Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Diasingkan


__ADS_3

"Tapi Kane, barang-barangku..."


"Barang-barang Nona sudah dipindahkan ke tempat baru anda." jawab Kane, berjalan diikuti Evelyn yang masih bingung. Kapan barang-barangnya dipindahkan, pikirnya.


Evelyn mengira bahwa kamarnya akan dipindahkan ke lantai bawah, ternyata perkiraannya salah. Kane masih memimpin jalan hingga mereka sampai di halaman belakang rumah. Evelyn dapat melihat bahwa tujuan mereka adalah sebuah bangunan kecil beberapa meter di depannya.


Cat bangunan itu nampak usang, cat yang semula berwarna putih kini berubah menjadi kekuningan akibat termakan hujan dan terik matahari. Bangunan itu seperti tidak terurus, beberapa jendelanya sudah pecah, ditambah tidak ada cahaya yang menerangi membuat bangunan itu terlihat menyeramkan.


Mereka sudah sampai di depan pintu bangunan itu, "Silahkan masuk Nona." Kane membuka pintu rapuh itu hingga terdengar suara krietan dari pintu itu.


Kegelapan menyambut kedua wanita itu, membuat Evelyn bergidik takut, benarkah bangunan ini akan menjadi tempat tinggalnya, pikirnya.


Kane memasuki bangunan itu, lalu menyalakan lampu, cahaya lampu yang redup samar-samar menerangi ruangan kecil itu. Evelyn masih berdiri di ambang pintu, memandangi ruangan yang akan menjadi kamarnya, gadis itu mengusap air matanya yang tergenang.

__ADS_1


Ruangan yang hanya diisi dengan sebuah lemari kecil usang dan juga meja kecil di sampingnya. Kamar pelayan di rumahnya bahkan lebih mewah daripada kamar ini.


Evelyn menarik nafasnya dalam, berusaha agar tangisnya tidak pecah di depan Kane. Kane dapat melihat apa yang dirasakan gadis di hadapannya ini, ingin sekali rasanya dia menolongnya, tapi apalah daya, Tuannya bisa saja murka akan kelancangannya.


Kane tertunduk, "Maafkan saya Nona, saya tidak bisa membantu Nona."


"Tidak apa-apa Kane." tersenyum pada Kane. "Kembalilah Kane, aku ingin istirahat." Evelyn melangkah memasuki kamar itu.


"Baiklah Nona. Jika Nona butuh sesuatu, panggil saja saya."


"Baik Nona saya permisi dulu." lalu meninggalkan bangunan itu.


Sebenarnya bangunan itu adalah bekas gudang, dan dikosongkan setahun yang lalu karena bangunannya sudah rapuh. Bisa saja sewaktu-waktu bangunan itu roboh saat angin kencang ataupun hujan.

__ADS_1


Setelah Kane pergi, Evelyn menutup pintu lalu kembali memandangi kamar itu dengan perasaan miris. Bahkan tempat tidur saja tidak disediakan di sana.


Gadis itu memejamkan matanya, mencoba menerima semua keadaan yang menimpanya. Lalu mendesahkan napasnya dalam, mencoba meredakan tangisnya yang tercekat.


"Kau tidak boleh lemah Elin, ingat kata Mommy dan Daddy bahwa kita tidak boleh lemah, kau harus kuat." lirihnya.


Setelah menyemangati dirinya sendiri, Evelyn menelusuri ruangan itu, mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan alas sebagai tempat tidurnya. Evelyn mendapati sebuah karpet hitam tipis, digulung di samping lemari kecil itu. Evelyn mengambilnya, lalu membentangkan karpet itu di ruang yang kosong.


Sepertinya memang sudah disiapkan untuknya, gadis itu menemukan sebuah selimut yang juga tipis di atas tumpukan bajunya di dalam lemari.


Tubuhnya sangat lelah, ingin sekali mengistirahatkan tubuhnya sebelum memulai hari beratnya besok.


Sebelum tidur Evelyn terlebih dahulu merapalkan sebuah doa, agar dirinya tetap diberi kekuatan oleh yang kuasa dalam menghadapi keadaan ini.

__ADS_1


Evelyn menekuk kakinya, dengan tangannya memeluk tubuhnya, mencoba menghangatkan tubuh mungilnya. Siapa pun tidak akan tahan tidur seperti itu. Tidur di lantai hanya beralaskan karpet dan sehelai selimut tipis, tak jarang membuat bibir Evelyn gemetar kedinginan.


TBC ☘️☘️☘️


__ADS_2