
Evelyn masih menyandarkan kepalanya di dada bidang Aaron. Gadis itu belum sadar apa yang baru dia lakukan. Namun dalam sepersekian detik, maniknya melebar setelah menyadari sesuatu.
Dengan wajah cemas dan sedikit ketakutan, Evelyn melepas tangannya dari tubuh Aaron.
Kepalanya mendongak menatap wajah rupawan yang selalu menatapnya dengan tajam. Dan lihatlah, Aaron tersenyum menyeringai melihatnya, yang membuat Evelyn langsung menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku Tuan. Aku... aku tidak sengaja." cicit gadis itu pelan.
Aaron terkekeh kecil, tanpa Evelyn duga, tubuhnya ditarik hingga kembali terhempas dalam pelukan Aaron.
Evelyn terpaku, matanya membulat sempurna akan apa yang Aaron lakukan. Pria itu memeluknya erat.
"Tu..Tuan..."
"Kenapa minta maaf hmm? Peluk saja aku sesukamu. Aku akan marah." bisik pria itu lirih tepat di telinga Evelyn. Seketika itu juga, tubuh Evelyn menegang bersamaan dengan rasa panas yang merambat di pipinya. Gadis itu tengah malu.
"Tu..tuan..." Evelyn menggeram tertahan dengan tangan mendorong tubuh Aaron untuk menjauh darinya. Tapi Aaron menolak, justru pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan Tuan... ada banyak orang di sini." cicit gadis itu.
"Memangnya kenapa? Bukankah kita ini pasangan, apa yang salah?" pria begitu menikmati tingkah menggemaskan gadis itu.
"Berterima kasihlah yang benar. Maka aku akan melepasmu." tanpa tau malu, Aaron menepuk-nepuk punggung Evelyn seraya mengayunkan kakinya, seolah-olah keduanya sedang menikmati pelukan itu.
__ADS_1
"Terima kasih Tuan..." ujar Evelyn tanpa tau apa yang Aaron maksud.
"Sudah Tuan. Lepaskan aku." mencoba melepas diri dari Aaron.
"Seperti itukah caramu berterima kasih pada orang yang telah menyelamatkan Mommymu?"
"Lalu bagaimana Tuan?" Suara Evelyn tertahan di dalam dekapan pria itu.
"Cium aku!" singkat namun menggetarkan jiwa.
Evelyn membelalak, apa yang Aaron katakan barusan membuatnya terkejut.
"Tuan... aku tidak mau."
"Tuan... tolong jangan seperti ini."
"Cium atau tidak sama sekali..." ancam Aaron.
"Tuan..." Namun Aaron semakin mengeratkan pelukannya. Yang mana membuat Evelyn menyerah.
Dengan sedikit menjinjitkan kakinya, gadis itu mendekati wajah Aaron yang siap sedia menerima sentuhan lembut bibirnya.
Cup
__ADS_1
Dalam sekejap, bibir ranum Evelyn menempel di pipi Aaron yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Aaron tersenyum puas, lalu mulai melonggarkan pelukannya dan dengan cepat Evelyn melepas diri darinya.
Evelyn sibuk memegangi wajahnya yang panas. Apalagi melihat dokter Lenin dan Chlarent yang terlihat terkekeh melihat tingkah keduanya. Sekali lagi Evelyn menatap Aaron yang menatapnya tersenyum geli.
Evelyn mencebikkan bibirnya kesal. "Dasar!" batin gadis itu merutuki Aaron.
Chlarent mendekat dengan senyum bahagia di wajahnya. Dia tidak menyangka hubungan anak dan menantunya ternyata sudah sejauh ini.
"Aaron, kau membuatnya terkejut." sengaja menggoda Evelyn. "Dia masih belum terbiasa dengan ini."
"Ibu..." Evelyn mendesis, masih sangat malu.
Chlarent terkekeh, "Tidak apa-apa sayang. Kalian ini pasangan, jadi wajar saja." menatap Aaron jenaka. "Tapi kau Aaron, kalau ingin bermesraan, lihat dulu keadaan dan tempat."
"Ayo kita lihat keadaan Mommymu sayang." menarik Evelyn yang masih saja malu.
Aaron mengikuti Ibu dan istrinya. Senyumnya merekah, tidak tau kenapa dia bisa melakukan hal tadi pada Evelyn. Aaron tidak peduli, tapi satu yang pasti dia sangat menyukainya. Melihat wajah malu Evelyn seakan menjadi hiburan tersendiri baginya.
__ADS_1