
"Ibu!" teriak Aaron ketika sosok wanita yang amat dia cintai tiba-tiba berdiri di antara jarak mereka dengan Zen. Tubuh wanita terkejut akan timah panas yang tiba-tiba bersarang di punggungnya. Perlahan tapi pasti, tubuh renta tersebut merosot hingga terkapar di atas lantai. Darah mulai bersimbah membasahi lantai putih itu.
"Chlarent...." salah satu orang yang paling terpana akan kehadiran Chlarent di sini, Zen. Wanita yang selalu melekat di dalam hatinya kini tengah meregang nyawa oleh tangannya sendiri. Chlarent, kekasih hatinya yang dengan tega dia tinggalkan hanya untuk memuaskan dahaganya akan harta.
Bertahun-tahun lalu, Zen meninggalkan istrinya, Chlarent yang saat itu tengah mengandung di sebuah desa. Zen berjanji akan kembali dengan segudang harta untuk menenangkan Chlarent yang tidak rela jika dirinya pergi.
Tetapi berbulan-bulan Chlarent menunggu, Zen tak kunjung kembali. Bahkan ketika dirinya melahirkan Zen tidak ada di sisinya. Tidak hanya itu, putra mereka yang sudah berumur dua tahun, harus meregang nyawa. Karena sakit berkepanjangan, tetapi tidak mendapat perawatan dengan baik.
Zen menghilang bagai di telan bumi. Tidak ada kabar maupun surat darinya. Hanya karena harta yang bukan miliknya, pria itu melupakan wanitanya.
Zen menghampiri tubuh wanita itu. Membelai wajah yang rasanya seperti mimpi bisa melihatnya hari ini. Tetapi mengapa harus dengan cara seperti ini pertemuan pertama mereka setelah dua puluh tahun lamanya? Mengapa harus ada pertumpahan darah di pertemuan bersejarah ini?
"Chlarent..." membelai wajah yang dulu begitu cantik, kini sudah berkerut di tiap sisi wajahnya. Namun, kecantikan itu tidak berkurang sama sekali.
__ADS_1
"Zen..." dengan susah payah, Chlarent mencoba bersuara. Tangan rentannya menyentuh goresan di mata kanan pria tua itu. Mengusap air mata yang belum pernah membendung sebelumnya. "Sudahi semua ini.... Biarkan keluarga Lisin bahagia..." ucap Chlarent. Matanya mulai lemah, hampir meredup, seraya dengan jantungnya yang semakin memompa cepat.
"Chlarent.... Maafkan aku..."
"Pergi bajingan!" tiba-tiba tubuh Zen terdorong oleh tangan Aaron sendiri. Pengawal langsung membekuknya.
"Ibu bertahanlah." hendak meraup Aaron ke dalam dekapannya.
"Sudah Aaron.... Biarkan Ibu." menolak saat Aaron hendak membawanya pergi.
"Putraku..." Aaron menangkup tangan Chlarent lalu menciumnya bertubi-tubi. "Setelah Ibu pergi... jadilah suami yang baik dan hangat untuk istrimu..."
"Tidak Ibu! Ibu tidak boleh pergi! Ibu harus hidup!"
__ADS_1
Chlarent menggeleng, "Ibu akan selalu hidup di sini..." menunjuk dada sang putra. "Doa Ibu menyertaimu..."
Entah itu kata-kata terakhirnya, tetapi yang pasti jantung wanita itu berhenti berdetak, meski matanya tetap terbuka.
"Ibu..." Aaron menarik nafasnya. Tangan besarnya menutup manik Chlarent hingga tertutup sempurna. Wanita ini telah berpulang.
"Aaron... bagaimana istriku?" Zen yang melihat reaksi Aaron mulai panik. Tetapi malah mendapat tatapan tajam dari keponakannya tersebut.
"Bawa dia dan berikan hukuman paling menyiksa. Jangan biarkan dia mati sebelum bajingan ini memohon untuk mati!" perintah Aaron pada anak buahnya.
"Tidak Aaron. Biarkan aku melihat istriku! Setidaknya untuk yang terakhir kalinya!" pinta pria tua itu. Tapi terlambat, Aaron tidak akan memberikan kesempatan.
Setelah Zen dibawa, Aaron meraup Chlarent ke gendongannya. Kemudian menghampiri kekasih hatinya, Evelyn yang masih terpaku melihat semua peristiwa historis yang tidak akan pernah dia lupakan.
__ADS_1
Evelyn sadar akan tatapan sang suami. Melihat tangan Aaron yang terulur padanya. Pria ini tidak melupakannya. Tanpa ragu, Evelyn menyambut tangan Aaron dan mengikuti langkah pria itu.
THE END