
Dengan sigap, Aaron meletakkan kedua tangannya di pinggang Evelyn, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke atas pangkuannya. Kedua kaki gadis itu terbuka lebar mengapit pinggang Aaron dengan tubuh mereka yang saling berhadapan.
Perbuatan pria itu jelas saja membuat Evelyn ketakutan setengah mati. Posisi ini semakin membuat gadis itu tersiksa. Evelyn menangis di atas pangkuan pria itu.
"Tolong lepaskan aku Tuan..."
"Kubilang diam. Kalau sekali lagi kau bicara, akan kupastikan besok kau tidak bisa bicara lagi!"
Evelyn yang takut dengan ancaman sang suami akhirnya memilih diam. Tapi dalam hati gadis itu menjerit, begitu ketakuatan akan perbuatan pria itu.
Yang Evelyn bisa lakukan sekarang hanyalah menangis sesenggukan seraya menundukkan kepalanya. Dirinya tidak berani menatap Aaron yang terus menatapnya dengan tajam.
"Lihat aku!" Perintah Aaron tak terbantahkan.
__ADS_1
Evelyn yang awalnya enggan melihat pria itu, tapi ketakutannya terlalu menguasai dirinya hingga mengikuti perintah pria itu. Even mengangkat kepalanya, melihat wajah tampan Aaron. Tapi manik gadis itu berputar ke segala arah, karena tidak berani menatap Aaron.
"Kau lihat kemana, kubilang lihat aku!"
Evelyn seketika melihat wajah Aaron. Membalas tatapan tajam yang selalu mengintimidasi setiap orang di dekatnya.
Aaron mengunci tatapan Evelyn yang berpusat kepadanya. Tidak mengizinkan Evelyn berpaling dari tatapannya.
Kali ini Aaron tidak ingin kejadian yang sama terjadi dua kali. Tangan kekarnya merengkuh kedua sisi wajah gadisnya lalu mendekatkan wajahnya. Bibir pria itu langsung saja meraup pada bibir yang kini tidak berdaya di bawah kungkungannya.
Evelyn terkejut bukan main ketika bibirnya sudah berada dalam kuasa Aaron. Sekuat apapun memberontak, Evelyn tetap tidak bisa menolak pria itu. Bahkan tangan mungilnya yang sedari tadi memukuli dada Aaron, namun tidak berarti sama sekali. Ibarat Evelyn bagaikan semut yang tidak bisa melakukan apapun dalam kuasa sang gajah.
Entah bibir Evelyn yang begitu nikmat, atau karena ini pertama kalinya Aaron mencicipi bibir wanita, pria itu begitu menikmati bibir ini. Begitu manis yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.
__ADS_1
Walaupun Evelyn memberontak, Aaron tidak peduli sama sekali. Bahkan dia merasakan rasa yang sedikit asin dari air mata Evelyn ketika mencicipi bibir itu, tapi seorang Aaron yang egois tetap melanjutkan ******nnya. Bahkan semakin memperdalam pertautan lidah mereka.
Tangan kekarnya menarik tubuh mungil Evelyn, sehingga dada mereka otomatis menempel tanpa jarak sedikitpun. Tangan Aaron tidak tinggal diam, dengan penuh nafsu yang membara, Aaron merem*s pinggul gadis itu, yang mana membuat Evelyn mengerang, tapi tertahan dalam ciuman Aaron yang semakin dalam.
Meskipun ini adalah pengalaman pertama baginya, tapi Aaron begitu lihai membelit paksa lidah Evelyn yang sedari tadi menolak keras pertautan bibir mereka.
Evelyn melenguh, kala pasokan oksigen di paru-parunya mulai menipis. Nafasnya tersengal-sengal dan semakin memberontak karena Aaron tak kunjung melepaskannya.
Bukan hanya pinggul, punggungnya yang mungil sampai ke permukaan perutnya turut mendapatkan sentuhan lembut dari tangan Aaron. Aaron menyingkap gaun selutut yang dikenakan oleh Evelyn saat itu. Paha putih nan mulus kini terpampang jelas di mata Aaron.
Pria itu semakin tak terkendali, saat tangannya ingin membuka resleting belakang gaun Evelyn. Erin yang menyadari itu, segera menahan tangan Aaron. Kepalanya menggeleng, tapi ditahan oleh Aaron.
TBC ☘️☘️☘️
__ADS_1