Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Elinku.....


__ADS_3

Semua terasa seperti mimpi bagi gadis malang yang telah merasakan sakitnya kehidupan di usianya yang masih begitu muda. Sang Mommy yang sekarat lebih dari enam bulan, kini sudah mulai menyambut kesembuhannya. Tidak hanya itu, lelaki yang merupakan cinta pertamanya, kini ada di hadapannya setelah sekian lama mendekam di penjara.


Tawa bahagia tidak cukup untuk meneriakkan kejutan ini. Hanya tangis penuh haru, penuh kebahagiaan yang tak terkiralah yang dapat mengungkapkan betapa senangnya gadis itu. Rasa tidak percaya sempat mendiami hatinya. Tetapi kala mata bulatnya memandang dua pahlawannya tengah tertawa bahagia, membuatnya mau tidak mau harus percaya bahwa ini bukan mimpi.


"Mereka terlihat saling menyayangi." suara bariton tiba-tiba menyadarkan gadis itu.


"Tuan..." dengan mata berkaca-kaca melihat Aaron disertai senyum manisnya. "Tuan... Kau membebaskan Daddy?" berusaha menahan isakan tangisnya. Dan mendapat anggukan dari Aaron.


"Kenapa? Bukankah kau masih memiliki dendam terhadap Daddy-ku?" Evelyn tidak ingin menahan diri untuk bertanya.


Keheningan sejenak melanda, Aaron memilih memandang Alexander yang tengah menyuapi sang istri dengan penuh cinta. Aaron tidak ingin melihat cahaya pendar dari manik yang terus menatapnya penuh ketakutan. Entah jawaban apa yang harus dia berikan.


"Tuan?" kali ini ujung mantelnya ditarik oleh Evelyn, yang berarti sangat menginginkan jawabannya sekarang juga.


Aaron akhirnya menyerah, membalas tatapan itu. "Tidak selamanya dendam itu harus terbalaskan, Evelyn." jawab pria itu lembut, yang ternyata tidak memuaskan Evelyn.


"Dendam dalam dirimu bukan tidak terbalas Tuan." Gadis itu menundukkan kepalanya, "Justru kau sudah melampiaskan dendam itu padaku. Di saat kau sudah puas melihatku menderita, akhirnya kau membebaskan Daddy-ku." mengusap setitik air mata yang masih tertinggal di pelupuk matanya. "Benar begitu Tuan?" senyumnya mengembang disela air matanya.


Wajah Aaron seketika menjadi pias, saat kalimat itu menusuk tajam ulu hatinya. Benarkah begitu? Tidak. Bukan karena dendamnya sudah terbalas membuat Aaron mulai melepaskan cengkeramannya dari keluarga itu. Melainkan ada sebuah rasa yang tidak dikenali di dalam hatinya pada Evelyn.


"Tidak. Bukan begitu maksudku." Aaron menjadi gugup. Gugup? Sejak kapan Aaron pernah merasakan gugup selama hidupnya? Kemana sifat arogansinya pergi?


"Tuan, jika suatu saat nanti dendammu sudah sepenuhnya terbalas, apakah kau juga akan melepaskanku?" tanya gadis itu penuh harap.


"Melepaskanmu?"


Aaron tidak pernah terpikir hal itu sebelumnya. Melepas Evelyn dari jeratannya? Hah, kenapa hatinya begitu sakit membayangkan Evelyn tidak ada dalam jangkauannya lagi? Ada apa dengan dirinya?


"Iya Tuan. Kau tidak berniat menjeratku untuk seumur hidup bukan?" tanya gadis itu lagi.


Lagi-lagi Aaron bungkam. Seluruh pertanyaan Evelyn sangat memberatkan hatinya. Tidak satupun dari pertanyaan itu mendapat jawabannya.


"Maafkan aku Tuan. Harusnya aku berterima kasih karena kau sudah membebaskan Daddy-ku. Bukan malah menuntut yang lain. Sekali lagi maafkan aku." Evelyn berucap begitu menyadari apa yang telah dilakukannya.


"Aku menghampiri Mommy dan Daddy dulu Tuan. Permisi." Evelyn segera berlalu saat menyadari tatapan Alexander dan Anastasia yang sedang menikmati matahari pagi di taman rumah sakit.


"Daddy." Evelyn dengan senang hati masuk ke dalam pelukan Alexander, pelukan yang sangat dirindukannya.


"Putriku. Kau semakin cantik saja. Sepertinya suamimu mengurusmu dengan baik." tak lupa mendaratkan kecupan di kening sang putri.


Evelyn hanya tersenyum, sisa-sisa kebahagiaan setelah pertemuan tadi masih bermekaran dalam hatinya.

__ADS_1


"Tentu saja Alex. Menantumu sangat menyayangi putri kita." timpal Anastasia yang tengah duduk di kursi roda.


Alex mengangkat alisnya, "Benarkah? Daddy jadi penasaran seperti apa menantuku itu."


"Salam Daddy. Aku ada di sini." sebuah suara bariton terdengar dari belakang mereka.


Pemilik suara itu mendekat, lalu memandangi ketiga orang itu. Dan terakhir berpaku pada Alexander dengan wajah penuh rasa bersalah. Lelaki ini, wajahnya sangat mirip dengan wajah Evelyn.


"Aaron?" panggil Alexander seraya mengangkat alisnya jenaka, sedangkan jari telunjuknya menunjuk Aaron untuk memastikan. "Kau menantuku?"


"Iya Daddy." lidahnya terasa kelu memanggilnya.


Tawa Alexander seketika menggelegar di taman rumah sakit itu, membuat beberapa orang di sana melihat mereka.


Pria itu melebarkan tangannya, lalu memeluk Aaron dengan perasaan bangga. Tangannya tidak lupa menepuk-nepuk punggung Aaron.


"Aaron... menantuku." melepas pelukannya lalu mematut Aaron sekali lagi.


"Bagaimana bisa putriku menikah dengan pebisnis muda tersukses di negri ini?"


Alexander sebenarnya sudah tau sebelumnya lelaki yang menikahi Evelyn. Reaksinya tadi hanya karena pria itu begitu senang, sebab sudah sejak dulu Alexander menginginkan Aaron menjadi menantunya. Bukan karena Aaron merupakan pemilik perusahaan raksasa di negeri itu, tetapi ada kisah kelam yang membuat Alexander menginginkan Aaron menjadi menantunya.


Tetapi sekarang keinginannya itu telah terwujud, bahkan tanpa ia harus susah payah.


***


Dua minggu kemudian, Anastasia sudah mendapatkan kesembuhannya. Kehadiran Alexander ternyata memiliki pengaruh yang besar baginya. Kerinduannya pada keluarga kecilnya membangkitkan semangat wanita itu untuk sembuh. Dokter juga sudah memperbolehkan Anastasia untuk menjalani perawatan di rumah. Anastasia sangat senang, karena setelah sekian lama akhirnya dirinya keluar dari tempat membosankan itu.


Dan di sinilah Evelyn sekarang. Di dalam sebuah rumah besar dengan segala kemewahan di dalamnya. Maniknya bersinar memandangi rumah yang sudah lebih dari enam bulan ditinggalkannya. Evelyn sangat merindukan rumah ini. Rumah yang menjadi tempatnya menghabiskan masa kecilnya hingga masa remajanya.


Air matanya mengalir begitu saja, seiring dengan kenangan-kenangan indah satu per satu memenuhi ingatannya. Evelyn begitu merindukan setiap momen yang dilaluinya bersama kedua orang tuanya.


Lamunan Evelyn buyar seketika, kala suara deheman seseorang di belakangnya. Evelyn buru-buru menghapus air matanya kemudian berbalik, melihat Aaron yang datang entah dari mana.


"Tuan? Kau sudah selesai bicara dengan Daddy? Dimana Daddy?" tanya Evelyn mencari Alexander yang mengajak Aaron waktu untuk mengobrol berdua.


"Daddy sedang menemani Mommy di kamar. Biarkan saja." menghalau Evelyn yang sepertinya hendak menuju kamar orang tuanya. "Maksudku mereka pasti butuh waktu berdua untuk saling melepaskan rindu." jelas Aaron yang peka terhadap pasangan tua itu.


Evelyn pun membenarkannya, orangtuanya sudah lama terpisah, mereka pasti butuh waktu berdua.


Setelah itu kecanggungan melingkupi pasangan itu. Hingga rasa penasaran muncul dalam benak Aaron.

__ADS_1


"Dimana kamarmu?" tanya Aaron.


"Eh, untuk apa?"


"Untuk apa? Tentu saja aku ingin melihat seperti apa kamar istriku." jawab Aaron jujur.


Evelyn mencoba menelaah kata-kata Aaron. Istri? Jantung gadis itu berdegub kencang. Apakah selama ini Aaron menganggapnya seorang istri? Hampir saja dirinya hanyut hanya karena satu kata itu.


Evelyn mengangguk, lalu mengarahkan Aaron menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sampai di depan pintu kamar, Evelyn menenangkan jantungnya yang berdebar. Sebentar lagi dia akan memasuki kamarnya yang telah lama kosong.


Setelah merasa tenang, tangannya memutar kenop pintu yang tidak terkunci. Perlahan tapi pasti, pintu terbuka, dan kegelapan menyambut sepasang suami istri itu.


Evelyn menyalakan lampu, hingga kamar itu kini terang benderang.


"Aku pulang." bisik gadis itu menelusuri setiap sudut kamar. Masih terlihat rapi dan bersih, sebab Gerry memerintahkan pelayan yang tersisa untuk mengurus rumah ini.


"Ini kamarmu?"


"Iya Tuan. Jika kau kelelahan silahkan pakai ranjang itu. Tenang saja, kamar ini tetap dibersihkan walaupun tidak ada yang menempati." jelas Evelyn.


Aaron hanya mengangguk menanggapi gadis itu, tetapi maniknya masih menelusuri kamar.


"Kalau begitu aku mandi dulu. Jika ada apa-apa, panggil pelayan saja." ucapnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Evelyn berencana menghabiskan sore ini berendam sambil melepas rindu dengan tempat favoritnya itu. Lilin aromaterapi menyala mengelilingi bath up, juga musik klasik yang perlahan merilekskan pikirannya. Hampir saja Evelyn tertidur, jika tidak mengingat Aaron yang ada di kamarnya saat ini.


Evelyn langsung membilas tubuhnya di bawah shower. Kemudian meraih bathrobe karena Evelyn lupa membawa pakaiannya.


Ketika Evelyn membuka pintu kamar mandi, gadis itu dikejutkan oleh Aaron yang berdiri tepat di depan pintu. Dan yang lebih mengherankan, Aaron menatapnya sendu dan berurai air mata. Bibirnya bergetar, bahkan Evelyn bisa mendengarkan isakan kecil dari bibirnya.


"Tuan.... kau kenapa?"


"Apa yang ter...."


Belum sempat Evelyn menghabiskan kalimatnya, tubuhnya sudah tertarik dan tenggelam dalam pelukan Aaron.


"Elinku...." tangis pria itu pecah.


"Kenapa aku bodoh sekali tidak bisa mengenalimu...."


__ADS_1


TBC ☘️☘️☘️


__ADS_2