
Begitu Aaron melangkahkan kakinya di dalam kamar bergaya vintage, tetapi tidak meninggalkan kesan feminim sesuai dengan pemiliknya. Ada banyak foto dan lukisan berjejer rapi di dinding dan dua buah rak buku yang ada di sudut ruangan.
Aaron tidak terlalu mendengarkan perkataan Evelyn, matanya sedari tadi memperhatikan foto-foto di dinding dengan penasaran. Ingin sekali melihat foto itu dari dekat.
Setelah Evelyn masuk ke dalam kamar mandi, Aaron melangkahkan kakinya semakin dekat menuju foto-foto itu. Aaron mulai menatapnya, mulai dari foto-foto menggemaskan seorang bayi mungil nan lucu, hingga gadis remaja yang Aaron yakini adalah foto masa kecil Evelyn.
Senyum Aaron mengembang tanpa disadarinya, ketika melihat foto-foto Evelyn di masa perkembangannya.
Tetapi, Aaron tiba-tiba terpaku pada sebuah foto. Yaitu foto Evelyn yang sepertinya masih berumur lima tahunan.
Bukankah ini Elin? Aaron langsung mengenalinya, karena pria itu benar-benar mematri wajah si gadis cadel di dalam memorinya.
"Elin..." lirih pria itu, mengambil bingkai foto dari dinding. Jantungnya sudah berdegub kencang atas kejutan yang baru dia temukan.
Rasanya sangat sulit untuk dipercaya. Lututnya lemas, seolah tidak sanggup menopang tubuhnya.
Lagi-lagi, jantungnya semakin berpacu dengan kencang, ketika maniknya yang sudah mulai buram oleh air mata, menemukan satu foto yang semakin memperkuat keyakinannya, bahwa Evelyn adalah gadis masa kecil yang pernah melamarnya.
Fotonya sendiri dengan Elin kecil yang sedang bergandeng tangan dan tersenyum manis ke arah kamera. Aaron masih ingat saat mengambil foto itu, Evelyn memaksanya tersenyum dan menggandeng tangannya.
Aaron tersenyum getir, seraya dengan air mata mulai membasahi wajah sangarnya. Lututnya melemas, seiring dengan tubuhnya merosot di atas lantai dingin itu. Kebenaran ini sangat sulit terterima oleh akal sehatnya.
"Elin..." tangisnya begitu pilu. Rindu dan penyesalan yang teramat dalam, bercampur menjadi satu dalam dirinya.
Hatinya begitu senang karena pada akhirnya telah menemukan cinta masa kecilnya. Namun kesenangan itu pupus sudah dalam penyesalan yang tidak terselami lagi dalamnya.
Kekejamannya dahulu pada Evelyn, terus berputar-putar memenuhi ingatannya. Hingga akhirnya tawa bercampur tangislah yang dapat mengungkapkan betapa perih hati pria itu.
"Elinku.... aku telah menyakitinya...." tangis Aaron.
Untuk pertama kalinya setelah enam belas tahun, Aaron menangis lagi. Menangisi gadis malang yang sudah dia sakiti secara fisik maupun batinnya. Dia telah menghancurkan cinta pertamanya.
***
Tiga puluh menit lamanya, Aaron berdiri di depan pintu kamar mandi, menunggu gadis cadel, kekasih masa kecilnya. Jantungnya terus berdebar seolah akan meloncat dari dalam tubuhnya. Entah bagaimana nantinya, setelah sekian lama akhirnya dia menemukan gadis itu.
__ADS_1
Pintu terbuka, jantungnya semakin bertalu dengan kencang. Sebuah tubuh mungil dalam balutan bathrobe berdiri di depannya, menatapnya bingung.
"Tuan, kau kenapa?" suara indah itu menyapa gendang telinganya. Tolong, ingin rasanya memeluk tubuh ringkih itu.
"Apa yang ter...."
Aaron tidak tahan lagi, dia begitu merindukan sosok mungil ini. Elin, kekasih masa kecil Aaron.
"Elinku...." Aaron menangis, semua sifat arogannya menghilang begitu saja, berganti dengan pria cengeng dan lemah.
"Betapa bodohnya aku, tidak bisa mengenalimu... Elin...." dekapannya semakin mengerat, seolah ingin meleburkan Evelyn dalam pelukannya.
"Tuan lepaskan..." Evelyn merasakan nafasnya sangat sesak akibat pelukan Aaron.
"Tidak. Aku sangat merindukanmu. Kau tidak merindukanku? Ini aku Kak Aaronmu."
Evelyn mengira Aaron sudah kehilangan kewarasannya. Pria itu tiba-tiba memeluknya dan mengatakan rindu? Ada apa sebenarnya. Dengan sekuat tenaga, Evelyn berhasil lepas dari pelukan itu.
***
"Lihat ini." menunjukkan foto dirinya dan Evelyn yang tengah bergandeng tangan. "Ini aku, Kak Aaron...." Aaron melihat wajah Evelyn yang kebingungan, hatinya berharap besar Evelyn mengingat sesuatu. Tetapi harapan itu harus pupus begitu saja, ketika gelengan kepala kembali menjawabnya.
"Aku tidak mengingat apa-apa Tuan. Bahkan dari dulu aku bingung darimana aku mendapatkan foto ini. Kata Mommy, sepulang dari liburan kami di villa, Mommy menemukan foto ini di tasku." jawabnya.
Aaron menghela nafasnya, benar juga, Evelyn masih sangat kecil waktu itu, dan pasti sudah melupakan dirinya. Tetapi masih ada secercah harapan lagi, dan Aaron berharap besar dengan hal itu.
"Kalung itu." menunjuk kalung bermata permata hitam di leher Evelyn yang pernah diberikan Chlarent padanya. "Kau tidak mengingat kalung itu? Saat perpisahan kita, kau mengambilnya dariku, dan kau berjanji akan mengembalikannya saat kita bertemu lagi." jelas Aaron.
"I..ini? Aku... aku pernah mengambilnya?"
"Hmm... kalung ini ada sepasang, dan satu lagi ada padamu." Aaron menatapnya dalam-dalam.
Sedangkan Evelyn berusaha mengingat apa yang Aaron katakan. Yah, sepertinya memang benar perkataan Aaron. Karena setiap melihat kalung yang bertengger di lehernya ini, Evelyn selalu merasa familiar.
"Evelyn?" Aaron memanggilnya dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Maaf Tuan, aku memikirkan sesuatu. Memang sepertinya aku pernah melihat kalung ini sebelumnya. Tapi aku tidak tau dimana pernah melihatnya." jelas Evelyn membuat harapan terakhir Aaron pupus saat itu juga.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak...."
"Tidak apa-apa Evelyn." potong Aaron dengan suara lembut. "Memang kalung itu berharga bagiku, karena itu adalah peninggalan terakhir ibuku. Tetapi hal yang lebih penting dari itu adalah aku sudah menemukan Elinku." ucap Aaron penuh keyakinan.
Aaron meraih tangan Evelyn, menggenggam erat seolah takut Evelyn pergi.
"Elin...." mengunci manik Evelyn hanya berfokus padanya. "Aku sadar, perbuatanku padamu sangat kejam dan tidak termaafkan... Aku telah membuatmu menderita, sampai kau harus mengalami tekanan batin yang luar biasa sakit. Dan bahkan aku hampir membuatmu kehilangan kewarasanmu...."
Aaron menundukkan kepalanya, dia sungguh tidak tahan menatap mata itu lebih lama. Hatinya menjadi lemah, mengingat semua perbuatannya di masa lalu.
"Aku bersalah Elin... Aku bersalah...." air mata tidak luput mengiringi penyesalannya.
"Tuan...."
"Jangan memanggilku lagi dengan panggilan itu. Aku bukan tuanmu. Aku suamimu." potong Aaron, kembali menatap Evelyn, tetapi sedetik kemudian menundukkan kepalanya, karena tidak sanggup membalas tatapan itu.
"Aku sangat jahat...."
"A...aaron... aku... aku sudah memaafkanmu...."
Saat itu juga Aaron mengangkat pandangannya, menatap Evelyn mengharapkan penjelasannya.
"Aku sudah memaafkanmu, Aaron, bahkan jauh sebelum kau minta maaf."
"Tapi kenapa?" Aaron tidak terima Evelyn memaafkannya begitu saja.
"Kenapa?" Evelyn tersenyum geli, "Tuhan saja mau memaafkan umatnya yang berdosa, apalagi aku yang hanya manusia biasa." jemarinya turut membalas dekapan tangan Aaron. Keduanya saling memberi kenyamanan dalam pertautan tangan itu.
"Lagipula kau juga sudah menebus perbuatanmu. Kau mencarikan dokter terbaik untuk Mommy, dan juga telah membebaskan Daddy dari penjara. Perbuatanmu padaku jangan terlalu dipikirkan, aku wanita kuat. Lihat, aku tidak apa-apa kan?"
Lihatlah betapa mulianya gadis itu. Dia bahkan menceritakan penderitaannya dengan tawa. Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.
TBC ☘️☘️☘️
__ADS_1