
Silaunya matahari pagi tak kunjung membuat gadis berparas cantik itu terjaga dari tidurnya. Tubuhnya yang mungil tenggelam dalam selimut tebal itu. Begitu lelapnya Evelyn tidur sampai tidak menyadari pria yang sedang memperhatikannya.
Aaron yang sudah terbangun sejak tadi, berada di sebelah Evelyn dengan tangan menyangga kepalanya. Manik yang selalu menatap tajam hampir semua orang, kini terlihat sendu dan lemah menatap gadis di hadapannya.
Wajahnya memang terlihat datar tanpa ekspresi, namun siapa sangka bahwa lelaki itu sedang bimbang saat ini.
"Evelyn Sasha Mashenka..." lirihnya menyebut nama wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Wanita yang sudah ia siksa fisik dan batinnya hanya karena dendam yang bersarang dalam dirinya.
Tangan kekar dengan urat nadi yang terlihat jelas di permukaan kulitnya, bergerak menyentuh dan menyelipkan rambut Evelyn yang berantakan. Evelyn sama sekali tidak terganggu, gadis itu nyenyak dan meneduhkan mata yang memandang.
"Apa yang harus kulakukan jika kebenaran terkuak? Dan kau pasti akan sangat membenciku jika sebenarnya orang tuamu tidak bersalah."
Aaron begitu frustasi memikirkan ini semua. Beberapa hari yang lalu saat George melaporkan penyelidikan terbaru. Bahwa ada pihak ketiga yang turut merencanakan pembunuhan terhadap orangtuanya. Bahkan besar kemungkinan, kematian ibunya yang lebih dulu, berkaitan erat dengan pihak ketiga tersebut. Tapi Aaron tidak tau siapa pihak ketiga itu.
Tapi bukan itu yang memberatkan hati Aaron. Melainkan gadis yang ada di depannya ini. Aaron sudah menyiksa gadis ini. Membuat ayahnya mendekam di penjara, dan ibunya juga sekarat akibat shock akan musibah yang menimpa suaminya. Lalu, bagaimana jika ayah gadis ini tidak bersalah dalam kematian Ayahnya?
Aaron yakin seratus persen, Evelyn akan amat sangat membenci dirinya.
__ADS_1
"Tuan..."
Saking terkejutnya, kepala Aaron terjatuh di atas bantal. Jelas terlihat pria itu kaget saat Evelyn tiba-tiba membuka matanya.
"Kau..." matanya melotot.
"Tuan kenapa?" bibir Evelyn berkedut menahan tawa. Sungguh melihat Aaron yang begitu konyol baru saja benar-benar membuatnya ingin tergelak.
"Berani sekali kau menertawaiku!" geramnya marah, padahal wajahnya sudah merah karena malu.
"Menyebalkan!" desis Aaron, menyingkirkan selimut dari tubuhnya dengan kasar, lalu meninggalkan Evelyn menuju kamar mandi.
Evelyn tertawa kecil, kalau saja pria itu tidak ada di sini, tawanya sudah meledak. Aaron terlihat konyol pagi itu. Jelas itu terlihat lucu bagi Evelyn, sehari-harinya dia hanya melihat pria itu dengan wajah dingin dan datar. Jarang lelaki itu menunjukkan ekspresi lainnya, seperti tadi.
Namun Evelyn diam ketika mengingat sesuatu. Dirinya terbangun karena merasakan sentuhan seringan bulu di wajahnya. Evelyn pikir dia sedang bermimpi, tapi sentuhan itu sangat nyata.
Dan saat terbangun pun, Evelyn masih ingat dengan jelas, tangan Aaron berada di wajahnya.
__ADS_1
"Sial. Wanita itu membuat kaget saja!" umpat Aaron. Menatap kesal bayangannya di cermin bathroom. "Dan tadi, dia menertawakanku? Wah, berani sekali dia." membasuh tangannya dengan kasar. "Lihat saja nanti, kau akan kuberi pelajaran!"
Beberapa menit kemudian, Aaron sudah siap dengan setelan kerjanya. Baru saja keluar dari walk in closet, manik tajamnya mencari-cari gadis yang membuatnya kesal pagi ini.
"Dimana kucing kecil itu?" kesalnya. Dan tepat saat itu juga, pintu kamar terbuka. Kucing kecil yang dia cari muncul di sana.
"Hei kau! Kau dari mana saja?" ketus Aaron.
"Aku dari dapur Tuan, membantu Ibu membuat sarapan." jawab Evelyn.
"Aku tidak peduli kau dari mana. Kemari! Kau sudah membuatku kesal pagi ini." masih dengan nada ketus.
Evelyn menurut, berjalan mendekati Aaron.
"Lakukan tugasmu!"
TBC
__ADS_1