Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Kebenaran


__ADS_3

Bara berharap ini semua hanyalah mimpi. Berharap tubuh tak bernyawa dalam pelukannya ini bukanlah Evelyn, kekasih hatinya. Tetapi harapan itu tidak sesuai kenyataan, Evelyn benar-benar tidak tertolong lagi.


"Elin..." entah sudah berapa kali Aaron meneriakkan nama itu. Tetapi gadis dalam dekapannya tidak menyahut.


"Bangun Evelyn, kumohon jangan mempermainkanku... Bangun..." bisik pria itu penuh harap.


"Evelyn. Kau sedang bercanda bukan. Kau hanya ingin menghukumku bukan? Jika kau memang sedang menghukumku, kumohon jangan seperti ini, sayang.... Aku tidak suka dengan caramu." pria itu meracau bagaikan orang gila.


Mengecupi seluruh wajah gadis yang terlihat pucat tak berdaya itu, "Evelyn...kumohon bangun...."


"Tuan." tiba-tiba anak buahnya masuk, menghormat padanya.


Aaron tidak menyahut maupun menoleh. Fokusnya hanya tertuju pada seonggok tubuh yang mungkin sudah tidak bernyawa lagi.


Anak buah itu menunduk penuh hormat, enggan mengganggu Tuan mudanya yang belum pernah memperlihatkan reaksi tidak berdaya seperti saat ini.


"Kami telah melumpuhkan dalang dibalik penculikan ini Tuan." lapor pria itu.


Seketika Aaron menoleh dengan tatapan tajam, penuh Bara yang tidak terpadamkan. Seolah mengerti tatapan Aaron, anak buah itu memberikan isyarat pada pasukan lain yang berada di luar.


Segerombolan pasukan bersenjata, membawa dua orang pria tua yang sudah dilumpuhkan. Manik Aaron seketika membola dengan sempurna. Apalagi saat melihat pria dengan bekas luka di mata kanannya.


"Zen..." bibirnya bergetar kala memanggil nama sosok yang selalu berharga di hatinya. Aaron hampir kehilangan kendali, ingin mendekat dan memeluk pria tua itu. Tetapi tertahan saat dirinya tersadar.


"Apa maksud semua ini?!" Aaron tidak ingin apa yang ada dalam pikirannya ini adalah kenyataan.


Lelaki tua yang dipanggil Zen itu tersenyum menyeringai. Seolah puas akan reaksi Aaron baru saja. "Ada apa Aaron? Kenapa kau begitu terkejut? Apa ada yang salah?" meski sudah dibekuk, pria itu tidak menunjukkan raut ketakutan sedikit pun.


Aaron memejamkan matanya. Dia tidak sebodoh itu untuk memahami maksud perkataan Zen. Tetapi akal sehatnya masih belum bisa menerima kenyataan ini. Zen, pria yang sudah dianggapnya seperti Ayah sendiri. Sosok yang selalu ada untuknya disaat dirinya begitu terpuruk dan rela mati hanya untuk dirinya.


Aaron hampir kehilangan kewarasannya, pria itu menjadi lemah.

__ADS_1


"Ck. Kau sudah menjadi bodoh rupanya. Bukankah dulu aku sidah mengajarimu dengan baik? Kemana Aaron Lisin, si jenius yang dapat menyelesaikan semua masalah?" ucap Zen dengan sarkas.


Setelah mengatakan itu, Aaron masih belum bisa menerima semua ini. Mengetahui fakta bahwa Zen yang ternyata telah mengkhianatinya selama ini sangat sulit diterima oleh akal sehatnya.


"Biar kujelaskan saja." Zen berdecak tidak sabar, "Ini aku Zen, Aaron. Paman kesayanganmu." penuh sindiran yang begitu sinis, seolah jijik mengatakan hal itu, "Paman yang kau anggap seperti dewa penyelamat, yang kau kira telah mati enam belas tahun lalu." tawa mengerikan memenuhi ruangan itu.


"Aaron... Aaron... kau sama bodohnya dengan Gennady. Kalian berdua sama-sama tertipu dengan semua tipu muslihatku. Hampir saja aku berhasil menguasai apa yang kalian miliki, tapi sayang semuanya gagal karena ayahmu menyadari perbuatanku."


"Hari itu, tepat hari kematian Ayahmu. Gennady ingin membongkar semua perbuatanku, tetapi sebelum hal itu terjadi, aku membunuhnya." tanpa merasa bersalah sedikitpun Zen mengakui semua pengkhianatannya.


"Zen..."


"Ya. Ada apa keponakan tersayang?" sahut Zen dengan seringainya.


"Kenapa?" lirih Aaron. Tidak ada yang tau bagaimana perasaan pria itu saat ini. Di hadapan mayat istrinya, dirinya harus mengetahui pengkhianatan sosok yang selama ini digadang-gadang sebagai penyelamatnya.


"Maksudmu alasanku berbuat seperti ini?" tebaknya. "Tidak ada alasan yang pasti. Ayahmu juga tidak punya masalah apa-apa denganku. Hanya saja aku yang terlalu serakah ingin memiliki semua harta Gennady." ucap Zen tanpa merasa malu sedikit pun.


"Cukup. Bawa mereka pergi!" perintah Aaron.


"Kau tidak ingin menghabisiku Aaron?" ucap Zen yang sengaja memancing Aaron.


"Tutup mulutmu sialan!" umpat Morrone yang sedari tadi tidak berdaya oleh anak buah Aaron. Apalagi saat melihat putra satu-satunya bersimbah darah di lantai sana.


Tidak peduli dengan Morrone, Zen melanjutkan ucapannya. "Aku yang sudah membunuh Ayahmu Aaron. Tidakkah kau ingin membalasnya?"


"Pergilah sebelum aku benar-benar akan menghabisimu!" ancam Aaron tanpa ingin melihat wajah pria itu, sesekali wajah pucat gadis di pangkuannya meredakan amarahnya. Tetapi dengan kehadiran Zen di tempat ini, emosinya kian memuncak.


"Bawa dia pergi!" perintahnya sekali lagi.


"Ibumu...."

__ADS_1


Satu kata itu, membuat Aaron mematung. "Kau tidak penasaran siapa yang membunuh ibumu?"


"Tutup mulutmu!" sentak Aaron kemudian mengacungkan senjatanya tepat ke arah kepala Zen. Hampir saja timah panas itu melesat dan bersarang di kepala Zen, namun gagal oleh karena pergerakan sosok mungil di atas pangkuannya.


"Evelyn..." membuang senjatanya kemudian menunduk untuk melihat kekasih hatinya.


"Evelyn?" panggil Aaron lembut, memperhatikan Evelyn yang berusaha membuka matanya. "Bangun sayang." mengusap kepala gadis itu, berusaha untuk menyadarkannya.


"Kak Aaron..." suara itu begitu lemah memanggil namanya.


"Ya. Ini aku."


Evelyn berusaha menyentuh wajah Aaron, dengan lembut Aaron meraihnya dan menempelkan tangan mungilnya di wajahnya.


"Terima kasih telah kembali." memeluk tubuh Evelyn begitu erat seolah takut kehilangannya.


Semua orang di ruangan itu, menyaksikan kisah dramatis Aaron dan Evelyn. Zen yang awalnya sudah puas dengan kematian Evelyn, yang berarti jika Evelyn tiada, sama saja membunuh Aaron secara perlahan. Tetapi kini, Evelyn ternyata tidak benar-benar mati.


Saat matanya melihat celah, saat itu juga Zen mengambil kesempatan. Pria tua itu merampas senjata salah satu anak buah di sana. Tanpa membuang kesempatan mengarahkan senjatanya ke arah pasangan itu.


Door!!!


Dalam sekali tarikan pelatuk, timah panas itu langsung tepat sasaran.



TBC ☘️☘️☘️


DOOR MATI KAMU!!! 🔫🔫🔫


CEPAT VOTE🔪🔪🔪

__ADS_1


__ADS_2