
Saat Aaron mencari-cari keberadaan kucing kecilnya, tepat pada saat itu pintu kamar terbuka. Kucing yang dia cari muncul dari balik pintu.
"Kau dari mana saja." cerca Aaron dengan kesal.
"Aku dari dapur Tuan, membantu Ibu membuat sarapan." Jawab Evelyn apa adanya.
"Aku tidak peduli kau dari mana! Cepat kemari!" masih kesal.
Evelyn menurut dan mendekati Aaron yang berdiri di dekat ranjang. Evelyn baru sampai di hadapan Aaron. Seuntai dasi berwarna navy sudah melayang ke arahnya. Evelyn buru-buru menangkapnya.
"Cepat pasang!" meninggikan suaranya ketika Evelyn masih mematung.
"Maksud Tuan aku yang memasang dasi untukmu?" Evelyn masih bingung.
"Tentu saja, kau pikir apa lagi? Cepat! Aku sudah terlambat."
__ADS_1
Mau tidak mau, suka tidak suka, Evelyn terpaksa menuruti keinginan Aaron. Langkahnya terasa berat semakin mendekati pria itu. Evelyn mendongak, karena tubuh Aaron yang menjulang tinggi. Dirinya hanya sebatas ketiak pria itu. Agar bisa menjangkau lehernya Evelyn terpaksa menjinjitkan kakinya.
Jantungnya berpacu dengan kencang, ketika wajahnya begitu dekat dengan wajah pria itu. Tatapan pria itu begitu tajam, melemahkan jiwanya yang begitu rapuh. Evelyn menahan nafasnya, dengan tangan melingkar untuk melilitkan untaian benang itu di leher pria itu.
Aaron terus saja menatap tajam, seolah ingin meleburkan tubuhnya tenggelam dalam tatapan itu. Evelyn ingin protes, karena Aaron terus saja memandanginya. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan ini, agar bisa menjauh dari pria itu.
Dengan tangan gemetaran, Evelyn memasangkan dasi itu, seperti yang pernah diajarkan oleh Anastasia padanya. Bahkan dulu Evelyn sering membantu Daddy-nya memakaikan dasinya, sehingga dia begitu mahir dalam memilin untaian benang itu.
Mengabaikan tatapan Aaron, gadis itu menyelesaikannya, pilinan itu terlihat rapi dan pas melekat pada leher pria itu. Kharisma yang dimiliki pria itu semakin bertambah saja.
Evelyn memperhatikan hasil kerja tangannya sejenak, lalu bergerak menjauh ketika memastikan Aaron sudah rapi. Namun langkahnya tertahan akibat cekalan yang terasa di pinggang rampingnya.
"Tuan..."
Gadis itu merasakan desiran aneh yang secara refleks menghinggapi tubuhnya, ketika tangan Aaron menyentuhnya. Tubuhnya menegang, sama seperti dulu, ketika Aaron menyentuhnya.
__ADS_1
Dengan tatapan tajam mematikan itu, Aaron menarik Evelyn semakin dekat, hingga tidak menyisakan jarak. Tangan kekar nan keras itu meremas pinggang mungil itu yang mana membuat Evelyn meringis, merasakan geli pada tubuhnya.
"Tu..tuan apa yang kau lakukan. Lepaskan..." mencoba menarik diri dari cengkeraman pria ini. Meskipun akhirnya sia-sia saja, tenaganya tidak sebanding dengan Aaron yang bertubuh besar dan kekar, dilengkapi dengan otot-otot di tempat tertentu.
Aaron tidak mengindahkan permintaan wanita mungil itu, malah tangannya melingkar di pinggangnya, hingga tubuh mereka menempel sempurna.
Evelyn menahan nafas, dia sangat tidak menyukai posisi ini. Dia tidak terbiasa berjarak sedekat ini dengan pria mana pun. Meski sudah berulangkali Aaron melakukannya, tetap saja dia tidak terbiasa, karena masih menganggap Aaron orang asing dalam hidupnya.
"Lepaskan aku Tuan..." cicitnya, dengan kepala menunduk, berhadapan tepat pada dada liat nan kokoh itu.
Seakan tidak peduli, satu tangan Aaron bergerak naik menyentuh bahu yang merambat hingga wajah mulus itu.
Evelyn terkesiap, merasakan sentuhan lembut Aaron diwajahnya. Dan tiba-tiba saja, kepalanya terangkat ketika tangan Aaron menaikkan dagunya, hingga manik mereka saling bertemu pandang.
"Kau tidak melupakan tugasmu bukan?"
__ADS_1
Hanya satu kalimat itu, tapi berhasil membuat tubuh Evelyn menegang. Tugas? Sungguh Evelyn tidak bisa melupakannya. Tugas yang menurutnya aneh dan tidak masuk akal yang diberikan oleh pria itu.
Secara refleks, Evelyn menggeleng. Melihat itu, Aaron menipiskan bibirnya.