
Aaron masuk ke dalam kamar, dan melihat Evelyn yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memegang pergelangan tangannya.
"Kenapa kau begitu sulit diatur?" Aaron membentak Evelyn.
"Maaf Tuan. Tapi aku benar-benar tidak mendorongnya tadi, dia sendiri yang tiba-tiba terjatuh..."
"Diam! Aku tidak butuh penjelasan!" Bentak Aaron lagi hingga membuat Evelyn ketakutan dengan mata berkaca-kaca.
"Tuan, kau tidak percaya padaku?" Sungguh Evelyn tidak suka dituduh atas apa yang bukan perbuatannya.
"Kenapa aku harus percaya padamu?"
Evelyn bungkam, tidak bisa berkata-kata lagi. Memang benar, atas dasar apa Aaron harus mempercayainya. Sedangkan Aaron menganggap dirinya hanyalah budak untuk dijadikan pelampiasan balas dendam atas perbuatan Daddy-nya.
"Aku benar-benar tidak mendorongnya...Aku bersumpah..." Gadis itu sudah berusaha menahan tangisannya, tapi tetap saja dirinya tak kuasa.
Aaron melihat Evelyn lagi-lagi menangis menjadi merasa bersalah. Padahal dia tidak sedang membahas tentang itu.
"Hei bodoh. Kau pikir aku sedang membahas apa?" Sentak Aaron. Pria ini memang tidak punya belas kasihan. Walaupun Evelyn menangis, sampai hati dia membentaknya.
Evelyn menghapus air matanya, "Apa maksud Tuan?"
"Kau pikir aku marah karena apa."
__ADS_1
"Karena apa?"
"Kau mau kemana dengan pakaian seperti ini?" Memindai tubuh Evelyn dari atas sampai bawah.
Evelyn yang pagi itu memakai dress warna hijau koral turut mengikuti pandangan Aaron.
"Tentu saja aku akan ke kampus Tuan."
"Ck. Lalu siapa yang mengizinkanmu?"
"Maafkan aku Tuan. Aku kira kau sudah berangkat lebih dulu.." Evelyn menundukkan kepalanya, karena tatapan Aaron selalu menakutinya.
"Ck." Aaron kesal. "Sudahlah. Pergilah ke kamar Ibu, Ibu mencarimu. Rawatlah Ibu beberapa hari ini, Ibu sedang kurang sehat." Ujar Aaron dengan wajah datar.
"Ibu sakit?" Yang dijawab gumaman Aaron.
Tanpa menjawab lagi, Evelyn keluar dari kamarnya menuju kamar Chlarent yang dipisahkan oleh dua kamar dari kamarnya. Tidak lagi memikirkan saat Aaron yang baru saja membentaknya.
"Ibu..." Kepalanya muncul sebagian dari balik pintu.
"Evelyn." Chlarent tersenyum cerah melihat kedatangan menantunya. "Kemarilah Nak."
Nesya menghampiri Chlarent yang bersandar di kepala ranjang.
__ADS_1
"Kata Tuan Aaron, Ibu sakit. Ibu sakit apa?" Evelyn menggenggam tangannya.
Chlarent menggeleng, "Ibu tidak apa-apa. Ini hanya sakit yang biasa dialami orang tua."
"Tapi Evelyn khawatir, Ibu dirawat di rumah Sakit saja ya?"
"Tidak tidak. Ibu tidak mau dirawat di rumah sakit. Ibu tidak suka rumah sakit." Tolak Ibu.
Evelyn menghela nafasnya, "Ya sudah, kalau Ibu tidak mau. Tapi Ibu harus banyak istirahat, Evelyn akan menjaga dan merawat Ibu."
"Tapi kau harus kuliah Nak..."
"Tidak apa-apa Bu. Kesehatan Ibu lebih penting dari pada itu semua." Ujar Evelyn tulus, karena memang sangat mengkhawatirkan kesehatan Chlarent.
Dan satu hari ini, Evelyn merawat Chlarent. Dengan sepenuh hati, dia mengurus wanita itu, layaknya ibu kandungnya sendiri. Mulai dari memasak makanannya, memijat tubuh rentan itu dengan step yang pernah Kane ajarkan padanya sebelumnya.
***
Sedangkan di tempat lain. Di sebuah ruangan yang minim cahaya, Aaron duduk di sebuah kursi. George, sang tangan kanannya, berdiri di hadapan pria itu dengan penuh hormat.
Dirinya tetap bergeming, meski Aaron sudah melemparkan map yang baru saja diberikannya pada pria itu.
Rahang Aaron mengeras ketika mengetahui sebuah fakta yang amat menggoncang jiwanya
__ADS_1
"Jelaskan." Perintah Aaron dengan suara yang meninggi.
TBC