dirinya jatuh cinta pada pria kejam seperti Aaron? Aaron telah menyiksanya, membuatnya menderita, bahkan memperlakukannya tidak manusiawi.
"Kau tidak bisa membuangku begitu saja, setelah apa yang kau lakukan. Kau harus bertanggung jawab!" geram gadis itu.
Evelyn tidak sabar lagi untuk menemui Aaron. Rasanya mobil melaju sangat lambat, padahal sopir sudah melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Kira-kira lima belas menit lagi mereka akan sampai, tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Kening Evelyn hampir terbentur ke depan.
__ADS_1
"Kenapa berhenti mendadak Pak?" protes Evelyn.
"Maaf Nona, ada sebuah mobil menghadang kita." Sopir itu berusaha menenangkan dirinya, tetapi ketika Evelyn melihat keluar, dia kebingungan saat melihat ada beberapa mobil hitam mengepung mereka.
"Mereka siapa Pak?" tanya Evelyn yang mulai ketakutan.
"Saya tidak tau Nona."
Salah satu pintu mobil yang mengepung mereka terbuka. Beberapa orang pria bertubuh besar, memakai pakaian serba hitam keluar dari sana. Evelyn tidak mengenal mereka, tetapi yang pasti mereka memiliki wajah sangar dan Evelyn semakin takut.
"Keluar!" samar-samar teriakan mereka terdengar dari luar.
Pria paruh baya itu keluar dari mobil. "Langsung tutup Nona." Evelyn mengangguk.
Namun begitu keluar, sangat disayangkan, dalam satu gerakan, sopir itu dibekuk tanpa perlawanan.
Tubuh Evelyn bergetar ketakutan, saat melihat sopir itu dipukul menggunakan sikunya.
"Buka!" bentak salah satu pria itu. Evelyn memutar otaknya, mencari cara agar bisa bebas dari sini. Jika harus mengemudikan mobil, rasanya sungguh tidak mungkin. Mereka sangat banyak. Dan lebih sialnya, tempat ini sangat sepi. Jarang pengendara melewati jalanan ini. Kecil kemungkinan dirinya bisa lari. Kecuali satu hal, Aaron ada di sini bersamanya.
Tangan mungilnya meraba kantungnya, "Syukurlah." segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Aaron.
__ADS_1
"Tolong angkat Kak...." mohon gadis itu, sebab Aaron belum juga mengangkat panggilannya.
Ketakutannya semakin menjadi saat melihat para penjahat itu mengambil sebuah tongkat besi dan berjalan ke arahnya.
Dua kali panggilan, Aaron belum juga mengangkatnya. Hingga panggilan ketiga, Aaron akhirnya mengangkat.
"Halo..." isak gadis itu. "Kak Aaron, tolong aku..."
Prang
Evelyn berteriak saat kaca mobil itu dihancurkan.
"Halo Evelyn. Apa yang terjadi?" akhirnya suara berat itu bicara.
"Tolong aku Kak..."
Terlambat sudah, tubuh Evelyn diangkut secara paksa oleh penjahat itu. Ponselnya terjatuh entah kemana.
TBC ☘️☘️☘️
__ADS_1