
Aaron sampai di mansion utama saat malam sudah larut. Dirinya langsung menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa, sebelah Evelyn yang sudah terlelap. Dengan hanya berbalut, selimut tipis, gadis itu tidur begitu pulasnya.
Aaron menatap gadis itu dengan wajah datar, namun penuh ironi. Tidak tau akan isi pikiran lelaki itu saat ini.
Aaron memutuskan untuk membersihkan tubuhnya, setelah satu harian ini bekerja keras di perusahaan. Setelah itu, entah malaikat dari mana, pria itu mengangkat Evelyn menuju tempat tidur. Mungkin kalian pikir, Aaron akan tidur di sofa dan membiarkan Evelyn tidur di ranjang malam ini.
Big No. Kalian salah besar. Aaron ikut bergabung tidur di atas ranjang yang sama dengan Evelyn. Evelyn yang memang kelelahan tidak merasa terganggu sama sekali, ketika Aaron mengangkat tubuh mungilnya ke atas tempat tidur.
Aaron memandangi wajah cantik Evelyn dengan seksama. Setiap sudut wajah gadis itu, tidak luput dari pandangannya. Aaron menghapal semua yang ada dalam wajah gadis itu. Merangkum secara keseluruhan, agar sampai kapanpun, dia tidak melupakan gadis ini.
Tanpa Aaron duga, Evelyn tanpa sadar, melingkarkan kedua tangan dan kakinya pada tubuh Aaron. Hingga tubuh mereka menempel sempurna.
Bukannya risih dan menyingkirkan dekapan tubuh Evelyn, Aaron malah semakin memeluk erat tubuh mungil itu.
"Tidur yang nyenyak. Kau sudah bekerja keras hari ini." Bisik pria itu lirih di telinga Evelyn. Lalu mengecup kening istrinya dengan perasaan gundah.
__ADS_1
Tentunya, Aaron tau bagaimana Evelyn merawat Chlarent satu hari ini. Selain karena mendapat laporan dari pelayan kepercayaannya, Aaron pun turut memantau secara virtual aktivitas Evelyn di rumah ini. Terdapat banyak CCTV yang menempel di setiap sudut rumah ini. Hingga memudahkan Aaron untuk memantau Evelyn.
Hal itu menambah nilai positif bagi Aaron, ternyata Evelyn masih bisa memperlakukan Chlarent dengan baik, meski selama ini dia selalu kejam padanya.
Dari sifat Evelyn yang penyabar, Aaron mendapatkan pencerahan. Bahwa sebesar apapun kesalahan orang lain pada kita, tidak selamanya harus dibalas dengan hal yang sama pula.
Aaron bingung, kenapa begitu sulit untuk menanamkan prinsip itu dalam hidupnya. Bayang-bayang ketika Ayah dan Zen meregang nyawa di hadapannya telah meninggalkan trauma dalam dirinya.
Dengan membawa semua kegundahan di dalam hati, akhirnya Aaron terlelap sambil memeluk gadis itu. Terasa hangat dan menenangkan, entahlah seluruh bebannya seolah terangkat saat berada bersamanya.
Pagi menyapa, Evelyn membuka kelopak matanya yang terpejam erat semalaman. Tidurnya begitu nyenyak malam ini sampai terlambat bangun. Evelyn sadar ketika dirinya ada di atas ranjang. Seingatnya semalam dia tidur di sofa seperti biasanya. Apa dia salah ingat?
Lamunan Evelyn buyar ketika pintu walk in closet terbuka. Aaron keluar sudah rapi dengan pakaian kantornya. Aaron melihat Evelyn dingin seperti biasanya, lalu duduk di atas sofa.
Evelyn yang merasa gugup dan canggung ditatap seintens itu, buru-buru beranjak dari tempat tidur. Saat hendak masuk ke kamar mandi, langkahnya terhenti ketika Aaron menginterupsinya.
__ADS_1
"Tunggu!"
"Iya Tuan?" Evelyn berbalik.
"Kemari!" Suara Aaron penuh intimidasi membuat Evelyn enggan menolak.
Evelyn perlahan mendekati Aaron yang duduk di sofa. Tanpa Shara duga, tubuhnya sudah terhempas di atas tubuh kekar Aaron, akibat tarikannya yang kuat.
"Tuan..."
Lagi-lagi Evelyn terkejut dibuatnya, saat bibirnya sudah tenggelam dalam kelembutan bibir pria itu. Tanpa sadar Evelyn memejamkan matanya, kala ciuman Aaron yang begitu lembut, terlalu nikmat untuk ditolaknya.
Memang berciuman bukanlah keahliannya yang masih polos. Yang bisa dilakukan gadis itu hanya bisa duduk diam menikmati ciuman lembut dari sang suami.
Pelukan erat Aaron di pinggangnya, membuat gadis itu kesulitan melepaskan diri darinya.....
__ADS_1