Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Pertemuan Dua Kerabat


__ADS_3

 


 


 


Senyum cerah kini terbit di sudut bibir Evelyn, setelah mendengar seseorang melalui telepon genggamnya. Wajah yang tadinya murung karena ulah suaminya tadi pagi, kini terlihat cerah dan sumringah.


Baru saja Evelyn mendapat kabar dari rumah sakit, bahwa besok Anastasia akan dioperasi. Tentu saja yang ditangani dan dipantau langsung oleh dokter berbakat dan mahir dalam menangani penyakit yang diderita Anastasia.


Tentu saja itu akan menjadi berita bahagia untuknya. Wanita yang amat dia cintai akan segera mendapat kesehatannya kembali.


Senyumnya tiada lekang sedari tadi. Berharap besar Anastasia akan sembuh dan bisa berkumpul dengannya lagi, sudah cukup lama wanita paruh baya itu menghabiskan waktunya di rumah suaka itu.


Evelyn tau, bahwa yang mengatur semua fasilitas untuk operasi Anastasia, pastilah Aaron, pria kejam yang sudah menjadi suaminya.


Evelyn mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Termenung memikirkan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Siapa lagi kalau bukan Aaron. Pria itu sangat sulit ditebak. Lihat saja buktinya, baru saja Aaron mempermainkannya, dan beberapa saat kemudian, Aaron mengatur operasi Anastasia.


Sebenarnya apa mau pria itu.


Di satu sisi, Aaron selalu saja menyakiti perasaannya dan selalu bersikap kasar padanya. Namun, di sisi lain, Aaron selalu melakukan hal-hal yang kadang membuatnya senang. Yang mana membuat hatinya luluh dan kembali memaafkan semua sikap buruknya.


Evelyn sungguh tidak dapat memahami Aaron, pria itu acap kali membolak-balikkan hati dan perasaannya. Aaron membuatnya bingung, terkadang bersikap baik, terkadang bersikap buruk. Meski sikap kasarnya lebih mendominasi dari yang lain.


Evelyn bergegas bangkit. Hari ini dia berencana bolos, dan memilih mengunjungi Anastasia. Anastasia perlu didampingi menjelang operasi yang akan dijalani besok.


Saat menuruni anak tangga, Evelyn berpapasan dengan Chlarent, wanita itu hendak naik ke atas.


"Evelyn, kau mau ke kampus?" menghentikan langkahnya.


"Tidak Bu. Hari ini aku akan ke rumah sakit. Besok Mommy akan menjalani operasi." Jawab Evelyn seadanya.


Chlarent agak terkejut, "Benarkah?"


"Iya Bu."

__ADS_1


"Kalau begitu, Ibu akan ikut denganmu. Ibu sangat ingin melihat Mommymu." Chlarent tidak sabaran. Karena memang sudah sejak lama dia ingin mengunjungi besannya yang sedang sekarat, tapi belum mendapatkan kesempatan hanya untuk sekedar menyapa.


Evelyn mengangguk, "Baik Bu, kira akan pergi bersama."


"Baiklah. Tunggu sebentar, Ibu akan bersiap, turunlah lebih dulu." Ujar Chlarent, lalu melanjutkan menaiki anak tangga.


***


Kedua wanita beda generasi itu, masuk ke sebuah ruangan yang sudah amat familiar bagi Evelyn. Entah sudah berapa kali dia memijakkan kaki di tempat ini.


Di dalam ruangan, ada dua orang perawat yang baru saja selesai memeriksa kondisi Anastasia. Kedua perawat itu menyapa Evelyn dan Chlarent sebelum keluar dari sana.


Anastasia yang kini duduk menyandar kembali tersenyum cerah kala anak gadisnya muncul di hadapannya. Tubuh yang kini agak kurusan, masih bisa dengan cepat menangkup Evelyn dalam pelukannya.


"Mommy..."


"Kau datang sayang?"


"Iya Mom. Aku akan ada di sini sampai Mommy dioperasi besok." ujarnya, menggenggam tangan Anastasia erat.


Sedari tadi, Chlarent menatap Anastasia dengan sendu. Hatinya meringis ketika melihat keadaan kerabatnya ini. Langsung saja Chlarent menyalahkan Aaron dalam hal ini. Tentu saja, Aaron mengambil bagian atas penderitaan keluarga ini.


"Ah Mom. Kenalkan. Ini Ibu Chlarent, Ibu dari suamiku." Dengan cepat Evelyn memperkenalkan kedua wanita paruh baya itu, wanita yang kini terikat dalam hubungan kedua putra-putrinya.


Wajah sendu yang tadinya tercetak jelas di wajah Chlarent, kini tersenyum hangat. Menatap Anastasia dengan penuh kekaguman, wanita yang telah melahirkan dan mendidik gadis sekuat Evelyn.


Dengan sopan, Chlarent mengulurkan tangannya, "Salam kenal Nyonya Anastasia, perkenalkan aku Chlarent, Ibu angkat Aaron." layaknya orang tua yang bersahaja, Chlarent memperkenalkan dirinya.


Jabatan itu disambut hangat oleh Anastasia, pun dia merasakan keakraban yang terjadi begitu saja, saat pertama kali melihat Chlarent.


"Jangan panggil aku begitu. Panggil saja Anastasia, kita ini besan bukan."


Ingin sekali rasanya Chlarent memeluk, merengkuh tubuh rentan itu. Berharap dengan itu bisa mengurangi sakit yang dia rasa. Tetapi Chlarent sudah berjanji sebelumnya pada Evelyn, agar tidak menunjukkan sesuatu yang tidak lazim dihadapan Anastasia. Evelyn takut, Anastasia kembali shock, jika mengetahui satu fakta mengejutkan lainnya.


***

__ADS_1


Di sebuah ruangan. Ruangan yang sebenarnya yang berada di bawah tanah, dengan minim pencahayaan. Hanya ada satu lampu yang bergantung pada langit-langit ruangan. Sangat redup, kekuatannya tidak lebih dari lima Watt, yang tentu saja tidak dapat menerangi seluruh penjuru ruangan.


Bau yang amat menyengat begitu pekat memenuhi hidung, serta suhu yang rendah membuat ruangan itu terasa lembab. Siapapun tidak akan suka berlama-lama tinggal di ruang semacam itu.


Tetapi tidak bagi seorang pria yang duduk di sebuah kursi kayu yang nampak lusuh itu. Pria itu begitu menikmati waktunya berdiam diri di dalam ruangan luas yang jauh dari keramaian.


Lelaki dengan umur yang dapat ditebak sekitar pertengahan empat puluh tahun. Memiliki wajah sangar, tepat pada belahan vertikal mata kanannya, terdapat sebuah luka sayatan. Menyeramkan. Bengis. Dua kata yang cocok untuk mengartikan wujud wajah pria itu.


Lelaki itu menyesap pipe smoke-nya, lalu menghembuskan asapnya di udara. Pria itu begitu menikmati kesendiriannya. Tanpa ada gangguan sama sekali.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara derap kaki yang perlahan mendekat dan semakin jelas di telinganya.


"Sialan. Kenapa kau begitu betah tinggal di tempat kumuh ini."


Terdengar umpatan seorang pria bersuara berat, yang baru saja sampai di hadapannya. Mendesis tidak suka pada pria yang masih menyesap pipa cangklong nya.


"Kalau kau tidak suka, maka tidak usah datang kemari." jawab pria dengan tanda pada matanya.


"Jika bukan karena hal penting, aku juga tidak akan sudi datang ke tempat sampah ini!"


"Menyebalkan." membuka topi bulat hitam Solomon nya, sembari duduk di sebuah kursi yang sama dengan pria tadi.


Pria misterius itu tersenyum tipis, menatap tamunya dengan pandangan tak biasa.


"Ayolah Mor, hal penting apa yang membuatmu datang ke tempat sampah ini."


Memang terdengar seolah tidak peduli, tapi jauh dalam hati pria itu sangat penasaran. Bukan tanpa alasan, sebab teman sekutunya ini tidak akan datang mengunjunginya, jika tidak ada sesuatu yang penting.


Pria yang dipanggil Mor itu sebenarnya adalah Morrone Towers. Pria tua ambisius yang masih saja belum bertobat, meski ajalnya sudah ada di depan mata.


Morrone menyipitkan matanya, seolah berita yang dibawanya memang sangatlah penting.


"Wanitamu..."


Satu kata saja, namun sanggup menggetarkan jiwa pria berhati keras itu. Matanya menelisik tajam pada Morrone, memerintahkan agar pria itu melanjutkan ucapannya. Pria itu tidak suka digantung.

__ADS_1


"Wanitamu merawat anak sialan itu!"


__ADS_2