Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Aku Mencintaimu Evelyn


__ADS_3

Manik Aaron menatap dalam-dalam manik gadis malang yang sudah berkali-kali mendapat luka darinya. Gadis yang ternyata adalah teman masa kecilnya, diam-diam telah memiliki tempat di dalam hatinya. Sungguh sangat sulit bagi Aaron untuk mempercayai kenyataan ini. Dirinya telah melukai kekasih masa kecilnya dengan cara yang teramat sangat kejam.


Dan satu hal yang paling membuat Aaron terhenyak. Gadis yang telah dilukainya sangat dalam, ternyata berlapang dada memaafkan dirinya. Entah dirinya harus senang atau sedih.


"Evelyn..." bibir Aaron bergetar memanggil nama yang teramat indah itu. Keduanya saling memandang cukup lama, dengan makna tatapan yang berbeda-beda. Jika Aaron menatap penuh penyesalan, maka tatapan Evelyn begitu tulus dan sendu.


"Ya Tuan..."


"Sst... jangan sebutan itu lagi. Aku ini bukan tuanmu...." sanggah Aaron.


Evelyn tersenyum canggung, "Maaf, aku belum terbiasa..."


"Maka biasakanlah. Aku suamimu dan kau adalah istriku, panggil aku sebagaimana mestinya. Mengerti?" pinta Aaron.


"Hmm baiklah. Aku akan memanggil namamu saja."


"A..aaron... aku memakai pakaianku dulu." Evelyn hampir berdiri, tetapi gagal karena Aaron kembali menariknya hingga terduduk begitu dekat dengannya.


Aaron mengunci manik Evelyn terpaku padanya, memancarkan cahaya dari manik sendu yang selalu melemahkan jiwanya.

__ADS_1


Bibir Evelyn hampir mengeluarkan suara, tetapi bibir Aaron sudah lebih dulu membungkamnya dengan ciumannya. Sama seperti sebelumnya, Evelyn selalu bergetar setiap Aaron melakukan hal ini. Evelyn memejamkan matanya, menikmati setiap cecapan di dalam mulutnya.


Aaron melakukannya dengan sangat lembut dan penuh perasaan. Tangan besar nan kokoh itu tidak lupa mengusap lembut punggung mungilnya, yang semakin lama menjalar ke bagian tubuh sensitifnya.


Evelyn mengerang tertahan ketika Aaron menyentuh tubuhnya. Rasanya ingin menolak, tetapi tubuhnya berkata lain. Entah bagaimana caranya, tubuhnya kini sudah berada di atas pangkuan pria itu.


Beberapa saat kemudian, Aaron melepaskan setiap sentuhan bibir dan jemarinya dari tubuh itu, sebelum otak warasnya menghilang. Aaron menahan diri, karena tidak ingin membuat Evelyn tersakiti nantinya.


Pria itu memperbaiki bathrobe milik Evelyn yang tersingkap, menampakkan tubuh bagian atasnya dengan jelas.


"Maaf...." bisik Aaron.


Evelyn menundukkan kepalanya, wajahnya masih merah oleh panas yang berasal dari dalam tubuhnya. Aaron tersenyum melihatnya, kemudian mengambil tangan Evelyn dan menggenggamnya erat.


"Maukah kau memulai semuanya dari awal bersamaku?" tanya Aaron yang tentunya membuat Evelyn bingung.


"Apa maksudmu Aaron?"


Aaron menarik nafasnya, meski terasa sulit untuk mengatakannya, tapi bagaimana pun juga dia harus mengungkapkan sesuatu pada gadis ini.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Evelyn...."


Ucap pria itu akhirnya. Memang Aaron cukup lancang mengatakan hal itu pada gadis yang dulu telah dia siksa fisik dan batinnya. Mudah sekali, hanya karena sudah mendapatkan pengampunan, Aaron begitu lancang mengutarakan isi hatinya.


"Evelyn?" panggilnya karena Evelyn masih mematung menatap lekat dirinya.


"Jangan mempermainkanku Tuan." jawab gadis itu dengan dingin. Gadis itu sudah seperti mati rasa akan pengungkapan cinta pria itu.


Aaron langsung menggeleng, "Aku tidak sedang bermain-main Evelyn. Aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal Evelyn. Aku ingin memperbaiki semua perbuatanku dan menebusnya...."


"Jika kau merasa bersalah padaku, tidak perlu seperti ini Tuan. Bukankah aku sudah memaafkan semuanya?" Evelyn memotong ucapan Aaron dengan senyumannya. "Atau kau merasa bersalah karena aku adalah teman masa kecilmu yang tanpa sadar telah kau sakiti. Aku tidak apa-apa. Aku sudah mengikhlaskan semuanya."


"Tidak Evelyn!" memegang erat bahu gadis itu, "Bukan karena itu. Aku benar-benar mencintaimu bahkan sebelum mengetahui bahwa kau adalah Elinku." tegasnya menatap manik itu dengan luapan emosi bercampur sendu.


"Itu bukan cinta Aaron. Kau hanya merasa bersalah saja."


"Evelyn...." Aaron sungguh bingung bagaimana harus meyakinkan gadis ini.


"Aku memang sudah memaafkanmu, tetapi bukan berarti aku ingin terus bersamamu Tuan."

__ADS_1


Sungguh perkataan Evelyn bagaikan kilat bercampur guntur dalam kepalanya. Pegangannya melemah, jatuh begitu saja di atas pangkuannya.


TBC ☘️☘️☘️


__ADS_2