
"Ibu angkat?" tanya Evelyn. "Kupikir Ibu Chlarent adalah ibu kandung Tuan Aaron?"
"Benar Nona. Walaupun mereka tidak sedarah, tapi Tuan Aaron sangat menyayangi Nyonya Chlarent, begitupun sebaliknya. Karena jika saja Nyonya Chlarent tidak menyelamatkan Tuan Aaron saat itu, dapat dipastikan Tuan Aaron akan ikut terbunuh." Jelas Kane.
Evelyn menundukkan kepalanya ketika ada sesuatu tiba-tiba menghantam pikirannya. Kane heran saja melihat Evelyn tiba-tiba terdiam. "Nona?" panggil Kane.
"Apa kau percaya bahwa Daddy-ku yang membunuh orang tua Tuan Aaron, Kane?" tanya Evelyn menatap Kane dengan sendu. Sejauh ini Kane dapat mengerti apa yang sedang dipikirkan gadis belia ini.
Evelyn tersenyum kecut melihat kebungkaman Kane, "Aku tau, kau juga pasti tidak percaya."
"Walau sebanyak apapun orang-orang menuding Daddy, tapi aku akan tetap percaya padanya." Evelyn menarik nafasnya dalam berusaha menahan isakan tangisnya.
"Mungkin kau berpikir aku membelanya karena beliau adalah orang tuaku. Kau salah Kane, jika saja kau mengenal Daddy-ku kau pasti tidak akan percaya bahwa Daddy-ku melakukan hal sekeji itu."
__ADS_1
"Aku yakin sebenarnya Daddy telah dijebak." ujar gadis itu penuh keyakinan.
"Daddy-ku adalah sosok yang bijaksana dan selalu memegang teguh prinsip kejujuran, jika Daddy berkata tidak, itu artinya Daddy memang tidak pernah melakukannya. Dan aku akan percaya padanya, karena setiap kata-kata darinya adalah kejujuran bagiku. Seperti itulah besarnya kepercayaanku untuk Daddy-ku." Senyum gadis itu terbit seraya dengan mengalirnya air mata membasahi wajah pucatnya.
Pandangannya lurus ke depan bagai menerawang ketika keluarganya masih utuh, bahagia tidak kekurangan sesuatu apapun.
Kane menangkup kedua tangan Evelyn, "Saya percaya Nona." ujar wanita paruh baya itu dengan senyum terbit di wajahnya.
"Kau percaya?" tanya Evelyn.
"Terima kasih Kane." tubuh kurusnya beringsut memeluk Kane dengan erat. "Terima kasih sudah percaya padaku Kane."
Setelah pelukan itu lepas, Kane pamit kembali ke rumah utama. Dan sekarang tinggallah Evelyn seorang diri di kamar itu. Jika sudah sendiri seperti ini, Evelyn akan menghabiskan malamnya dengan menumpahkan air matanya. Isakan kesedihan itu akan selalu menggema setiap malamnya di kamar ini.
__ADS_1
Ditengah isakannya, angin bertiup kencang di luar sana. Saking kencangnya hembusan angin masuk menelusup jendela kaca yang setengahnya sudah pecah tak beraturan.
Evelyn berjalan tertatih-tatih menahan kakinya yang masih sakit menuju jendela kaca itu.
Awalnya Evelyn hanya ingin memperbaiki gorden yang melayang akibat kencangnya hembusan angin. Tapi pandangannya tertuju pada pecahan kaca tidak beraturan itu.
Entah mendapat bisikan dari mana, jemari lentiknya bergerak menyentuh benda runcing itu, menelusuri permukaannya seolah merasakan tajamnya benda itu. Seolah keadaan memang mendukungnya, Evelyn dengan mudah mencabut pecahan kaca itu dari himpitan kayu penopangnya dengan mudah.
Di genggamnya erat-erat benda tajam itu, lalu membukanya lagi. Pikiran gadis itu sudah tidak jernih lagi, dan saat itu juga Evelyn menyayatkan pecahan kaca itu di tangannya.
Darah segar mengucur dari tangannya disertai rasa sakit tak terperi. Seolah belum cukup Evelyn kembali menggoreskan kaca itu di sekujur tangannya.
Gadis itu seperti kehilangan kewarasannya. Sakit pada tangannya ini tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan sakit dalam hatinya.
__ADS_1
TBC ☘️☘️☘️