Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Pergi


__ADS_3

"Aaron!" teriak Chlarent.


"Hatimu terbuat dari apa Nak, kenapa kau bisa sekejam ini." Suara Chlarent mulai melemah.


"Apakah ibu pernah mengajarkan hal seperti ini padamu?"


Aaron hanya diam, tidak menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.


"Jawab Ibu Aaron, apa pernah Ibu mengajarimu melakukan hal sekejam ini? Jawab Ibu!" Teriak Chlarent karena Aaron tak kunjung menjawab.


Aaron menghembuskan nafas kasar, "Tidak Bu." jawabnya pelan.


"Lalu mengapa, kenapa kau malah melakukannya? Kenapa Nak?" Chlarent tak kuasa menahan air matanya.


"Dia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu Bu, ingat Bu dia yang membuatku kehilangan orang tuaku." Aaron masih bersikukuh mempertahankan pendiriannya.


"Ya Tuhan aku telah salah mendidik putraku." ucap Chlarent dan beberapa detik kemudian, pandangan wanita itu mulai menggelap, hingga akhirnya jatuh terkulai di atas lantai granit yang terasa dingin itu.


"Ibu..." Aaron tersentak melihat Chlarent jatuh pingsan di lantai. Dengan sigap Aaron menghampiri, lalu mengangkatnya ke tempat tidur.

__ADS_1


Aaron terkejut ketika melihat ternyata Evelyn sudah bangun. Mata sendu itu menatapnya, hingga pandangan mereka terkunci selama beberapa detik. Aaron tersadar dari lamunannya, dan mengabaikan Evelyn.


Aaron merebahkan tubuh rentan Chlarent di sebelah Evelyn, dengan wajah panik pergi keluar dari kamar.


Beberapa saat kemudian, Dokter Lenin yang masih belum jauh dari kompleks mansion, datang kembali ke mansion Aaron.


"Apa yang terjadi pada Ibuku?" cerca Aaron begitu Dokter Lenin selesai memeriksa keadaan Chlarent.


"Tidak ada hal yang serius, hanya saja tekanan darah Nyonya Chlarent mengalami kenaikan. Anda tau sendiri, Nyonya Chlarent menderita hipertensi, jika terlalu banyak pikiran akan seperti ini jadinya. Maka untuk itu, Nyonya Chlarent jangan dibuat terlalu banyak berpikir dulu. Itu tidak baik untuk kesehatan beliau." jelas Dokter Lenin seraya melepaskan stetoskop yang menempel di telinganya.


Aaron mengangguk mengerti, kemudian menyuruh Dokter Lenin pergi dari sana.


Aaron masih saja menatap gadis itu dengan tajam sampai membuat Evelyn bergetar ketakutan. Tidak ingin berlama-lama di sana, Aaron melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Tapi terurungkan ketika mendengar suara Chlarent melenguh.


"Kepalaku sakit sekali." ucapnya seraya memegangi kepalanya.


"Ibu? Ibu sudah sadar?" Tanya Evelyn, menyentuh lengan Chlarent.

__ADS_1


"Ibu. Ibu tidak apa-apa?" tanya Aaron lalu duduk di tepi tempat tidur. Tangan kekarnya bergerak memegang lengan Chlarent.


"Ibu tidak apa." Jawabnya dengan dingin. Chlarent masih marah kepada putranya itu.


Chlarent mengabaikan Aaron, lalu menoleh pada Evelyn yang duduk di sampingnya. Senyum wanita itu terbit melihat Evelyn yang juga membalas senyumannya.


"Kau sudah sadar Nak?" tanya Chlarent.


"Sudah Bu." jawabnya.


"Syukurlah, Ibu sangat khawatir padamu." Meraih Evelyn ke dalam pelukannya. "Apa ada yang masih sakit hmm?" Chlarent melepaskan pelukannya kemudian melihat tubuh Evelyn dengan cemas.


"Aku tidak apa-apa Bu." jawab Evelyn. Evelyn senang ternyata masih ada orang yang mengkhawatirkannya.


"Maafkan Ibu Nak. Ibu tidak bisa menjagamu dari kekejaman putra Ibu. Ibu Janji, mulai detik ini kau tidak akan pernah merasakan penderitaan lagi. Mulai besok kau akan ikut tinggal bersama ibu di Mansion utama ya?" tutur Chlarent sembari mengusap kening Evelyn.


"Tidak boleh! Dia akan tetap tinggal di sini Bu." sahut Aaron yang mendengar ucapan Chlarent.


"Ibu tidak meminta pendapatmu. Ibu tidak tahan lagi dengan perbuatan kejammu itu Aaron. Evelyn sudah cukup menderita karenamu!." ujar Chlarent tegas tak terbantahkan.

__ADS_1


TBC ☘️☘️☘️


__ADS_2