Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Menurutlah


__ADS_3

Untuk yang kedua kalinya, Aaron mengobati kaki Evelyn yang terluka. Sambil mengobati, pria itu tiada hentinya menggerutu dan mengatai Evelyn bodoh dan ceroboh.


"Berhenti mengataiku Tuan. Kalau kau tidak suka, biarkan aku mengobati lukaku sendiri." Evelyn kesal dari tadi mendengar gerutuan pria itu.


"Heh. Kau sangat tidak tau berterima kasih. Sudah syukur aku mau mengobati lukamu." Aaron melotot.


"Tapi aku tidak memintamu mengobati lukaku." Evelyn mendelik.


"Kau..." Geram Aaron. "Ya sudah obati sendiri. Aku tidak punya waktu berdebat dengan orang tidak tau berterima kasih sepertimu."


Aaron langsung meletakkan obat merah dengan kasar. Lalu meninggalkan gadis itu dengan wajah kesalnya.


Aaron masuk ke dalam walk in closet tanpa mempedulikan Evelyn yang termangu akibat ucapannya.


Tadinya Evelyn mengira, Aaron akan menghukumnya karena telah membantah ucapannya seperti yang sudah-sudah. Tapi tadi, Aaron sepertinya marah dan kesal padanya, tapi tidak menghukumnya lagi.


Apakah kata-katanya keterlaluan, yang membuat pria itu marah padanya? Evelyn memikirkan sikapnya pada Aaron baru saja.


Ternyata memang benar, dia tidak tau berterima kasih pada pria itu. Sudah syukur Aaron mau membantunya, tapi dia malah menyanggah pria itu dari tadi.

__ADS_1


Terlalu larut dalam lamunannya, sampai Evelyn tidak menyadari Aaron yang sudah keluar dari walk in closet, dengan setelan tiga potong. Rambut klimis dan sepatu pantofel yang selalu menambah kharisma pria itu.


Evelyn tersadar, ketika mendengar bunyi pintu kamar tertutup. Ternyata Aaron sudah keluar dari kamar tanpa menyapa Evelyn.


"Tuan..." Lirih gadis itu, dan dengan terburu-buru mengejar Aaron.


Untungnya Aaron masih belum jauh, pria itu hampir menuruni tangga pertama dan terhenti ketika Evelyn memanggilnya.


"Tuan tunggu." Panggil Evelyn dengan kakinya yang masih belum terpasang perban.


Aaron berbalik, dan melihat Evelyn tanpa ekspresi.


"Tuan, kau mau berangkat?"


Evelyn melihat Aaron yang menatapnya dengan datar. Yang mana membuat Evelyn menjadi gugup melihatnya. Karena Evelyn tak kunjung bicara, Aaron malah meninggalkannya.


Lagi-lagi Evelyn seperti orang bodoh, ketika Aaron meninggalkannya.


"Tuan..." Evelyn mengejar Aaron yang sudah sampai di lantai bawah. Langkahnya yang tidak hati-hati, membuat Evelyn hampir tersandung. "Auu." Pekiknya. Untung saja Evelyn sudah sampai di bawah, kalau tidak Evelyn pasti sudah terguling di anak tangga.

__ADS_1


"Tuan...Kau..." Evelyn kaget ketika tubuhnya melayang di udara. Aaron menggendongnya di pundak hingga kepalanya menghadap punggung Aaron.


Aaron membawa Evelyn naik ke kamar mereka dengan Evelyn yang meronta ingin diturunkan. Tapi Aaron sama sekali tidak mendengarkan, dan tetap membawanya.


Aaron mendudukkan Evelyn di sofa kamar. Kemudian melanjutkan mengobati kaki Evelyn yang sempat tertunda tadi.


Evelyn hanya melihat Aaron, tanpa berani berbicara. Melihat wajah datar Aaron, sudah cukup mengintimidasi yang membuat nyalinya menciut.


Setelah Aaron selesai membungkus kakinya, Aaron beralih menatap Evelyn yang juga sedang menatapnya.


"Tuan, kau marah padaku?" Evelyn bertanya dengan hati-hati, memberanikan diri menatap pria itu.


"Memangnya kapan kau pernah membuatku tidak marah. Setiap di dekatmu, kau selalu memancing emosiku." Aaron berkata datar yang mana membuat Evelyn tak bisa berkata-kata.


Aaron berkata lagi, karena Evelyn bergeming, "Tetaplah di rumah hari ini. Kakimu masih sakit." Ujar Aaron.


"Tapi Tuan..."


"Kuharap kali ini kau menuruti perintahku. Atau kalau tidak, aku tidak akan segan-segan lagi kepada orangtuamu!" Ucap Aaron sarkas, lalu pergi dari kamar itu tanpa menunggu reaksi Evelyn.

__ADS_1


TBC ☘️☘️☘️


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA YAAA 😀


__ADS_2