
"Dia siapa?" Entah Myke sengaja atau tidak, mata lelaki itu memicing membalas tatapan tajam Aaron dengan pandangan penuh permusuhan. Sangat tampak bahwa Myke tidak menyukai Aaron.
Evelyn tergagap, karena tidak tau harus mengatakan apa. Dia masih ingat dengan jelas, ancaman Aaron dulu yang tidak mau hubungan mereka tidak diketahui oleh orang lain.
"Dia majikanku Myke." Jawab Evelyn dengan pasti karena tidak ingin membuat Myke curiga.
"Majikan?" Myke tersenyum miring. "Ini akan sangat menyenangkan." Batin pria berparas rupawan itu.
Aaron yang melihat seringai licik di wajah Myke, sudah curiga sejak tadi. Sejak pertemuan mereka di pusat perbelanjaan tempo hari, Aaron sudah curiga. Pasti ada maksud terselubung pria itu terhadap Evelyn atau pada dirinya.
"Iya Myke, dia majikanku. Kalau begitu aku masuk dulu ya." Evelyn langsung membuka pintu mobil. Dia tidak ingin membuat Aaron semakin murka lagi, jika dirinya berlama-lama di sana.
Untuk yang kesekian kalinya Evelyn merasakan sesak setiap berada di ruang yang sama dengan Aaron. Rasanya mobil melaju dengan sangat lambat. Aura mengintimidasi pria itu terlalu kuat, sehingga membuat orang yang berada di sekitarnya selalu merasa susah bernafas.
"Sepertinya kau tidak mengindahkan perintahku tadi pagi rupanya."
Evelyn berjingkat kaget, ketika mendengar suara bariton itu menyapa gendang telinganya. Suara yang terasa menusuk dan dingin mengisi kesunyian di dalam mobil itu.
__ADS_1
"Mak...maksud Tuan?" Entah Evelyn sedang pura-pura tidak ada yang tau.
"Kau bertanya apa maksudku?" Aaron menoleh pada Evelyn. Perlahan mendekati perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.
"Maaf Tuan... Saya tidak tau perintah mana yang kau maksud?" Raut wajah Evelyn menjadi cemas, kala Aaron semakin dekat dari jangkauannya.
Jemari Aaron bergerak menyentuh ujung rambut Evelyn yang tergerai indah di punggungnya. Nafas pria itu sengaja dihembuskan hingga menerpa di sekujur leher jenjang gadis itu.
"Tuan..." Evelyn sangat tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini.
"Kenapa hmm..."
Sebelumnya, Aaron menekan sebuah tombol yang otomatis membuat sekat hitam pembatas antara kursi kemudi dan penumpang tertutup sempurna. Hal ini bertujuan untuk melindungi privasi penumpangnya.
"Tolong menjauh Tuan, saya tidak nyaman."
"Memangnya aku peduli kau nyaman atau tidak. Kau tidak memiliki hak untuk protes atas apa yang akan kulakukan."
__ADS_1
Aaron sengaja memegang lengan Evelyn dengan erat, yang mana sekujur tubuh Evelyn merinding dibuatnya.
"Tuan. Tolong lepaskan tangan saya...."
"Diamlah. Jangan bicara sebelum aku mengizinkanmu untuk bicara. Hari ini kau sudah memancing amarahku hingga di ambang batas. Maka sekarang juga aku harus menghukummu."
Aaron menyusuri wajah Evelyn dengan jemarinya yang lembut. Mulai dari mata, hidung dan terakhir berlabuh di bibir ranum gadis itu. Bibir itu bagai menghipnotis kewarasan seorang Aaron, bibir itu terlihat menggoda. Sedikit basah dan terbuka seakan menunggu direguk manisnya bibir itu.
Aaron yang sudah tidak tahan lagi, dengan penuh mendamba segera menyerang bibir itu, tapi malah mendarat di pipi Evelyn karena gadis itu memalingkan wajahnya ke samping. Aaron bisa merasakan dorongan tangan mungil di dadanya yang tidak berarti apa-apa pada tubuhnya.
"Kau menolakku?" Tanya Aaron dengan suara tertahan.
"Maafkan aku Tuan. Kau boleh menghukumku, tapi tolong jangan seperti ini." Evelyn tidak kuasa menahan air matanya.
"Kau tidak berhak mengaturku."
TBC ☘️☘️☘️
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA YAAA YAAA 😀😀