
Aaron mengernyitkan keningnya melihat banyaknya bekas luka di tubuh Evelyn. Berbagai pertanyaan terbersit dalam benak pria itu.
"Luka apa ini?" lirih Aaron.
Salah satu tangannya terulur menyentuh bekas luka itu. Apa yang terjadi pada dirinya, kenapa hatinya tiba-tiba sakit melihat keadaan Evelyn saat ini.
"Siapa yang melakukan hal ini padamu?" batinnya bertanya-tanya.
Aaron tidak tahan lagi melihatnya, kilatan kemarahan berapi-api dalam manik coklat terangnya. "Akan kubunuh orang yang telah berani melukaimu." geram Aaron.
Tidak taukah pria itu bahwa dirinya sendirilah yang menjadi penyebabnya?
Tidak tau mengapa malam itu Aaron seperti bukan dirinya sendiri. Sifat dingin dan arogan pria itu seolah musnah dari diri pria itu.
***
"Sepertinya bekas luka ini adalah perbuatan Nona Evelyn sendiri Tuan."
__ADS_1
"Dia sendiri?" tanya Aaron.
Di ruang kerjanya Aaron sedang berbicara dengan dokter keluarga yaitu Dokter Lenin, yang baru saja memeriksa keadaan Evelyn.
"Benar Tuan. Sepertinya kondisi mental Nona Evelyn sedikit terganggu." jelas dokter Lenin.
"Jangan asal bicara!" bentak Aaron yang tidak mempercayai penjelasan dokter.
Dokter Lenin menundukkan kepalanya ketakutan. "Saya tidak asal bicara Tuan, memang seperti itulah yang saya lihat. Bekas luka itu terlihat masih baru Tuan, dan masih banyak luka yang belum mengering Tuan." jelas dokter.
Sungguh pertanyaan yang konyol. Apakah dia tidak menyadari bahwa dirinyalah penyebab dari penderitaan Evelyn. Apakah dia tidak ingat bagaimana perlakuannya selama ini yang ternyata membuat Evelyn tertekan batin.
"Banyaknya tekanan yang menjadi penyebab terganggunya jiwa Nona Evelyn, Tuan. Ketika seseorang memiliki banyak masalah dan tekanan batin yang tiada henti akan menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan tak terduga. Seperti Nona Evelyn, sejauh yang saya perhatikan, Nona Evelyn menyimpan masalahnya sendiri. Kita ketahui jika seseorang menyimpan masalah terlalu lama ditambah tekanan dari berbagai pihak tentunya akan membuat orang tersebut merasakan stres berkepanjangan. Karena tidak dapat menyuarakan isi hatinya ataupun membagi masalahnya dengan orang lain mendorong orang tersebut menyakiti tubuh mereka." Dokter Lenin menghentikan kalimatnya, melihat reaksi Aaron yang masih mencerna penjelasannya.
Dengan rasa cemas dokter melanjutkan lagi ucapannya. "Tuan saya harap untuk ke depannya tolong jangan memberikan tekanan kepada Nona Evelyn. Saya takut jika tekanannya bertambah yang makin memperburuk mentalnya Nona Evelyn akan melakukan hal yang lebih berbahaya dari ini."
Bukan tanpa alasan Dokter Lenin mengatakan hal itu. Karena ini adalah kesekian kalinya dia merawat Evelyn, dia tentu tau bagaimana penderitaan yang dialami Evelyn selama ini. Dokter itu menghiba melihat keadaan Evelyn yang semakin buruk seperti saat ini.
__ADS_1
Aaron terdiam beberapa saat. Dia tidak tau harus menanggapi apa kepada sang dokter. Pikiran pria rupawan itu begitu kacau hari ini.
"Tuan?"
Sepertinya Dokter belum puas sebelum Aaron menjawab permintaannya.
Aaron hanya mengangguk pelan, kemudian mengangkat salah satu telapak tangannya menyuruhnya keluar.
"Saya akan mencari dokter psikiater terbaik untuk menangani Nona Evelyn, Tuan. Saya permisi dulu." Dokter segera berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban Aaron.
Setelah kepergian Dokter Lenin, Aaron juga ikut pergi dari sana menuju kamarnya yang ditempati oleh Evelyn. Aaron tidak bisa tenang sedikitpun selama Evelyn belum sadarkan diri.
Aaron duduk di tepi ranjang samping Evelyn. Manik coklat terangnya menatap intens wajah cantik Evelyn yang masih terlihat pucat.
"Seperti apa dirimu sebenarnya?" lirihnya. Tanpa disadarinya telapak tangannya bergerak menyusuri wajah pucat sang istri.
TBC ☘️☘️☘️
__ADS_1