Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Pertemuan kedua


__ADS_3

Di dalam mobil, Evelyn hanya duduk diam di bangku kemudi. Nafasnya terasa sesak sejak berada satu mobil dengan pria berwajah datar di sampingnya. Seperti ucapannya tadi, Aaron mengantarkannya ke kampus.


Sebenarnya Evelyn bingung akan sikap Leon yang tiba-tiba berubah. Tidak biasanya pria itu


Hampir setengah jam perjalanan mereka tempuh akhirnya sampai juga.


"Tuan, saya turun dulu." Pamit Evelyn pada Aaron


"Tunggu." Evelyn yang ingin membuka pintu mobil mengurungkan niatnya.


"Iya Tuan?"


"Ingat perkataanku, jangan berbicara pada laki-laki lain jika tidak ada yang penting!" Ucap Aaron tegas.


"Baik Tuan, saya akan ingat."


Aaron mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam, lalu memberikan pada Evelyn.


"Ambil ini, gunakan ini untuk membeli keperluanmu."


Evelyn melihat Aaron dengan heran. Aaron memberikannya sebuah kartu pegangan? Ada apa dengan pria ini? Batinnya bertanya-tanya.

__ADS_1


"Cepat ambil."


Dengan ragu, Evelyn mengambil kartu itu dari tangannya.


"Ya sudah pergilah. Belajar yang rajin, jangan bermain-main, ingat siapa yang membayar biaya kuliahmu, jadi jangan buat itu sia-sia." Nasihat Aaron dengan sombong.


Evelyn mengangguk cepat, tidak merasa sakit hati akan ucapan pria itu, karena memang benar, yang membiayai dirinya adalah Aaron.


"Iya Tuan, saya mengerti. Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh. Saya pergi dulu."


Saat akan turun, Evelyn teringat sesuatu. Hal ini sudah mengganjal dalam hatinya sejak dulu.


"Apa lagi?" Aaron menaikkan salah satu alisnya.


Meremas jemarinya, "Nanti siang boleh tidak aku mengunjungi Mommy-ku?" Evelyn gugup. Tapi maniknya menatap Leon penuh harap.


Pria itu malah tersenyum miring, "Sejak kapan kau mulai lancang. Jangan karena Ibuku lebih membelamu, kau semakin menjadi. Kau harus ingat perjanjian awal kita, tidak boleh melakukan apapun selain atas izin dariku." Timpal Aaron sarkas.


Seketika wajah Evelyn menjadi murung mendengarnya, pupus sudah harapannya untuk menemui Mommy Anastasia.


"Maaf Tuan kalau saya lancang. Saya tidak bermaksud, saya hanya merindukan Mommy saja. Sekali lagi maafkan saya Tuan."

__ADS_1


Aaronn tidak menjawab yang mana membuat Erin tau bahwa Aaron sedang kesal.


"Baiklah Tuan, kalau begitu saya pergi dulu."


Evelyn segera turun dari mobil mewah itu, walaupun hatinya kecewa akan penolakan Aaron, tapi dia tetap berusaha tersenyum.


Sedangkan Aaron, menatap punggung Aaron yang perlahan menghilang di lorong-lorong gedung kampus. Dia bingung akan perasaannya saat ini.


Tidak terasa hari sudah beranjak siang. Evelyn yang baru saja keluar dari ruang administrasi untuk mengurus berkas-berkasnya hendak menuju gerbang. Seperti perintah Aaron tadi pagi yang menyuruhnya cepat pulang.


Sebenarnya perasaan gadis itu sedang tidak bagus hari ini. Dikarenakan, saat mengurus data-datanya di ruang administrasi tadi, ada beberapa petugas yang menggunjing dirinya.


Benar saja, Evelyn ternyata sudah dikenal oleh banyak orang, terutama di kota ini. Dikenal bukan sebagai anak berprestasi maupun dalam hal baik lainnya, melainkan dikenal sebagai anak seorang koruptor.


Sejak tadi gadis itu menahan hatinya yang panas mendengar gunjingan dan cibiran orang-orang di sana. Yah.. karena sudah terbiasa menahan sakit hati, Evelyn tidak terlalu menanggapi omongan itu. Hatinya sudah kebal, bahkan yang lebih parah dari itu sudah dirasakannya.


Saat berjalan menyusuri koridor kelas, tanpa sengaja tubuh mungilnya bertabrakan dengan seseorang. Beberapa buku yang dipegangnya berhamburan di lantai.


"Maaf, saya tidak sengaja..." Terdengar suara bariton yang sedikit familiar baginya.


Evelynn melihat orang itu. "Myke...."

__ADS_1


__ADS_2