Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Perhatian Aaron


__ADS_3

Baiklah aku akan mengikuti alurnya. batin Aaron.


"Percaya padaku, aku tidak akan menyakitimu lagi." Ujar Aaron lembut.


Evelyn mengangkat pandangannya, menatap Aaron penuh tanya.


"Be benarkah?" Tanya Evelyn terbata-bata.


"Hmm... aku berjanji."


"Janji?" Evelyn sungguh tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi.


Aaron bersikap lembut padanya? Sungguh hal yang mengejutkan. Batin Evelyn yang masih kebingungan.


"Iya aku janji."


Dengan ragu-ragu, Evelyn mendekati Aaron. Kini keduanya duduk berhadapan tanpa saling bicara. Evelyn hanya menunduk tanpa ingin melihat Aaron yang menatapnya sedari tadi.


"Lanjutkan sarapanmu." Ujar Aaron.


"Ba baik." Dengan gamang Evelyn mengambil sendok dan melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


Entah mengapa sup cream yang tadinya sangat lezat, kini terasa hambar di lidahnya. Aaron menatapnya lekat tanpa ingin melepasnya barang sebentar pun.


"Tu Tuan... Kau tidak sarapan?" Tanya Evelyn hati-hati. Tidak sopan bukan makan tanpa mengajak orang di dekat kita?


"Aku sudah sarapan. Makanlah yang banyak. Kau pasti kelaparan." Jawab Aaron masih terus menatap Evelyn intens.


Aaron memandangi Evelyn dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aaron menyadari perubahan tubuh Evelyn sejak pertama kali bertemu. Gadis ini terlihat sangat kurus dan ringkih, seakan tidak ada daging untuk melapisi tulang-tulangnya. Terbersit perasaan bersalah dalam hati Aaron, ketika mengingat betapa kejamnya dulu dia pada wanitanya ini.


Pandangan Aaron berhenti pada leher Evelyn yang dihiasi kalung permata hitam. Kalung itu. Kenapa bisa...Ibu...


Aaron mengepalkan kedua telapak tangannya geram. Aaron marah melihat kalung peninggalan Ibunya satu-satunya dipakai oleh Evelyn.


"Kalung yang indah." Ujar Aaron tiba-tiba. Evelyn menghentikan suapannya. Melihat Aaron kemudian beralih pada kalung permata di lehernya.


"Sungguh Tuan aku tidak bermaksud." Aaron masih diam. "Aku akan melepasnya kalau Tuan tidak suka." Tangan Evelyn bergerak membuka kalung itu namun ditahan oleh Aaron.


"Jangan. Pakai saja, itu memang milikmu." Ujar Aaron lembut, walau dalam hati Leon tidak rela.


"Kalung itu milik Elinku."


Batin Aaron membayangkan wajah Si gadis cadel yang mencuri pasangan kalung permata hitam miliknya. Senyum Aaron terbit begitu saja membayangkan ketika Si gadis cadel melamarnya. Serta ciuman itu. Bahkan ciuman itu masih terasa sampai sekarang.

__ADS_1


Evelyn terperangah melihat Aaron tersenyum. Senyum yang begitu indah yang tidak pernah Evelyn lihat selama hidup bersama pria itu.


"Tuan yakin?" Ucapan Evelyn membuyarkan lamunan Aaron.


"Hmm jangan dibuka. Tapi ingat jangan sampai hilang." Tutur Aaron tegas.


Evelyn tersenyum, "Baik Tuan. Aku mengerti."


Aaron menyipitkan matanya, jika dilihat lebih intens senyum gadis ini sangat mirip dengan Elinku. Apa mungkin... Ahk tidak mungkin. Batin Aaron.


"Ya sudah lanjutkan sarapanmu. Setelah selesai kau berangkat ke kampus bersamaku." ucapnya.


"Eh Tuan tau aku kuliah?"


"Heh apa yang tidak kuketahui tentangmu." Aaron tersenyum meremehkan.


"Kalau kau mengetahui semua tentang diriku, lalu kenapa Tuan masih menuduhku?"


Ingin sekali Evelyn mengatakan itu pada Aaron, tapi sayang, nyalinya tidak sebesar itu.


Evelyn mengangguk menanggapi ucapan Aaron.

__ADS_1


"Ingat perintahku dengan jelas. Selama kuliah kau tidak boleh melanggar aturanku. Tidak boleh pulang terlambat dari jadwal kuliahmu. Dan satu lagi, jangan berteman dengan sembarangan orang, apalagi laki-laki. Kau mengerti?" Ujar Aaron tegas tak terbantahkan.


"Ba baik Tuan. Aku mengerti." Melihat Aaron dengan kebingungan.


__ADS_2