
Aaron panik setelah mendapat telepon dari gadis yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya. Sekali lagi menghubungi Evelyn, tetapi tidak kunjung ada jawaban.
"Sial!" umpat pria itu.
Aaron segera menghubungi orang-orangnya untuk melacak keberadaan Evelyn.
"Evelyn." lirih Aaron begitu frustasi setelah menghubungi ibu mertuanya, Anastasia. Wanita itu menceritakan bagaimana Evelyn yang begitu histeris setelah mendapat layangan gugatan perceraian darinya.
Aaron tidak memberitahukan apa yang terjadi pada Evelyn pada Anastasia, sebab wanita itu masih begitu lemah untuk mengetahui hal segenting ini.
"Evelyn, kau dimana?"
***
Sedangkan di sebuah ruangan dengan minim pencahayaan, Evelyn terbaring terkulai di atas lantai dingin dan kotor. Gadis itu tidak sadarkan diri akibat benturan keras di kepalanya saat orang-orang itu menyeretnya dengan paksa.
Mata gadis itu ditutup menggunakan sebuah kain hitam, sedangkan tangan dan kakinya diikat dengan kuat.
Evelyn terbangun dengan paksa ketika siraman air dingin membasahi seluruh tubuhnya. Gadis itu gelagapan, hendak bergerak tetapi tertahan oleh ikatan di kedua tangan dan kakinya.
"Dimana aku?" gadis itu linglung, berusaha membuka ikatan tali di tubuhnya.
"Jangan buang tenagamu Evelyn." tiba-tiba sebuah suara bariton yang cukup familiar di telinganya terdengar.
"Siapa kau?!" Evelyn waspada.
"Kau tidak mengenalku?" sahut pria itu.
__ADS_1
Evelyn mencoba mengingat pemilik suara ini, hingga bayangan seseorang muncul dalam benaknya.
"Mic? Kau Myke bukan?"
"Ya. Ini aku Myke. Kukira kau sudah melupakanku." Evelyn dapat merasakan langkah kaki semakin mendekatinya. "Kau semakin cantik saja Evelyn." pria itu menyeringai, kemudian membelai pipi gadis itu.
Tetapi Evelyn langsung menghindar. "Apa maksudmu Myke?! Kenapa kau melakukan ini padaku?!" sergah Evelyn. Memang saat bicara gadis itu begitu lantang dan berani, tetapi jangan lupakan, Evelyn hanyalah gadis lemah yang tidak memiliki kemampuan apapun dalam bela diri. Gadis itu ketakutan setengah mati.
Terdengar tawa mengejek tepat di telinganya, membuat Evelyn jijik saat deru nafas pria itu mendera di kulit wajahnya. Rasanya ingin memukul pria ini lalu pergi dari sini, tetapi apa daya, dirinya telah terjebak di tempat kotor penuh debu ini.
"Aku suka saat kau memberontak seperti ini." dengan lancang menghirup aroma gadis itu kemudian menggigit daun telinganya.
"Menjauh dariku Myke! Jangan bersikap kurang ajar!" Rasanya Evelyn ingin menangis. Dia begitu jijik, dan merasa kotor.
"Kau sangat manis ketika marah. Membuatku semakin ingin memilikimu." Pria itu semakin berani menyentuh Evelyn.
"Kumohon Myke menjauh dariku. Lepaskan aku, aku ingin pulang." Evelyn memohon, tetapi Myke sama sekali tidak peduli. Pria itu sangat menyukai penderitaan wanita dari Aaron tersebut.
"A..apa syaratmu?" meski tidak yakin syarat yang diberikan tidak akan mudah, Evelyn tetap akan berjuang. Dia sangat ingin keluar dari tempat ini.
"Tidurlah denganku." terdengar lembut namun penuh penekanan. Tubuh Evelyn bergetar hebat, seiring dengan dengan cecapan lidah Myke menyentuh leher jenjangnya.
Sedangkan di gedung yang sama, di ruangan yang berbeda. Dua orang lelaki paruh baya tengah menikmati apa yang terjadi antara Myke dan Evelyn melalui sebuah layar.
"Sepertinya putramu sudah menginginkan gadis itu sejak lama More." ujar pria dengan bekas luka di mata kanannya.
More menyeringai, seolah bangga akan apa yang dilakukan oleh putranya. "Ya, putraku harus mendapatkan apa yang dia inginkan."
__ADS_1
"Kalian benar-benar bajingan!" pria itu terkekeh.
"Kau akan terkejut jika tau siapa gadis itu." sahut More.
"Aku tidak peduli."
"Dia putri tunggal Alexander Mashenka." ucap More cepat dan berhasil menarik perhatian pria di sebelahnya.
"Alex? Maksudmu si pengecut itu?"
"Ya. Kau masih mengingatnya ternyata."
"Hah. Tentu saja. Aku sangat membencinya seumur hidupku. Beraninya dia mencuri kepercayaan si bodoh Gennady dariku." desis pria itu.
"Dia tidak mencuri sialan! Kau sendiri yang mengubah kepercayaan Gennady padamu. Kau mencoba mengkhianatinya." sembur More. Pria tua itu heran, mengapa dipertemukan dengan pria serakah di sampingnya ini.
"Aku tidak peduli. Tujuan awalku sebelumnya adalah menghancurkan Gennady dan kedua anak istrinya. Tetapi Alex pecundang itu menggagalkan semuanya. Harusnya aku yang menjadi pemilik perusahaan itu saat ini. Tetapi karena Alex, aku berakhir di tempat kotor ini. Lihat saja, setelah Aaron mati, sasaranku berikutnya adalah pecundang itu!" tegas pria sangar itu penuh dendam.
"Well, lakukan sesukamu. Yang penting setelah ini, aku harus mendapat bagianku."
Percakapan keduanya saat salah satu anak buah mendatangi mereka dan mengatakan sesuatu.
More menyeringai saat melihat rombongan calon lawannya mengepung gedung itu, melalui layar CCTV.
"Target sudah datang." More menepuk pundak pria itu, "Keponakan tersayangmu sudah datang. Selamat bersenang-senang, Zen."
"Sialan!" umpat pria itu.
__ADS_1
TBC ☘️☘️☘️