
"Lakukanlah!" pelan namun tegas tidak terbantah.
Evelyn membulatkan mata, tidak percaya akan apa yang diucapkan pria ini. Aaron menyuruhnya untuk menciumnya?
Come on man.
Evelyn tidak berbakat dalam hal semacam itu. Evelyn tidak pandai berciuman, karena dia tidak memiliki pengalaman sebelumnya. Ketika Aaron pernah menciumnya seperti yang sudah-sudah, Evelyn sama sekali tidak merespon. Gadis tak berpengalaman itu hanya diam terpaku, ketika Aaron menjajah mulutnya. Lagi pula, Evelyn bukan merupakan sosok wanita penggoda, jadi jangan harapkan gadis itu melakukannya.
Evelyn langsung menggelengkan kepalanya. Menolak mentah-mentah permintaan laki-laki itu.
"Kau tidak mau?" begitulah Aaron menanggapi respon Evelyn.
Lagi, Evelyn menggeleng. Menatap penuh dengan protes akan sikap semena-mena pria itu padanya.
"Wah. Berani sekali kau menolakku." pelan tapi penuh penekanan.
Evelyn sungguh menyesali perbuatannya tadi, dia ketakutan sekarang.
__ADS_1
Pria itu mengalihkan pandanganya ke arah lain, lalu kembali pada Evelyn lagi.
"Kurasa kau masih belum terbiasa dengan tugasmu ini. Mungkin aku perlu melatih kemampuanmu!"
Tanpa membiarkan Evelyn mencerna perkataanya, langsung saja, bibirnya sudah mendarat dan tenggelam dalam kelembutan bibir ranum gadis itu. Menyesap penuh perasaan, seolah ingin mereguk habis kenikmatannya.
Aaron melepaskan pertautan bibirnya, ketika merasakan Evelyn hanya diam mematung tanpa membalas lumatannya. Pria itu melihat, bagaimana manik gadis itu membola, dengan wajah tegang.
Seolah tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh Evelyn, Aaron menaikkan dagunya, menatap tidak suka.
"Balas ciumanku!" titahnya.
Evelyn menatap sendu, dia sangat tidak suka ketika Aaron melakukan ini. Harga dirinya terluka, ketika Aaron dengan sesuka hati mencium dan menyentuhnya. Seolah dirinya hanyalah mainan yang bisa sesuka hati dipakai, walau memang seperti itu kenyataannya. Dirinya hanyalah budak mainan Aaron.
Meski Evelyn tidak menjawab, Aaron kembali menempelkan bibirnya pada bibir yang sudah basah itu. Masih saja, Evelyn tidak membalas ciumannya, yang mana membuat Aaron geram. Gadis ini sangat keras kepala.
Aaron semakin memperdalam ciumannya. Dengan lidah memaksa masuk dan menjelajah seisi mulut gadis itu.
__ADS_1
Aaron begitu menikmati ciuman itu, sampai tidak menyadari air mata Evelyn yang sudah berhasil lolos di wajahnya. Evelyn benci ini semua. Aaron selalu mempermainkannya. Ingin rasanya cepat mengakhiri ini semua.
Setelah puas mereguk kenikmatan dari gadis itu, Aaron mengakhirinya. Kini berpaku pada wajah sendu yang sudah dibanjiri oleh air mata.
Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Aaron mengusap air mata itu dengan ibu jarinya di kedua sisi wajah wanita itu.
"Aku tidak ingin besok hal ini terjadi lagi. Lakukan tugasmu dengan baik mulai besok!" perlahan rengkuhannya longgar.
"Harusnya kau bersyukur, aku tidak melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman." Bisiknya, sebelum akhirnya tangannya lepas sepenuhnya dari pinggang Evelyn.
"Pelajari apa yang kuajarkan tadi. Aku pergi."
Sentuhan lembut di puncak kepala Evelyn mendarat, diiringi dengan senyum termanis dari Aaron untuk gadis itu.
Aaron pergi. Meninggalkan luka yang tanpa disadarinya dia torehkan pada gadis lugu nan lemah itu.
Aaron berjalan dengan cepat menuju George yang sudah menunggunya di mobil. Jantungnya masih berdebar sejak dirinya mencuri kenikmatan dari dari gadis itu.
__ADS_1
Aaron tidak tau kenapa dia harus melakukan itu pada Evelyn. Memberikan pelajaran karena membuatnya kesal hanya alasan belaka. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Aaron memang menginginkannya. Aaron ingin terus dekat dengan Evelyn.
TBC ☘️☘️☘️