
Saat makan malam tiba, Evelyn, Chlarent dan juga Aaron sudah berkumpul di meja makan. Mereka makan dalam diam sesekali terdengar dentingan sendok.
Chlarent memperhatikan Evelyn terlihat murung dari tadi. Tidak biasanya dia seperti itu.
"Evelyn." Panggilnya.
Evelyn yang masih larut dalam lamunannya hanya bergeming, sama sekali tidak mendengar panggilan Chlarent.
"Evelyn." Chlarent sedikit mengeraskan suaranya.
"Eh iya Bu. Ada apa?" Evelyn tersadar dari lamunannya.
"Ada apa denganmu, kenapa wajahmu murung dari tadi?" Chlarent bertanya dengan lembut.
Evelyn menggeleng, "Evelyn tidak apa-apa Bu."
"Benarkah, kau tidak apa-apa? Atau ada masalah dengan kuliahmu?"
"Tidak ada Bu. Aku baik-baik saja." Seraya tersenyum tipis.
Chlarent mengangguk paham. Sesaat kemudian, pandangannya beralih pada Aaron yang duduk tenang menikmati makan malamnya, tanpa tertarik akan percakapannya dengan Evelyn.
__ADS_1
"Aaron."
Aaron menghentikan suapannya, lalu menoleh pada Chlarent. "Ada apa Bu?"
"Kapan kau pulang ke mansionmu?" Tanya Chlarent.
Aaron diam sejenak, menatap intens wanita itu. Aaron tau, Chlarent sengaja menanyakan hal itu padanya. Entah apa tujuannya, Aaron tidak tau, tapi yang penting dia tidak boleh terjebak akan pertanyaan itu.
"Kenapa Ibu? Ibu tidak suka aku tinggal di sini?"
"Bukan seperti itu. Hanya saja Ibu teringat, kalau kau tidak suka tinggal di mansion ini dan memilih untuk menyendiri di mansionmu. Tapi sekarang kau tiba-tiba mau tinggal di mansion ini, padahal dulu sangat sulit bagimu untuk menginap barang satu malam." Chlarent menelisik. "Ada apa. Apa yang membuatmu betah tinggal di mansion ini?"
Bukan maksud Chlarent ingin mengusir putranya itu dari mansion ini. Ada sesuatu yang harus wanita itu pastikan tentang putranya, terutama perasaan laki-laki itu terhadap Evelyn.
Beberapa hari yang lalu, Chlarent dikejutkan akan kedatangan Aaron ke mansion utama, bahkan sampai menginap di sini. Seperti ucapannya tadi, Aaron tidak pernah mau pulang kemari jika Chlarent merindukannya.
Tapi kenapa saat Evelyn tinggal di mansion utama, Aaron yang seolah gentar rela menahan kesedihannya saat di mansion ini. Sebagai seorang Ibu yang sudah lama merawat Aaron, tentu menyadari sesuatu yang aneh dalam diri putranya itu.
Chlarent melihat, Evelyn sedikit demi sedikit telah mendiami hati pria itu. Namun terkubur dalam oleh rasa benci dan dendam yang sudah mendarah daging. Oleh karena itu, Chlarent ingin menyadarkan Aaron akan perasaannya pada Evelyn. Membuat putranya itu sadar, bahwa Evelyn adalah gadis baik-baik yang tidak pantas disakiti.
Besar harapan Chlarent, jika kelak Evelyn bisa menjadi menantunya yang amat dicintai oleh putranya. Tapi jika melihat kekejaman Aaron, Chlarent tidak ingin mengambil resiko. Chlarent tidak ingin, karena keinginannya Evelyn malah menderita.
__ADS_1
Tapi untuk saat ini, ada kemungkinan harapannya akan terkabul. Melihat perilaku Aaron, Chlarent yakin, cepat atau lambat, Aaron akan luluh pada Evelyn.
"Ibu tau alasan kenapa aku memilih tinggal terpisah." Jawab Aaron tenang, tidak ingin terpancing akan pertanyaan Chlarent.
Chlarent mengangguk.
"Sepertinya kesedihanku sudah tergantikan dengan kerinduan. Jadi untuk beberapa waktu, aku memutuskan untuk tinggal di mansion utama."
Chlarent tau, jawaban Aaron hanyalah dalih, karena rasa gengsinya untuk mengatakan alasan sebenarnya.
Chlarent menghela nafasnya, sangat sulit menghadapi putranya yang keras kepala ini.
Evelyn yang mendengar pembicaraan mereka, hanya diam, karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bahas.
"Kalau boleh, Ibu ingin menjenguk Mommy-mu Evelyn?"
Pertanyaan Chlarent menyadarkan lamunan Evelyn
Evelyn tersenyum, "Tentu saja boleh Ibu."
"Tapi aku belum mengizinkan!" Sergah Aaron memotong ucapannya.
__ADS_1
TBC ☘️☘️☘️
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA YAAA 😀