
Keesokan harinya, Evelyn sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Sekarang kakinya sudah mulai membaik jadi bisa memulai aktivitasnya hari ini.
Evelyn keluar dari kamar, meninggalkan kamar dalam keadaan kosong. Aaron? Evelyn tidak tau dimana pria itu. Bangun tidur tadi, dirinya tidak mendapati Aaron di dalam kamarnya.
"Hei kau..." Langkah Evelyn terhenti ketika seseorang memanggilnya.
Evelyn menoleh, melihat Vera sedang berdiri di sana memegang nampan dengan mangkuk yang sudah kosong di atasnya. Wajah gadis bermata bulat itu selalu menunjukkan ketidaksukaannya pada Evelyn.
"Ada apa?" Walaupun tidak menyukainya, tapi Evelyn masih mengedepankan sopan santunnya untuk menjawab gadis itu.
"Enak sekali ya hidupmu Nona."
Kening Evelyn berkerut, tidak mengerti akan sikap gadis itu.
"Apa maksudmu?"
Vera tersenyum sinis. "Lihatlah Nona muda kita ini. Pergi seenaknya tanpa tau kondisi..."
"Maaf aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu." Evelyn jengah dan memilih tidak meladeni Vera.
"Hei kau." Vera menangkup tangan Evelyn, lalu mencengkeram dengan kuat, hingga membuat Evelyn meringis. "Beraninya kau mengabaikanku." Desis Vera menatap tajam pada Evelyn.
"Lepas. Tanganku sakit." Evelyn berusaha menarik tangannya, tapi malah semakin sakit karena Vera semakin menancapkan kuku tajamnya pada kulit sensitif Evelyn.
__ADS_1
"Kau pantas mendapatkannya. Gadis sepertimu memang harus diperlakukan dengan buruk." Sepertinya kebencian gadis ini pada Evelyn sudah sangat membludak.
"Kubilang lepas!" Evelyn tidak terima diperlakukan seperti ini.
"Tidak akan!"
Vera tersenyum licik kala melihat seseorang datang.
Prang...
Ketika Evelyn meronta, Vera sengaja menjatuhkan tubuhnya hingga terpental di lantai beserta dengan pecahnya mangkuk yang dibawanya tadi.
Dan bertepatan pada saat itu, Aaron yang baru keluar dari kamar Chlarent melihat semua itu.
Entah sengaja atau tidak, gadis itu meletakkan tangannya di atas pecahan mangkuk tersebut.
Evelyn yang masih kaget, terpana melihat betapa liciknya gadis bermata bulat itu. Sungguh Evelyn tidak tau kenapa gadis itu sampai melakukan semua ini padanya.
"Ada apa ini?!" Suara tajam penuh intimidasi membuyarkan lamunan Evelyn.
"Ti..tidak apa-apa Tuan. Nona Evelyn tidak sengaja mendorong saya tadi. Mungkin Nona agak tersinggung saat saya menyuruh Nona untuk melihat Bibi Chlarent..." Ujar Vera dengan wajah polos tak berdosa.
"Aku tidak pernah mendorongmu." Evelyn tidak terima dituduh atas apa yang bukan perbuatannya.
__ADS_1
"Maafkan saya Nona. Saya benar-benar tidak bermaksud untuk menyinggung anda, saya..."
"Diam!" sarkas Aaron membungkam mulut Vera. "Bereskan semua kekacauan ini!" Perintahnya.
"Baik Tuan."
"Masuk ke kamarmu!" Perintahnya pada Evelyn.
"Tapi Tuan..."
Evelyn melihat Aaron yang sepertinya sedang hati yang tidak baik, lalu teringat akan janjinya yang tidak akan membantah perintahnya lagi.
"Baiklah." Evelyn menurut, lalu kembali ke kamarnya.
Vera yang melihat Evelyn dibentak oleh Aaron, tersenyum penuh ironi. Puas akan jebakannya.
"Kuharap kau bisa menjaga sikapmu di rumah ini. Kalau bukan karena Ibumu, saat ini juga kau sudah musnah di tanganku!" Sentakan suara Aaron memekakkan telinga Vera yang tadinya sedang bahagia dalam hatinya.
Tanpa mendengar jawaban Vera, Aaron menyusul Evelyn ke kamar.
Vera menjadi takut, saat tau ternyata Aaron sulit untuk dikecoh. Bukannya jera dan mundur, gadis itu malah memikirkan rencana untuk menghancurkan Evelyn selanjutnya.
TBC ☘️☘️☘️
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA YAAA 😀😀😀