
Perlahan, hujan berjatuhan dengan begitu lebatnya, membasahi nisan yang baru saja tertancap itu. Langit semakin menghitam, seolah ikut berduka akan berakhirnya hidup seseorang.
Evelyn bergerak melangkah, menyentuh pundak suaminya yang bergetar. Pria yang tengah berjongkok, memandangi nisan Chlarent yang pergi dengan cara yang mengenaskan. Menoleh, menunjukkan mata yang memerah, air matanya tersamarkan oleh air hujan yang semakin lebat.
"Ayo pulang." bisiknya lalu membelai wajah Aaron dengan penuh kasih.
Aaron mengangguk samar, lalu bersama-sama bangkit, meninggalkan tempat peristirahatan sang Ibu.
***
Satu minggu kemudian...
Setelah pemakaman Chlarent, Evelyn tinggal di mansion milik Aaron. Bukan karena permintaan Aaron, tetapi dirinya yang ingin tinggal di rumah ini.
Selama satu minggu berada di rumah ini. Evelyn sama sekali tidak merasakan kebahagian yang sebenarnya. Meski kini, dirinya adalah satu-satunya Nyonya di mansion ini, dan semua orang bersikap baik padanya. Tetapi rasanya masih seperti ada yang kurang.
Satu minggu setelah pemakaman itu, dirinya belum pernah sekali pun bertemu dengan Aaron. Pria itu menghilang entah kemana perginya.
Seperti pagi ini, Evelyn terbangun dari tidurnya, tanpa melihat Aaron di sampingnya.
"Selamat pagi Nona." seorang pelayan yang biasa melayaninya membuka pintu kamar, membawakan nampan sarapan miliknya.
"Pagi." meski dalam mood yang tidak baik, Evelyn selalu berusaha ramah pada setiap orang.
"Kak Aaron masih belum pulang?" tanya Evelyn akhirnya menuntaskan rasa penasarannya. Satu minggu ini, Evelyn menahan dirinya untuk bertanya keberadaan Aaron pada para pelayan. Namun kali ini, Evelyn tidak bisa menahannya lagi.
Menghubungi Aaron? Evelyn sudah pernah melakukannya sekali. Tetapi Aaron tidak mengangkatnya. Hal itu yang membuat Evelyn takut. Padahal saat ini, dirinya membutuhkan kepastian dari Aaron. Apakah gugatan cerai itu masih berlaku atau tidak.
"Maksud Nona? Saya tidak mengerti?" tanya pelayan tersebut.
"I..itu... maksudku Kak Aaron kemana satu minggu ini? Sudah satu minggu Kak Aaron tidak pulang." jelas Evelyn gugup, karena malu, dirinya tidak mengetahui keberadaan sang suami.
"Tapi Nona, Tuan Aaron selalu pulang setiap malam." jelas pelayan membuat Evelyn membelalak.
"Apa?!" jelas Evelyn terkejut. Bagaimana mungkin dirinya tidak melihat Aaron, jika ternyata pria itu selalu pulang. Dimana pria tidur? "Tapi... aku tidak pernah menemuinya."
"Mungkin Tuan Aaron tidur di ruang kerjanya Nona. Dan Tuan juga akan berangkat pagi-pagi sekali Nona." jawab pelayan tersebut.
Evelyn terdiam. Mendengar penuturan pelayan tersebut, Evelyn mengambil sebuah kesimpulan. Aaron menghindarinya?
"Saya pamit undur diri Nona."
Evelyn tidak menjawab, tetapi malah berjalan menuju lemari besar di kamarnya. Mengambil sebuah kertas lusuh, berisi tulisan di atasnya.
Membaca kalimat demi kalimat tulisan itu.
"Apakah kau akan benar-benar meninggalkanku Aaron?" lirihnya.
__ADS_1
"Kenapa aku bodoh sekali?"
"Kak Aaron tidak mengusirmu dari rumah ini, bukan berarti dia masih ingin mempertahankanmu!" ucap gadis itu merutuki ketidakpekaannya atas sikap Aaron.
Ya, Evelyn meyakini hal itu. Jika Aaron memang benar-benar ingin mempertahankannya, harusnya segera setelah pemakaman itu, Aaron bicara padanya. Bukannya malah menghindar seperti ini.
Evelyn memejamkan matanya, berusaha menerima semua jalan hidup yang Tuhan bebankan padanya.
"Kau jahat Aaron! Kau jahat!" jeritnya dengan hati yang hancur.
***
Hari menjelang siang, Evelyn menuruni anak tangga rumah mewah itu dengan sepatu hills yang tidak terlalu tinggi. Auranya semakin menawan oleh gaun selutut berwarna coklat, melekat dengan sempurna di tubuh mungilnya.
Di anak tangga terakhir, seorang pelayan laki-laki menghampirinya, memberikan sebuah map padanya.
"Kau sudah memperbaikinya?" tanya Evelyn.
"Sudah Nona."
"Terima kasih."
"Sama-sama Nona."
"Kau bisa mengantarku ke kantor Kak Aaron?" tanyanya.
Sepanjang di perjalanan, manik Evelyn selalu tertuju pada surat di tangannya. Sebuah surat yang akan mengantarkan dirinya dan Aaron ke ambang perpisahan.
Saat ujung pena hampir mengenai kertas itu, "Anda benar-benar ingin berpisah dari Tuan Nona?" tiba-tiba pelayan itu menyanggahnya.
Evelyn membalas tatapan pelayan itu melalui kaca depan, menjelaskan bahwa hatinya memang tidak siap berpisah dari Aaron.
"Jika Nona tidak siap, jangan memaksakan diri. Saya takut Nona dan Tuan malah akan saling menyakiti nantinya." ucap pria tersebut.
Evelyn mengalihkan tatapannya dari pelayan tersebut. Mengusap air mata yang baru saja jatuh, dan tanpa pikir panjang, menggoreskan tanda tangannya di kertas perpisahan itu.
"Aku ingin bertahan, tapi Tuanmu yang bejat itu tidak berniat mempertahankanku!" ucapnya sarkas.
Sampai di gedung raksasa milik sang calon mantan suami, Evelyn langsung diarahkan resepsionis menuju ruangan Aaron tanpa menanyakan apapun. Sepertinya, mereka memang sudah menyambut dirinya.
"Silahkan masuk Nona." ucap seorang staf perempuan yang mengantarnya ke depan ruangan Aaron.
Sejenak, Evelyn memejamkan matanya. Meski berat, tetapi secepatnya dia harus memperjelas masalah ini. Setelah mengetuk dan terdengar perintah dari dalam, Evelyn membuka pintu.
Sosok pria yang satu minggu ini menghantuinya menyambutnya. "Kau datang?" sapa pria itu, beranjak dari kursi kebanggaannya.
Evelyn mengangguk, tetapi jantungnya berdetak dengan begitu kencangnya.
__ADS_1
"Kemari." menyuruhnya duduk di sofa, dan yang membuat Evelyn termangu, Aaron mengambil duduk jauh darinya.
"Ada apa datang kemari?" tanya pria itu. Pertanyaan macam apa itu? Apakah harus ada alasan jika istri mendatangi kantor suaminya?
"Evelyn?" panggil Aaron, karena dirinya hanya diam dan menatap Aaron penuh arti. Sikap pria itu terasa aneh.
"Aku... ingin memberikan ini padamu." ucapnya pada akhirnya memberikan sebuah map pada Aaron. Evelyn semakin yakin untuk memberikan surat ini, ketika melihat sikap Aaron yang terkesan dingin padanya.
"Apa ini?"
"Buka saja."
"Ini....?" wajah pria itu tiba-tiba pucat sesaat setelah membaca surat itu.
"Maaf aku baru bisa memberikannya hari ini. Seminggu terakhir ini kau terlalu sibuk, aku pikir lebih baik mengantarkannya sendiri." jelas Evelyn tanpa diminta, membalas tatapan Aaron.
Gadis itu mengalihkan pandangannya, saat setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ketika menoleh kembali, Aaron masih mematung, memandangi surat itu lamat-lamat. Satu gores tinta mengenai kertas itu, maka karam sudah perahu mereka.
"Ada apa?" tanya Evelyn membuyarkan lamunannya.
"Ti..tidak ada apa-apa." jawab Aaron terbata-bata. Dengan tubuh gemetar, Aaron meraih pena, mengarahkan ke atas kertas tersebut.
Hampir saja, ujung pena mengenai kertas putih, tetapi tanpa diduga, Evelyn merebut pena lalu melemparnya dengan kasar.
"Evelyn?" Aaron tersentak akan apa yang Evelyn lakukan baru saja. Apalagi ketika melihat wajah penuh emosi di wajah yang biasanya selalu murah senyum itu.
"Kau benar-benar ingin melepaskanku?!" bentaknya.
"Elin..."
"Jangan sebut namaku! Kau brengs*k, kau bajingan! Satu minggu ini aku menunggumu untuk bicara padaku. Dan menjelaskan semuanya padaku. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah menghindar dan membiarkanku tinggal di rumah itu seperti orang bodoh!" sembur wanita itu. Tangannya mengepal, berusaha menahan untuk tidak mencakar wajah pria yang kini terlihat seperti korban.
"Bicaralah brengs*k! Jangan hanya diam saja!" bentaknya lagi, karena Aaron masih tergugu seperti orang bodoh.
"Evelyn aku..."
"Diam!" sentaknya, entah datang dari mana, gadis itu mendekat, lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi di dada pria itu. "Kau jahat Aaron! Selama ini kau menyiksaku dengan sangat kejam! Mencaci dan menyiksa batinku. Dan beraninya, dengan mudahnya kau membuangku! Kau jahat! Kau adalah manusia yang paling kejam yang pernah kukenal!" gadis itu berapi-api, tidak puas memukuli dada pria itu sekuat tenaganya.
Sedetik kemudian, pukulannya melemah, tangisnya pecah saat itu juga. "Tapi kenapa aku masih saja mencintai laki-laki kejam sepertimu...." tubuhnya melemah, hampir merosot di atas lantai.
TBC ☘️☘️☘️
PLISS JAN HUJAT...
KEMARIN RENCANANYA MAU LANJUTIN KARYA AKU YG LAIN DI AKUN INI, TAPI JADI RAGU. GEGARA KOMENANNYA YANG RADA PEDES😭🤭
SORI AKU BAPER😌
__ADS_1