Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Terima kasih


__ADS_3

"Wanitamu merawat anak sialan itu!"


Pria misterius itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya akan perkataan Morrone. Manik yang biasanya selalu menatap licik setiap orang yang dijumpainya, kini membulat sempurna.


"Jangan main-main dengan ucapanmu Mor. Lidah tajammu itu bisa saja menghilang sepulang dari sini."


"Untuk apa aku bermain-main denganmu sialan! Kau pikir untuk apa aku menghabiskan waktuku datang ke tempat sampah ini, jika bukan karena hal penting itu." Desis Morrone, kesal akan ketidakpercayaan partner kriminalnya.


Morre melemparkan map hitam di meja pendek yang ada di hadapan pria misterius itu. "Lihat saja sendiri."


Tanpa diperintah, seorang pria bertubuh tegap, yang berdiri di belakang pria misterius, yang sebenarnya bersembunyi dalam kegelapan muncul begitu saja. Mengambil map itu, lalu mengeluarkan isinya untuk diperlihatkan pada Tuannya.


Pria dengan guretan di mata kanannya memperhatikan foto-foto itu dengan seksama.


Morre menyeringai, sungguh sesuatu yang sangat langka dapat melihat raut wajah sobat lamanya itu.


"Bagaimana? Dia masih sangat cantik bukan?"


Pria itu tidak menjawab. Hanya diam dengan ekspresi wajah yang mengartikan segala emosi yang berkecamuk dalam hatinya.


Begitu hatinya merindu pada wanita yang sudah puluhan tahun ditinggalkannya.


"Tapi sayang sekali. Dia malah merawat anak musuh bebuyutannmu, Aaron Lisin."

__ADS_1


"Mor..."


"Aku tau kau pasti terkejut. Aku pun sama denganmu. Entah bagaimana Chlarent bisa menjadi Ibu angkat anak itu."


Keduanya benar-benar terkejut akan fakta yang baru mereka ketahui ini.


"Entah ini bisa menjadi keuntungan, atau bisa saja menjadi bumerang bagi kita nantinya."


"Baiklah aku rasa, bukan waktu yang tepat untuk mendiskusikan rencana kita selanjutnya denganmu. Aku pergi saja."


Begitulah pilihan Morre, karena dia tau, betapa sobatnya itu sangat mencintai wanitanya, bahkan hingga sekarang. Hampir sepenuhnya Morre tau, perjalanan kisah cinta mereka.


Morre mengenakan kembali topi Solomon nya, berdiri lalu mengibaskan jas mantelnya. Berbalik meninggalkan tempat kumuh yang sangat dia benci.


Nasihat Morrone dan benar-benar pergi meninggalkan pria misterius dengan berjuta kerinduan dalam hatinya.


Dia amat merindukan wanita ini.


***


Evelyn menahan nafasnya, menunggu dokter yang baru saja melakukan operasi pada Anastasia. Terdapat guratan kelelahan pada wajah cantiknya. Semalam suntuk gadis itu benar-benar menemani Anastasia di rumah sakit. Berharap cemas, Evelyn menunggu sang dokter untuk melanjutkan penjelasannya.


Dokter itu mengulaskan sebuah senyuman di wajahnya, pertanda hasil yang dia bawa adalah baik.

__ADS_1


"Nona Evelyn, selamat, operasi pada Nyonya Anastasia berjalan lancar."


Menghembuskan nafasnya lega, seraya senyum bahagia yang terpancar di wajahnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir begitu saja. Begitu lega dan bahagia hatinya mendengar keberhasilan itu.


"Ibu..." lirihnya, memandang Chlarent dengan sumringah.


"Selamat sayang. Mommymu akan segera sembuh." membuka lebar tangannya agar Evelyn menyambut pelukannya.


Tak urung, Evelyn menghambur dalam rengkuhan Chlarent, wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu. Evelyn menangis haru di sana, menumpahkan segala kelegaannya di dalam pelukan hangat itu.


Masih berurai air mata, Evelyn memeluk Chlarent dengan begitu erat. Tetapi tanpa sengaja, maniknya menangkap seseorang di belakang mereka. Seorang pria yang berdiri tegak, memandangnya dengan tatapan penuh arti.


"Tuan..."


Melepaskan pelukannya, lalu mengusap air matanya. Evelyn tersenyum pada suaminya itu. Berdiri dengan perlahan, berjalan menuju pria yang telah menorehkan berbagai luka dalam hatinya.


Entah apa yang merasuki gadis itu, tanpa merasa takut sedikitpun, Evelyn menghambur memeluk tubuh kekar itu. Memeluk erat seolah menyampaikan rasa syukurnya pada pria yang mengambil andil besar pada keselamatan Anastasia.


"Terima kasih Tuan...."


"Terima kasih...."


TBC ☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2